di sudut ruangan kulihat topeng milik ayahku yang terawat, topeng itu sangat dirawat oleh ayahku hingga suatu hari aku mencoba untuk memegang topengnya
" hei, kamu sudah diperingati kok bandel sih!! " marah ayah
" aku hanya ingin memegangnya yah" kataku
" tidak boleh!! sekali tidak tetap tidak " marah ayah
aku menjauh dari topeng itu tapi semakin aku menjauh semakin aku penasaran ada apa dengan topeng itu, apakah topeng itu keramat atau apapun itu aku hanya ingin menyentuhnya
kulihat ayah sedang membersikan topeng itu dengan sangat hati hati, dalam hati aku berpikir
" ayah kenapa kok jadi aneh sih? setiap hari topeng dari pagi sampai malam topeng memang kurang kerjaan " kataku dalam hati
aku bertemu dengan temanku Sitara
" Na, kamu ada kegiatan gak besok minggu? " tanya Sitara
" nggak sih memang kenapa? " tanyaku balik
" aku mau ajak kamu ke taman buku " jawab Sitara
" aku ikut dong, ya boleh ya " kataku memohon
" ok, minggu besok ya jangan lupa " kata Sitara mengingatkan
di rumahku
" yah besok minggu aku mau ke taman buku boleh ya " kataku memohon kepada ayah
" ke taman buku, jangan lebih baik ke taman bunga sana " kata ayah panik
" kenapa sih yah kok dilarang " kataku ngambek
" kamu kalau minggu jangan ke taman buku banyak orang " jelas ayah
aku langsung berlari menuju kamarku
" ayah kenapa sih, kok gak bolehin aku ke taman buku " kataku sedih
" mungkin ini ada hubunganya dengan topeng itu " kataku curiga
" kalau begitu aku akan ke taman buku besok minggu " tekadku
hari sabtu
" aduh aku gak punya jas detektif lagi gimana ya " kataku sambil berpikir
" aku ada ide nih besok pakai baju apa " kataku dengan mata berbinar
sore harinya
" ayah aku minta uang boleh gak? " tanyaku
" buat apa sayang? " tanya ayah lembut
" buat ke taman besok " jawabku
" tapi cuma ada uang receh " kata ayah sedih
" gak apa apa kok yah aku terima " kataku dengan mata berbinar
hari minggu
" Sitara..... Sitara.... ayo katanya ke taman " panggilku
" iya bentar, hahahahahahaha kamu kok pakai jas hujan kan gak hujan " tawa Sitara
" aku mau nyelidiki sesuatu jadi aku batalin ke tama bareng kamu kapan kapan aja " jelasku
" oh yaudah gak apa apa " kata Sitara
aku segera menggayuh sepedaku ke arah taman buku
" itu sepertinya topeng ayah " kataku sambil melihat seorang pengamen yang memakai topeng badut
" aku akan mengikuti ke mana dia akan pergi " gumanku sambil mengikuti pengamen tadi
aku terus mengikuti sampai di tempat yang sepi aku melihat pengamen tadi melepas topeng
dan benar itu ayah, aku segera berlari menuju ka arah ayah
"ayah, ternyata alasan ayah merawat topeng itu adalah ini " kataku sambil meneteskan air mata
" iya nak maafkan ayah, ayah yang gak bisa mencukupi kamu " kata ayah sedih
" nggak yah, aku yang selama ini ngabisin uang ayah " kataku sambil menangis di pelukan ayah
" maafkan ayah nak ayah belum bisa membahagiakan kamu " kata ayah yang mulai meneteskan air mata
" ayah bisa saja merampok dan kita langsung kaya tapi itu tidak halal nak " jelas ayah
" mengamen itu lebih baik daripada merampok atau mencuri " tambah ayah
" iya ayah aku akan selalu menggingat pesan ayah " kataku sedih
" ayo kita pulang lalu mandi dan kita makan ya " ajak ayah
" siap yah " kataku sambil menghapus air mataku
" aku berjanji akan menjadi anak yang baik " tekadku dalam hati
TAMAT
maaf kalau singkat ya