"Elangggg.... Astaga masih belum bangun juga. " teriak seseorang sambil mengguncang guncangkan badannya.
"Berisik, masih pagi juga. Tunggu 5 menit lagi. " gerutu Elang sambil menarik selimut lagi.
"5 menit kepala lu pe'ak. Ini sudah siang bego. Lu mau terlambat di hari penting kita apa. " ucapnya sambil menarik selimut Elang.
"Emang sekarang tanggal berapa sih? . " ucapnya lagi.
"Sekarang tanggal 24 bulan Oktober. " jawab si empunya.
"Apaaa." teriak Elang terkejut.
Di tatap nya orang yang sudah berusaha membangunkannya. Dia tersenyum dengan penuh kesal.
"Kenapa gak bilang dari tadi Ari. " ucapnya.
Dan kemudian langsung beranjak dari tempat tidur nya.
"Sudah dari tadi aku bangunin, dasar kamu nya aja yang tukang molor. Tuh mami kamu dah teriak teriak dari tadi. " omel Ari.
"Iya iya, tunggu di meja makan, aku mau mandi terus kita berangkat bareng. " ucap Elang bergegas kekamar mandi.
Ari hanya mampu menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabat nya itu. Kemudian segera dia keluar dari kamar dan bergabung dengan kedua orang tuanya Elang.
"Gimana Ri, sudah bangun belum? " tanya mamanya Elang.
"Sudah tante. Sekarang lagi mandi. " jawab Ari .
"Apa dia lupa kalau hari ini adalah hari istimewa nya.? " tanya papanya Elang.
"Mungkin saja Om. " jawab Ari pendek.
Tak lama kemudian Elang turun dengan memakai baju resmi. Berkemeja putih dengan celana hitam, sedangkan jas hitam yang selaras dengan celananya, masih ada di tangannya.
"Elang kenapa jas nya belum dipake? " tanya mamanya.
"Mama kan tahu Elang tidak bisa pasang dasinya. " jawab Elang sambil menghampiri mamanya.
"Bilang saja ingin bermanja. " goda papanya.
"Memangnya gak boleh ya Pa. Bilang saja Papa iri. " sahut Elang.
Dan di sambut gelak tawa semuanya. Selesai sarapan pagi Elang dan Ari segera beranjak dari kursinya dan berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk berangkat terlebih dahulu.
"Ingat Pa, Ma jangan sampai terlambat nanti datangnya. Atau Papa dan Mama gak bakal lihat Elang lagi nantinya. " ucap Elang sambil tersenyum.
"Husss kalau ngomong. Jangan khawatir sebelum acara di mulai kami sudah ada di tempat. " jawab mamanya sambil mengelus lembut rambut putranya itu.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Segera mereka berdua bergegas untuk berangkat
Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa jam dinding sudah menunjuk pukul 9 siang.
"Pa, ayo cepat sedikit. Sebentar lagi acara wisuda putra kita dimulai. " tegur mama Elang.
"Iya iya. Astaga Mama. " ucap suaminya dengan terburu buru.
Dalam perjalanan menuju tempat yang di tujuh, tak sengaja kedua orang tua Elang melihat keramaian dipinggir jalan. Dilihat nya sebuah mobil menabrak pembatas jalan, selain itu ada juga kendaraan bermotor yang hancur remuk tak berwujud lagi. Begitu miris melihatnya, apalagi melihat 2 sosok orang yang terbujur dan ditutupi dengan seadanya itu.
"Kasihan ya Pa, seperti nya masih muda. " ucap istrinya.
"Iya Ma. " jawab suaminya pendek.
Tapi entah karena perasaan seorang ibu yang kuat atau apa. Tiba tiba saja istrinya memintanya untuk menghentikan laju mobilnya.
"Kenapa Ma? " tanya suaminya.
"Entah Pa. Perasaan Mama gak enak sekali. Ayo Pa kita lihat siapa tahu mereka membutuhkan pertolongan. " ucap istrinya itu.
Mau tak mau sangat suami menuruti permintaan istrinya itu.
Mereka berdua segera keluar dari mobil dan menghampiri kerumunan tersebut.
Betapa terkejutnya sangat istrinya melihat kedua jasad itu, dia hapal betul apa aksesoris apa yang selalu di kenakan putra kesayangannya. Gelang jam yang di barengi dengan beberapa gelang manik atau seperti tali dan juga cincin hitam berukir namanya.
"Tidakkkkkk." teriaknya histeris.
"Elanggggg." kemudian panggilnya nama putra nya sambil memeluk erat tubuh putranya yang sudah terbujur tak bernyawa.
Suaminya hanya mampu terduduk lemas menyaksikan kepergian putranya itu. Ternyata perjalanan wisuda adalah perjalanan terakhir untuk Elang dan juga Ari.
TAMAT