"Heh, jangan begadang, cepetan tidur. Di garasi ada hantu lho.." tanpa sengaja, aku mendengar suara ibuku yang meminta adikku untuk berhenti menonton televisi dan segera pergi tidur.
"Sebentar lagi Bu, masih seru ini.." jawab adikku, masih sambil menatap televisi yang masih menyala.
"Tidur dek, kemarin ayah dengar suara hantu dari garasi." ayahku menanggapi, beliau juga meminta adikku untuk segera tidur. Sedangkan aku, aku masih duduk di karpet sambil mengemil biskuit rasa coklat. Tidak banyak, hanya satu toples.
Kembali ke topik, suasana itu sudah terjadi beberapa hari yang lalu.
Malam ini, malam Minggu. Aku di rumah sendirian. Malam Minggu selalu ku isi dengan tidur lebih awal. Supaya besok bisa bangun lebih awal untuk beraktivitas.
Sekitar jam setengah dua belas malam, aku dibangunkan oleh suara perutku. Entah mengapa, aku sudah lapar lagi padahal tadi aku sudah cukup menerima asupan karbohidrat dari menu makan malamku.
Karena lapar, aku tidak bisa melanjutkan tidurku. Aku pergi ke dapur untuk membuat mie instan. Setidaknya bisa menghilangkan rasa laparku sampai pagi besok.
Ketika mie instan sudah siap, aku meletakkannya di atas meja makan. Aku juga menyalakan televisi supaya dapur ini tidak begitu sunyi. Tapi, tidak ada acara yang bagus. Sembari membiarkan mie instan-ku sedikit mendingin, aku memindah-mindah saluran televisi.
Jariku berhenti menekan tombol remote setelah menemukan saluran televisi yang menyiarkan babak kualifikasi balap motor yang aku gemari beberapa tahun yang lalu. Aku menonton sembari mulai memakan mie instan yang kubuat tadi.
Tidak butuh waktu lama, aku telah menghabiskan makananku. Ibuku bilang, jangan langsung tidur setelah makan. Jadi, aku pun masih menonton sampai beberapa menit ke depan.
Tepat jam 00:00, ketika tanggal dan hari berganti. Entah mengapa, bulu kudukku berdiri dengan sendirinya.
Srek! Srek! Srek!
Dari dalam garasi, terdengar suara seseorang sedang menyapu. Tapi, siapa? Malam ini, aku di rumah sendirian. Ibu, ayah, serta adikku sedang pergi ke tempat saudaraku di luar kota.
Karena rasa penasaran, aku pun membuka pintu yang berbatasan langsung dengan garasi. Kosong, gelap, longgar. Aku menyalakan lampu supaya dapat melihat isi garasi. Tidak ada hal yang aneh. Hanya ada sepedanya adikku dan motor matic berwarna biru yang biasa kugunakan untuk berangkat ke kampus.
Tidak menyadari keanehan, aku pun mematikan lampu, dan kemudian kembali menutup pintu itu. Saat itu, aku jadi teringat apa yang pernah ibuku ceritakan beberapa hari yang lalu. Dia bilang, merasakan ada makhluk tak kasat mata di dekat pintu yang berbatasan dengan garasi. Aku bergidik, dan kemudian membereskan mangkuk dan sendok yang kugunakan untuk makan.
Aku masih belum mengantuk. Aku menunggu beberapa menit lagi. Suara tadi kembali ada. Bahkan sekarang malah suara sepeda yang terdengar olehku.
Aku kembali mengecek ruangan garasi. Ketika aku menyalakan lampu, aku melihat sepedanya adikku bergerak seperti ada yang menaiki. Sepeda itu berputar-putar di ruangan garasi yang sedang longgar. Setelah 'dia' menyadari keberadaanku, sepeda itu ambruk seketika. Aku membelalakkan mataku. Aku tak bisa berkata-kata.
Brak!
Aku langsung membanting pintu, kemudian mematikan televisi, dan lalu berlari ke kamarku.
"Hah.. hah.. Apa itu tadi?" dengan napas terengah-engah, aku bergumam. Aku sudah tidur telentang di atas tempat tidurku dengan tubuh yang seluruhnya tertutup selimut.
Tidak lama kemudian, hujan turun. Aku menyukai suasana hujan, tapi malam ini tidak biasa. Aku tidak bisa-bisa tidur.
JGEEER!
Suara petir terdengar memekakkan telinga, disertai cahaya kilat yang terlihat melalui ventilasi jendela kamarku.
"Ah iya! Aku belum cabut colokan TV tadi." aku baru teringat kalau aku belum mencabut colokan TV yang habis aku nyalakan tadi. Aku pun memberanikan diri turun dari tempat tidur.
