Apakah aku harus tahan semua ini? Dan..sampai kapan aku harus bertahan?
Aku menyunggingkan senyuman manis ku pada semua orang. Sedang, diriku sendiri merasakan yang namanya sakit tak berdarah. Bukan sakit di luar, melainkan sakit batin.
Aku terus tersenyum dan menghibur kalian yang bersedih. Tanpa kusadari, aku malah tidak memperdulikan diriku yang lebih terluka dibanding mereka.
Seperti topeng yang tersenyum, namun...di dalamnya terdapat kesedihan yang amat dalam. Tidak ada yang bisa mengerti diriku. Mereka menganggap, aku yang selalu tersenyum ini adalah orang yang bahagia dan tidak ada rasa kesedihan sedikit pun.
Orang tuaku meninggal sejak aku kecil, sahabatku berpaling saat aku beranjak dewasa, saudara ku membuangku, temanku menghinaku, semua orang membenci ku. Apa itu belum cukup untuk membuat kalian puas? Apa kalian tidak pernah berpikir bagaimana perasaan ku selama ini?
Aku yang menguatkan kalian disaat lemah, aku yang selalu ada di samping kalian saat kalian putus asa, aku juga yang menyemangati dan menghibur kalian agar bangkit.
Di depan semua orang, aku selalu tersenyum. Seakan tidak terjadi apapun dan hidupku selalu dipenuhi kebahagiaan. Namun, tentu saja itu semua hanya di depan! Tanpa kalian tahu, aku menyimpan kesedihanku sendiri.
Mengapa? Karena, kalian tidak akan pernah mengerti aku. Bahkan, jika aku membuka topeng kebahagiaan itu, kalian tidak akan memperdulikan semua rasa sakit yang kualami.
"Ibu...ayah...kalian sedang apa di atas sana? Aku merindukan kalian! Bu....Ayah... Dari dulu, hanya kalian yang bisa mengerti aku..hiks" air mata mengalir di wajah wanita itu, ia tidak berhenti menangis mengingat kedua orang yang sangat berharga baginya.
"Ya Allah, kapan aku harus bertahan? Kapan aku harus menyembunyikan kesedihanku seperti ini? Kapan aku bisa membuka topeng ini?" batin wanita itu yang tidak berhenti-henti menangis.
Wanita itu berdiri lemah, ia berjalan ke kamarnya, dan melihat sebuah album.
Kehangatan, cinta, dan kasih sayang masih tampak di foto-foto yang tersimpan di album itu. Sungguh, aku merindukan masa-masa itu.
Tapi, masa lalu tetaplah masa lalu. Masa itu tidak akan kembali lagi.
"Cinta? Kehangatan? Kasih sayang?...bahkan, sekarang aku sudah tidak percaya semua itu. Itu hanyalah masa lalu yang dikenang, tapi tidak akan bisa kembali lagi.." ucap wanita itu dengan raut wajah sedih.
"Mungkin, aku memang tidak berhak untuk bahagia" tambahnya sambil tersenyum pahit.