Berjalan dengan angkuh menghadap depan tanpa rasa takut. Tidak terlihat sedikit pun senyuman pada gadis itu. Dengan mata tajam nya membuat dirinya terlihat elegan dan sulit di dekati. Rambut hitam panjang terurai membuat kecantikan nya bertambah.
Namun bukannya terpana, semua orang yang melihat saling berbisik.
"Ck, lihat lah dirinya"
"Aku kenal dia, dia orang yang sangat sombong, haah sungguh di sayangkan"
"Aku pernah lihat dia membentak seseorang"
Namun gadis itu menghiraukan semua ocehan mereka. Pandangan nya masih saja acuh pada orang lain.
"Hahaha wajah nya cantik sih, jadi pacarku boleh juga"
"Aku bertaruh Rp.100.000 kau akan ditolak mentah-mentah" *tertawa
Langkah berhenti sesaat. Berlajan menuju pria yang membicarakan nya. Kedua pria itu hanya menelan ludah saat orang yang mereka bicarakan menghampiri mereka.
"Kau ingin jadi pasangan ku?"
Ucap gadis itu dengan mengernyitkan alis nya.
"A..ah kau mendengar obrolan kami ya. Pendengaran mu cukup tajam juga Nona"
"Lalu?Hanya orang tuli yang tidak mendengar kalian"
Pria itu diam sesaat, ia kehabisan kata- kata oleh gadis yang baru saja ia temui.
"Maaf ya, aku tidak terlalu suka dengan orang sepertimu. Mengatakan 'hanya kamu yang kusayangi' kepada setiap wanita yang di lihat. Menjijikan!"
"Kau!! Itu tidak benar! Kau berbohong, dasar gadis gila"
"Hah gila? Bukan nya kau ingin mengencani gadis gila ini? Berarti kau juga gila dong"
Pria itu hanya diam dengan wajah memerah. Sedangkan temannya hanya bisa menahan tawa.
"Cih, jangan seenak nya bertaruh dengan nama ku"
Gadis itu berbalik arah dan pergi dari sana. Berjalan menjauh meninggalkan sekelompok orang yang menatap dirinya.
Manusia sama saja, terlihat kuat di luar tapi pengecut di dalam. Sungguh di sayangkan.
Pikir gadis itu dengan mengernyitkan alisnya.
Tak lama terdengar suara di balik semak- semak. Awalnya wanita itu berniat untuk tidak memperdulikan nya. Sampai terdengar suara mengeong yang membuat nya terhenti. Menengok sumber suara tanpa memperdulikan seseorang yang melihat nya.
Ah ketemu! Kau...
Terdapat kucing di dalam kotak yang basah. Membuat wanita itu diam membeku dengan mata kasihan.
Jangan bilang mereka di buang. Apakah tidak ada 1 orang pun yang menyadari nya!? Atau, hanya pandangan pura- pura tidak tau?
Wanita itu melirik ke orang- orang yang menatap nya. Mereka hanya bisa saling pandang dan menganggap tidak terjadi sesuatu apapun. Wanita itu berdecak kesal. Berdiri sambil membawa kotak basah tersebut. Tanpa memperdulikan penampilan nya yang kotor karena tetesan air dari kotak, ia berjalan dan berniat untuk pulang.
Senyuman perlahan terukir di wajah gadis cantik itu. Matanya tertuju pada anak kucing yang sedang tertidur.
Tak terasa ia hampir sampai di rumah. Semua orang yang melihat gadis itu tersenyum dan menyapa.
"Kau bawa apa itu nak? Bukan nya itu kucing!? Astaga kenapa mereka terlihat kebasahan seperti itu?"
Tanya ibu setengah baya yang sedang menyapu.
"Iya bu hahaha, seperti yang ibu lihat mereka sepertinya di buang dan dibiarkan mati di jalanan"
Wajah ibu setengah baya tersebut menjadi khawatir.
"Waduh, semoga mereka baik- baik saja"
Ucap sang ibu, gadis itu hanya tersenyum dan menganggukan kepala nya.
Ia melambaikan tangan nya dan berniat untuk pulang. Sang ibu membalas nya dengan lambaian tangan dan senyuman.
Tak lama sesudah gadis itu pergi, seorang pria dengan sengaja mengagetkan beliau.
"Dorr!"
"Astaga! Kau ini!"
Beliau memukul pria itu dengan sapu di tangan nya.
"Hahaha ampun bu"
"Kamu ini, kamu senang lihat ibu jantungan? "
"Tadi cuma bercanda kok. Ngomong- ngomong bukan nya tadi itu Kiran ya?"
Tanya pria itu.
"Iya, walau terlihat galak dan sulit di dekati, anak itu cukup baik"
"Saya juga merasa seperti itu, namun banyak orang yang tidak tau dibalik ketegasan nya terdapat kebaikan yang tidak dapat di katakan oleh kata- kata"
"Kamu sepertinya cukup kenal dengan nya"
"Ohiya dong, siapa sih yang tidak kenal Kiran? Di kantor dia memang galak dan tegas. Tapi aku sering memergoki nya sedang membantu karyawan lain secara diam- diam "
Ucap pria itu sambil tersenyum.
Sedangkan Kiran yang sudah pulang langsung membuka pintu rumah nya. Terdengar langkah kaki mengarah ke Kiran. Beberapa anak kecil menyambut Kiran dengan senyuman bahagia.
"Kakak sudah pulang, yeay"
"Kak tadi aku memetik bunga untuk kakak"
"Kak Kiran tadi Marcel merebut permen ku"
"Hah, aku tidak merebutnya tuh!"
Suasana menjadi ricuh. Terlihat papan dengan tulisan 'Panti Asuhan Arafah'.
"Eh, kakak bawa apa?"
"Aku ambilkan handuk, baju kak Kiran basah"
Kiran yang melihat kesigapan adik- adik nya hanya bisa menahan tawa. Dengan senyum hangat, gadis itu mengatakan...
"Aku kembali, anak- anak"
Aku bersikap baik kepada orang yang berhak saja.
[TAMAT]
.
.
.
Sori lah kalo gaje🙏🏻(╥﹏╥)