Hana hendak meneguk air di dalam gelas yang berisi racun. Ia ingin pergi ke alam baka untuk menemui kekasihnya yang baru saja meninggal.
Tapi untung ada Joshua yang melihatnya. Ia langsung merebut gelas itu dari Hana. Hana berusaha merebut gelas itu dari Joshua.
"Berikan kepadaku. Aku mau menemui Lucas." Hana berkata dengan lirih.
Lucas langsung membuang isi gelas itu.
"Apa dengan meminumnya, kau akan menemui Lucas? Tidak. Tidak, Hana. Kau tahu betul orang yang bunuh diri itu akan langsung masuk neraka. Sedangkan saat ini Lucas sudah berada di surga. Walaupun kau mati, kau tetap tak kan bisa menemuinya."
"Tapi ... Aku nggak bisa hidup tanpa dia."
"Hana ... sadar. Lucas sudah meninggal. Ia juga akan sedih melihatmu seperti ini."
Setiap hari sejak kematian Lucas, Hana selalu menangis. Ia begitu mencintai Lucas.
Padahal satu bulan lagi kami akan menikah.
Tapi ...
Kenapa ...
Kenapa ...
Kau pisahkan kami.
Hana protes kepada Tuhan.
Joshua terus mengawasi Hana. Percobaan bunuh diri yang pertama gagal. Tapi kemungkinan besar akan ada percobaan yang kedua.
Hana malam itu bermimpi. Ia bertemu Lucas. Ia memeluk Lucas dengan erat.
"Semua sudah takdir. Kau harus bisa menerimanya." Lucas berkata.
"Aku ingin tetap di sini bersamamu."
"Tidak bisa. Belum waktunya kau ada di sini. Di dunia sana masih ada yang membutuhkanmu."
"Siapa?" Hana bertanya.
"Joshua. Ia begitu mengkhawatirkanmu. Lihat ia lebih seksama. Ia juga mencintaimu. Melebihi diriku. Kau akan bahagia bersamanya."
Lucas perlahan menghilang.