Aku mengenalmu hanya sesaat di suatu momen. Merasa di perhatikan dalam suatu kondisi tertentu di antara banyak manusia membuat ku tersanjung dengan perlakuan dia. Yaah dia adalah Vincent seseorang yang tidak ku kenal awalnya. Namun kehadirannya seakan telah memberi ruang di hati ku dan telah memberi kesan mendalam dalam perjalanan studi ku, sehingga membuatku untuk terus mencari tahu siapa dia sebenarnya.
Sebulan kemudian...
Aku telah mengetahui bahwa dia adalah seorang Direktur pada suatu perusahaan yang letaknya ternyata hanya di depan sekolah ku. Menjadi seorang paparazi hanya demi untuk memperhatikan dia dari jauh adalah kebahagiaan tersendiri untukku.
Bahagianya sesaat ketika melihat dia melintas tepat di depanku, saat aku menuju ke suatu tempat untuk melanjutkan pendidikan. Tanpa ku sadari itu adalah saat-saat yang paling bahagia mewarnai setiap hari ku selama menjadi anak didik di sekolah itu.
Sampai pada suatu momen, kehadirannya tidak pernah ku lihat lagi.
"Kemanakah dirimu, apa yang sedang kau lakukan, mengapa aku tidak pernah melihat mu lagi, pemandangan indah itu tidak pernah ku lihat lagi, sosok pria tegap, tampan yang selalu duduk di balik meja kerja yang setiap hari terpancar oleh sinar matahari pagi yang sering ku pandangi dari lantai dua?", gumam ku saat itu.
Ada rasa kehilangan saat itu, dan aku tidak tahu mengapa rasa itu kerap kali hadir setiap dalam kesendirianku ketika menatap seberang jalan itu.
Waktu berlalu begitu cepat...
Aku telah bekerja pada suatu perusahaan. Lima Tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan segala rasa. Namun ada fase ketika Tuhan kembali mempertemukan kita.
"Teman-teman ayo makan siang", ajak aku pada teman-teman yang pada sibuk dengan dunia kerjanya masing-masing.
"Pekerjaan ku belum selesai Savira", kata Desi teman aku
"Sesibuk apapun sempetin untuk makan dong, setelah itu baru lanjut kerja lagi, ayo..", kata aku lagi untuk memaksa mereka menghentikan aktivitasnya. Namun usahaku sia-sia.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi sendiri mencari makan untuk mengganjal perutku yang sudah dari tadi keroncongan dan untuk mengatasi kegabutanku aku memutuskan untuk jalan kaki di sekitarnya, mumpung cuacanya lagi mendung seakan mengerti dengan situasi saat itu.
Ketika keluar kantor aku iseng aja berjalan melewati beberapa rumah warga di sekitar, sampai akhirnya kaki ku terhenti di sebuah rumah makan sederhana. Aku menemukan menu yang aku suka di situ, jadi aku memutuskan untuk singgah di tempat itu.
Kaki ku terus melangkah sampai ke arah belakang seakan memaksaku untuk bertemu langsung dengan chef nya, dan apa yang aku lihat di sana adalah sosok pria yang penuh kharismatik yang dulu pernah memenuhi ruang hatiku. Dia sedang duduk menyantap makan siang, dengan menggunakan setelan jas warna hitam yang membuatku kaget melihat pesonanya saat itu.
Degupan jantungku tak karuan, tidak beraturan lagi. Dan akhirnya aku memutuskan untuk berlalu, berlari menjauh dari tempat itu. Setelah sampai di depan kantor, seorang satpam menegur ku.
"Ada apa Neng, seperti di kejar sesuatu tapi kok saya perhatikan gak ada yang di belakang Neng Savira".
"Tidak apa-apa, bapak masuk aja kedalam", kata ku kepada satpam itu sambil terus menetralisir rasa yang terus berdegup tidak karuan itu.
"Kok aku lari yaa?, kenapa aku harus menghindarinya, toh dia juga tidak kenal aku?", gumam aku setelah menyadarinya. Saat itu pertama kalinya aku menertawakan diriku sendiri.
"Kamu gila ya Savira, mengagumi seseorang sampai sedalam ini, sehingga membuat rasa lapar mu seketika hilang begitu saja", kata hatinya.
Dibawah pohon rindang depan kantor itu, Savira masih menikmati momen beberapa menit yang lalu yang seketika telah menghapus rasa laparnya.
"Beberapa Tahun telah berlalu, apa kabarnya dia ya, pasti dia sudah menikah", kalimat-kalimat itu akhirnya terucap, harapan itu sepertinya buyar.
Aku hanya masih terus tersenyum mengingat betapa cepatnya langkah ku ketika berlari saat melihat dirinya, sementara dia yang tidak tahu apa-apa dan siapa aku.
Kehidupan terkadang membuat kita terjebak dalam sebuah rasa yang tidak seharusnya ada jika kehadirannya hanya sepihak. Berusaha memaklumi situasi, namun seiring berjalannya waktu rasa ini terus ada dan semakin bersemayam dalam hati.
Salahkah aku jika rasa ini telah lama memenuhi ruang hati? Aku menyadari bahwa tidak pernah memilih untuk menambatkan hati ini kepada siapa, tapi apakah aku salah ketika rasa ini telah memilih kepada siapa dia harus menetap? 😊🥰