Malam yang sunyi. Seorang gadis berseragam SMA tengah berjalan melewati sebuah gang menuju ke rumahnya.
Namun seketika langkahnya terhenti saat ia mendengar suara aneh tak jauh darinya. Suara yang terdengar seperti gesekan benda tajam, itulah yang di dengar gadis itu.
"Suara apa itu?"
Gadis itupun memberanikan diri untuk mencari sumber suara tersebut. Perlahan tapi pasti, gadis itu melangkahkan kakinya meskipun rasa takut terbesit di hati kecilnya.
Jleb!
Jleb!
Jleb..!
Seketika gadis itu terkejut bukan main, melihat seorang paruh baya tengah ditusuk berkali-kali dengan sebilah pisau oleh sosok misterius.
Ketakutan kini melanda dirinya. Kedua kakinya langsung lemas. Diam-diam ia melangkah mundur, takut jika sosok misterius itu melihat dirinya. Tentu saja ia tak mau terlibat, apalagi jika sampai mengalami hal yang sama dengan si paruh baya itu.
Kretekk..!
Tanpa sengaja gadis itu menginjak sebuah botol. Gadis itu semakin gemetar saat sosok misterius itu menatapnya. Dari postur tubuhnya, dapat dilihat bahwa sosok itu laki-laki. Namun sayang, wajah sosok itu tertutup rapat oleh sebuah topeng.
Dengan sekuat tenaga, gadis itu langsung berlari. Mencoba kabur dari sosok itu. Namun sayang, sosok bertopeng itu malah mengejarnya.
"Aaaa!!!"
Gadis itu menjerit. "To-tolong.. Ja-ngan bunuh aku..".
Kini gadis itu sudah dalam dekapan sosok bertopeng tadi. Sebilah pisau yang berlumuran darah menempel di leher gadis itu.
"Shhtt.. Jangan berisik, oke?"
Gadis itu mengangguk gemetar. Keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Sekilas ia melirik pisau yang menempel di lehernya itu. "Pisaunya?" pikir gadis itu disela ketakutannya.
"Lupakan apa yang kau lihat tadi.. Anggap kau tidak pernah melihatnya. Dan tutup mulutmu rapat-rapat. Dengan begitu, hidupmu tidak akan dalam bahaya.. Mengerti?" ancam sosok bertopeng itu.
Lagi-lagi gadis itu mengangguk. Mulutnya serasa rapat membisu. Dirinya baru bisa bernapas lega saat sosok itu menarik kembali pisaunya.
"Sampai jumpa."
Gadis itu langsung terduduk lemas. Menatap kepergian sosok bertopeng itu. Ia pun menyentuh lehernya. Tak tergores sedikitpun!
"Tenang, Lea.. Kau tidak melihat apapun, oke? Lupakan yang tadi.. Kau tidak melihat apapun.." ucap gadis itu menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi aku melihat itu.. Bagaimana aku bisa melupakan itu.. Hiks! Dasar pembunuh bertopeng sialann!" teriak gadis itu merengek.
Berulang kali gadis itu memukul dadanya pelan. Mencoba menenangkan dirinya. "Tidak apa Lea.. Lupakan! Lupakan!"
Gadis bernama Lea itupun memutuskan untuk pulang. Melupakan pemandangan sadis yang ia saksikan tadi.
Namun siapa sangka, bahwa malam ini merupakan malam tersialnya. Saat Lea tengah melewati gang lain, tiba-tiba sekelompok laki-laki mencegatnya.
"Halo, cewek..!"
"Malem-malem mau kemana??"
"Mau abang anterin nggak?"
Lea tak menghiraukan mereka semua. Ia pun berusaha untuk melewati mereka. Namun sekelompok laki-laki itu tak tinggal diam. Salah satu dari mereka langsung mencekal tangan Lea.
"Lepasin nggak!!" tegas Lea berani.
"Utututu.. Kalo abang nggak mau gimana?" ucap laki-laki itu menyeringai.
"Lepasin, atau aku bakal teriak!" bentak Lea meronta.
"Coba aja teriak,, nggak bakal ada yang nolong kamu, cantik.."
"Tolongggg! Tol-"
Bugh!
Seketika laki-laki yang mencekal tangan Lea jatuh tersungkur. Lea bingung. Saat ia menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia.
Ternyata yang menolongnya adalah sosok bertopeng tadi. Masih dengan sebilah pisaunya, sosok itu menghabisi sekelompok laki-laki yang mengganggu Lea.
Darah berceceran dimana-mana. Membuat Lea kembali gemetar. Sosok bertopeng itu pun kini mendekat ke arah Lea.
"Berhenti! Ja-jangan mendekatt!!" teriak Lea ketakutan.
Namun sosok bertopeng itu tak mendengarkan Lea. Ia tetap berjalan ke arah Lea.
"Kubilang berhenti!! Jangan mendekatt!!" bentak Lea makin ketakutan. Ia terus melangkah mundur, hingga membuatnya terpojok di dinding.
Sosok itu terus mendekat. Membuat kaki Lea lemas saking ketakutannya. Lea pun jatuh terduduk.
"Tolong.. tolong jangan sakiti aku.. Aku.. aku berjanji akan tutup mulut! Ja-di tolong biarkan aku hidup, hiks.. hiks!" tangis Lea tak terbendung lagi.
Sosok bertopeng itu kini sudah di hadapan Lea. Ia berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Lea.
"Aku tidak akan membunuhmu.." ucap sosok itu. Tangannya meraih wajah Lea agar mau menatapnya. Perlahan tapi pasti, sosok itu pun membuka topengnya.
"Kau tidak mengenaliku, Lea??"
Seketika kedua mata Lea membulat sempurna. Menatap sosok yang kini ada di depannya.
"K-Ka-kau?!!"
.
.
**The End**
.........................................................................
👉𝙿𝚎𝚛𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊𝚊𝚗 𝙰𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛
- 𝙼𝚎𝚗𝚞𝚛𝚞𝚝 𝚔𝚊𝚕𝚒𝚊𝚗, 𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚜𝚘𝚜𝚘𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐 𝚒𝚝𝚞??
Tulis pendapat kalian di kolom komentar yahh👇Terima kasih partisipasinya🤗🥰