Dengan langkah pelan nan hati-hati, aku melangkahkan kakiku pergi ke dapur. Di dekat pintu perbatasan antara ruang tengah dengan dapur, aku mendengar suara air yang gemercik. Bukan air hujan, tapi suara air yang digunakan untuk mencuci piring.
Siapa yang mencuci piring malam-malam begini?
Aku membuka pintu, menyalakan lampu dapur. Begitulah terkejutnya diriku melihat seseorang berdiri di dekan wastafel, air kran nya juga mengucur.
"S-siapa kau?" aku memberanikan diri untuk bertanya. Dia sama sekali tidak kaget mendengar suaraku. Kemudian, dia memutar kran untuk mematikan airnya. Dia berbalik.
"Waaaaaaaa!" aku berteriak histeris sembari terduduk memeluk lutut untuk dapat menyembunyikan wajahku.
Aku benar-benar syok setelah melihat wajahnya. Seorang laki-laki yang tidak dapat ku perkirakan usianya, berpostur tinggi dan lebih tinggi daripada aku.
Dan yang lebih mencengangkan adalah wajahnya. Mengerikan sekali.. wajahnya terbalik. Bukan terbalik hadapnya, tapi terbalik atas bawahnya. Dagu di atas, dan dahi di bawah. Bola matanya tidak mempunyai pupil, hanya warna putih saja. Sosok itu juga tidak mempunyai leher.
Greb!
Ada tangan yang menyentuh bahuku.
"Kyaaaaaaa! Jangan mendekat!" sontak aku berteriak, sambil memejamkan mataku, aku mencoba berlari menuju kamar.
Karena berlari sambil memejamkan mata, tubuhku beberapa kali menabrak pintu maupun dinding, hingga dengan perjuanganku, aku dapat kembali ke kamar.
Aku mengunci pintu kamarku, melompat ke atas tempat tidur, dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.
"Bagaimana ini? Aku malah ingin ke kamar mandi.." ish! Kenapa baru sekarang? Aku ingin ke kamar mandi saat diriku sudah mengetahui keberadaan sosok itu. Aku mencoba untuk menahannya, meskipun tidak baik untuk sistem ekskresi, tapi aku takut untuk pergi ke kamar mandi.
"Duh bagaimana ini.. Bisa-bisa nanti kasurku jadi bau.." aku bergumam sembari memegang bagian 'termahal' milikku yang sudah tidak tahan lagi untuk membasahi kasurku.
Di rumah ini, kamar mandi tidak terdapat di setiap ruangan, dan hanya terdapat di dekat dapur.
Dengan perasaan was-was, aku pun kembali melangkahkan kakiku menuju dapur untuk dapat pergi ke kamar mandi. Berjalan cepat dan menunduk yang aku lakukan saat ini.
Tidak butuh waktu satu menit, aku telah sampai di kamar mandi. Uh.. leganya.. Panggilan alamku akhirnya terlaksana.
Dan saat itu pula, setelah aku menyiram kakus, lampu kamar mandi tiba-tiba mati. Kemudian menyala, dan mati lagi. Saklarnya seperti dibuat mainan.
Aku mencoba membuka pintu, eh.. Bagaimana bisa? Kenapa pintunya bisa terkunci dari luar?
"Bagaimana ini? Apakah aku harus bermalam di kamar mandi? Mau berteriak juga tidak ada gunanya, aku di rumah sendirian.. Mana aku tidak membawa ponselku.." aku menggerutu pelan. Berdiri bersandar di belakang pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
"Hai cowok tampan.."
"Hah?! Siapa itu?!" aku langsung bersiaga setelah mendengar bisikan misteri itu. Di ruangan ini hanya ada aku kan?! Aku sendirian, kan?!
Dari cermin, keluar tangan yang berwarna merah. Tangan itu semakin panjang dan hampir dapat menyentuh wajahku.
"S-siapa kau? Biarkan aku ke luar.." dengan perasaan yang takut dan bercampur aduk, aku memintanya untuk membebaskan aku dari kamar mandi ini.
"Kamu masih single kan?" bisikan itu kembali terdengar.
"I-iya.." aku menjawab dengan jujur. Bahkan aku seorang single sejati yang belum pernah tersentuh perempuan lain selain ibuku.
"Malam mingguan sama aku yuk,"
Setelah mendengar kalimat itu, aku tak menjawab. Bahuku mendadak terasa sangat berat, seperti ada yang bergelayut di bahuku. Ketika aku melihat ke samping, tidak ada apapun.
Apa semua ini?!
----------
Terima kasih sudah membaca cerpen Nino. Kalau suka, jangan lupa kasih like-nya ya!
Dan kalau mau, mampir juga ke cs-ku..