Hana melihat lengan Joshua. Ada tato lagi di sana.
"Kenapa nambah lagi tatonya? Satu aja, kan cukup." Hana menasehati Joshua.
"Orang kalau sudah mentato dirinya akan ingin terus membuat tato lagi dan lagi."
"Mau bikin tato sampai penuh semua tangan?"
"Iya." Joshua sudah merencanakan akan membuat tato di seluruh lengannya.
"Tapi ... nanti nggak mau nerima kamu jadi mantu."
"Jaman sudah berubah. Tato bukan lagi hal terlarang. Lagipula ayah kamu bakal terima aku."
"Maksudmu?" Hana tidak mengerti arah pembicaraan Joshua.
"Aku yakin ayahmu akan menerima aku jadi mantunya."
"Maksudnya? Kamu mau nikah sama adik aku? Tapi aku nggak punya adik." Hana masih nggak mudeng.
"Aku itu mau lamar kamu."
"Hah!? Tapi kita itu cuma teman."
"Kalau teman nggak boleh nikah gitu?"
"Kamu suka sama aku?"
"Kalau nggak suka, kenapa aku mau minta kamu sama ayah kamu. Kamu nggak suka aku?"
"Suka. Sangat suka."