Beberapa jam lagi pergantian tahun akan datang. Tempat ini sudah ramai dikunjungi oleh orang-orang yang ingin menikmati malam tahun baru bersama dengan perayaan kembang api.
Tempat ini berada di pinggir danau buatan yang cukup luas. Pengunjung yang datang akan membawa tikar dan duduk lesehan sembari memakan bekal yang mereka bawa atau membeli di pedagang sekitar.
Termasuk Sania, dia datang bersama dengan teman kampusnya. Sebenarnya Sania sudah lama memperhatikan temannya ini, sudah lama pula memiliki perasaan padanya. Jadi hari ini Sania berniat ingin mengutarakan perasaannya di tempat ini. Tentu dia sudah menyiapkan mental jauh-jauh hari hingga hari ini datang.
Namanya adalah Wira, seorang pemuda yang cukup populer di kampus. Wira cukup dekat dengan Sania di kelas, mereka sering mengerjakan tugas bersama-sama. Hari ini Wira sengaja mengajak Sania ke tempat ini untuk menikmati momen pergantian tahun.
Sania dan Wira memiliki tempat tersendiri dan agak menyingkir dari pengunjung lain. Ada sebuah bangku di sana. Letaknya sedikit lebih tinggi dan cukup sepi. Hanya ada mereka berdua.
Keduanya duduk di bangku itu dengan membawa jagung bakar di tangan masing-masing. Tadi sebelumnya mereka membeli jagung bakar terlebih dulu untuk mengganjal rasa lapar yang mendera.
Sania menikmati jagung bakarnya dalam diam, sesungguhnya dia merasa gugup saat ini. Juga sedang mencari momen yang tepat untuk mengutarakan perasaannya. Dia sudah sangat siap apapun yang akan Wira jawab setelah pengakuannya itu.
"Wir," panggil Sania.
"Kenapa, San? Seret, ya? Lo sih tadi ditawarin beli minum nggak mau," jawab Wira.
"Nggak, bukan itu," ucap Sania menggigit bibirnya. "Ckck, abisin dulu deh jagungnya."
Wira hanya mengangguk dan melakukan apa yang diminta Sania. Mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing. Sania menatap air danau yang memantulkan cahaya bulan. Langit hari ini sangat cerah, sepertinya kembang api malam nanti akan sangat indah.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Wira.
"Emm, itu. Gue nggak tau mau mulai dari mana," jawab Sania yang terlihat makin gugup.
Suara kembang api membuat fokus keduanya buyar. Wira spontan menatap jam tangannya, ternyata sudah tengah malam. Sementara Sania masih mengumpulkan semua keberaniannya.
"Wira! Gue suka sama lo!" ucap Sania.
"Hah? Lo ngomong apa? Nggak denger gue," jawab Wira mengernyitkan dahinya.
"Gue su ...."
Sania mendengus karena perkataannya tidak bisa terselesaikan karena suara kembang api yang masih terus menghiasi langit.
Sania menarik napas dalam-dalam sebelum mengatakan maksudnya.
"WIRA! GUE SUKA SAMA LO!" teriak Sania.
Namun, ternyata kembang api itu sudah berhenti. Tentu hal itu membuat suara Sania terdengar sangat jelas bahkan seperti sebuah bentakan. Dia terdiam dan wajahnya seketika memanas. Begitu juga dengan Wira yang terlihat sangat terkejut. Cowok itu menatap Sania yang juga terlihat syok.
"Lo nggak perlu langsung jawab! Gue cuma mau kasih tau aja," ucap Sania cepat.
"Gue bakal jawab sekarang juga," kata Wira menatap Sania serius.
"Hah?"
Bersamaan dengan kembang api yang kembali menghiasi langit malam ini juga bunyi terompet, Wira mencium bibir Sania sebagai jawaban atas pengakuan gadis tadi.
Sementara Sania membeku di tempatnya dengan mata berkedip, masih belum sadar apa yang sedang terjadi. Wira menjauhkan wajahnya dan menatap Sania yang wajahnya sudah sangat merah.
"Itu jawaban gue," ucap Wira tersenyum.
Sania menatap Wira tak percaya. Banyak pertanyaan dalam otaknya saat ini. Namun, mendadak semuanya hilang ketika benda lembut itu menyapu bibirnya.
🎆🎆🎆