Hurt, semua orang menyebutku Hurt. Tersakiti. Sedangkan, kekasihku, di sebut Happy, susah senang selalu menari bahagia. Nama julukan yang saling bertolak belakang. Namun, sebenarnya setiap langkah kami selaras menuju tempat yang selalu sama. Sebut saja derita dan bahagia itu selalu berdampingan.
Hingga suatu hari, kata perpisahan itu datang juga, di ucapkan di sebuah cafe favorit kami, 'Tentang Kopi Semarang.'
Sementara itu, satu lagu favoritku dan Happy, terdengar mengalir lembut dari lubang speaker yang menggantung di langit-langit plapond Cafe.
𝘕𝘰𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨'𝘴 𝘨𝘰𝘯𝘯𝘢 𝘤𝘩𝘢𝘯𝘨𝘦 𝘮𝘺 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘧𝘰𝘳 𝘺𝘰𝘶𝘠𝘰𝘶 𝘰𝘶𝘨𝘩𝘵𝘢 𝘬𝘯𝘰𝘸 𝘣𝘺 𝘯𝘰𝘸 𝘩𝘰𝘸 𝘮𝘶𝘤𝘩 𝘐 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘺𝘰𝘶𝘖𝘯𝘦 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨 𝘺𝘰𝘶 𝘤𝘢𝘯 𝘣𝘦 𝘴𝘶𝘳𝘦 𝘰𝘧𝘐'𝘭𝘭 𝘯𝘦𝘷𝘦𝘳 𝘢𝘴𝘬 𝘧𝘰𝘳 𝘮𝘰𝘳𝘦 𝘵𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘰𝘶𝘳 𝘭𝘰𝘷𝘦
"Dengar lirik itu berkata bahwa kau tidak akan tergantikan," ujarku pada Happy.
Hening. Hanya raut gelisah di wajah Happy.
"Ada apa denganmu?" tanyaku setelah kebisuan pria itu membuatku turut tenggelam dalam laut gelisah.
"Hurt, kita putus!" Satu kalimat itu bagai petir menembak kepalaku.
Sungguh! Saat ini jantungku berhenti berdetak. Aku lupa cara bernapas.
Happy mengajak putus! Oh, tidak!
"Mengapa?" tanyaku penuh kesedihan.
"Aku merasa nama kita tidak cocok. Itu saja. Feng shui, tidak bagus!"
Klise. Jawaban yang sangat tidak masuk akal.
"Siapa guru ramal itu?"
"Rahasia!"
"Apakah kau sendiri meramal hubungan kita?"
Happy terkesiap. Menggelengkan kepala.
Aku ingin menangis saat ini. Namun, aku menahannya. Aku memeriksa tanggal. Mungkin hari ini adalah 1 April mop. Ternyata, tidak!
"Happy, kau memiliki kebiasaan meramal tidak akurat. Bahkan kau bilang hari ini akan hujan. Ternyata, selama satu Minggu tidak hujan." Aku berusaha menenangkan diriku. Aku berharap, Happy hanya bercanda.
"Hurt! Kita tidak cocok!"
"Aku menolak alasanmu!"
"Hubungan yang bagus adalah menurut Feng Shui. Kau dan aku, tidak cocok!" tegas Happy, sepasang matanya terlihat membola kehilangan simpatik terhadap sepasang mataku yang membola berkaca.
"Feng shui apa? Kita memiliki keyakinan yang sama. Bahasa ibumu aku mengerti. Seluruh, sejarah kakek nenek moyangmu pun aku tau. Bahkan aib kecilmu, aku pun tahu."
"Nama kita tidak cocok! Feng shui kita tidak bagus!"
"Konyol!
Happy berdiri. Meletakkan uang seratus ribu.
"Biarkan aku membayar kopi milikmu hari ini, Hurt!"
"Happy!" Aku berdiri, ingin rasanya aku melempar secangkir kopi ke wajah pria itu. Namun, aku mengurungkan niatnya kala seluruh pandangan setiap mata telah tertuju padaku.
Happy hanya melambai. Menoleh dengan lesu, dan berkata, "Feng shui hubungan kita tidak cocok!"
Happy melenggang pergi meninggalkan diriku dalam lamunan panjang. Aku duduk terdiam menangis sesenggukan, dan meraup uang seratus ribu itu. Lalu, meletakkan pada meja kasir. Bersiap akan pergi. Kasir mencegahku.
"Kembaliannya?"
"Simpan saja. Aku tidak mau menyimpan sisa uang pria yang menyakiti hatiku hanya karena ramalan dia, berkata nama kami tidak cocok."
Aku melangkah pergi. Membiasakan diriku dengan kesedihan yang sengaja di buat oleh Happy. Aku mencabut papan nama Hurt yang bergantung di belakang pintu.
"Aku akan kembali menggunakan nama asliku. Karena, nama Hurt itu sebenarnya hanya di tujukan sebagai sindiran! Topeng yang berurai air mata. Namun, iblis dalam diriku adalah antogonis."
Aku berhenti pada titik ini. Menangis tiada gunanya. Namun, dua Minggu kemudian aku mengetahui jika Happy telah berkencan dengan seorang gadis yang baru dia kenal.
Rasa penasaran dan rasa sakit hatiku bercampur. Aku mulai mencari tau sosok wanita itu. Aku-pun mengetahui nama julukan wanita itu adalah, Unlucky girl!
"Menyedihkan! Berpisah dengan Hurt. Merajut dengan Unlucky Girl!"
Aku mulai mencari tau segala hal tentang Unlucky Girl. Setelah mengetahui setiap berkas penyelidikanku. Aku terperangah dengan seluruh kebencian yang menguap.
"Happy, kau bilang nama kita tidak cocok dengan Feng shui. Sedangkan kau dan dia pun bagai bumi dan langit, julukannya saja Unlucky girl. Kau dan dia, beda agama, beda status tembok pula!"
Aku mengepalkan tinjuku dan menatap foto mesra wanita pria itu, "Aku akan membuat kalian memiliki nama yang sama. Topeng yang sama. Sad Boy and Sad Girl."
Aku menghela napas. Menemui Happy dengan senyum melengkung, dan wajah bahagia.
"Kita belum putus. Kau selingkuh di belakangku, Happy!"
"What?"
"Jangan menyebut Feng shui! Kau membohongiku. Kau dan dia pun bagai bumi dan langit perbedaaanya."
"Kisah kami begitu rumit!"
"Yang rumit kau kejar. Yang mudah, kau hempaskan!"
Happy menahan napas. Pergi meninggalkanku. Semenjak itu, bagai bom waktu yang datang padaku pasangan itu terus menerorku agar berhenti mengejar Happy. Kini, aku telah menjadi Hurt selamanya. Dengan banyak hal yang mereka sebut-sebut dan koarkan, tanpa mampu membedakan apakah itu hanya ilusi Happy atau tebakan Unlucky Girl.
Setelah hari itu, aku memutuskan pergi. Meninggalkan pasangan buta itu.
***
Berhenti mencintai seseorang, persamaan bukan di anggap hal yang menarik lagi. Bahkan, jika kau mencintai seorang, sebesar apapun perbedaan, akan tetap selalu bersama.