Cuaca malam yang dingin disertai kilatan petir yang menggelegar, mengiringi adanya berita yang disiarkan melalui stasiun televisi, bahwa tragedi pembunuhan tiga tahun yang lalu kembali terjadi.
"Sama seperti kasus sebelumnya, identitas pelaku pembunuh masih misterius. Sampai saat ini pihak kepolisian belum bisa menangkap pelaku pembunuhan berantai tersebut. Tapi, kami akan terus berusaha untuk segera menangkap pelaku pembunuhan itu. Dihimbau kepada seluruh masyarakat, untuk tetap waspada dimanapun kalian berada!" Terang pak inspektur kepolisian pada para wartawan dalam siaran stasiun televisi yang nampak di layar kaca televisi salah satu ruangan apartemen kota E.
"Jadi benar kata teman-teman kemarin? Kalau beberapa hari yang lalu ada yang meninggal karena dibunuh itu ya, Ra?" tanya Vasha pada temannya yang sedari tadi memakan camilan di meja.
"Iya, kabarnya sih begitu." Dia Ira, teman sekaligus sahabat Vasha.
Vasha dan Ira duduk di bangku perkuliahan semester akhir. Dan saat ini mereka dalam proses penyusunan skripsi.
"Ihh…, kasian sekali orang yang dibunuh itu. Kok bisa ya, ada orang yang tega membunuh sesama manusia?" tanya Vasha dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Sudah, jangan membahas kasus itu lagi! Aku jadi takut tahu." sahut Ira yang tak mau membahas kejadian pembunuhan itu lagi.
"Dasar penakut." Ejek Vasha.
"Gimana tidak takut coba? Pembunuhnya itu psikopat gila, kalau menyiksa korban tidak tanggung-tanggung. Waktu itu saja, kepala korban yang diantar ke rumah, sudah terbelah menjadi dua." Di dalam bayangannya, pelakunya pasti sangat kejam.
"Tahu darimana kamu?" Setaunya, belum ada informasi resmi mengenai hal tersebut.
"Tadi di kampus anak-anak membahas kasus pembunuhan ini. Kamu tadi tidak masuk, jadi ketinggalan info deh." jawab Ira menjelaskan.
“Tadi ada urusan mendadak, jadi tidak bisa masuk dulu. Hehe..." ucap Vasha cengengesan.
"Eh iya, judul buat bahan skripsi sudah siap belum?" tanya Ira dengan mengganti stasiun televisi yang ditonton.
"Belum, aku masih bingung, Ra. Apakah punyamu sudah?" Sebenarnya Vasha sudah menyiapkan beberapa judul untuk diajukan.
"Kalau aku sudah, tapi judulnya rahasia, hahaha..." kata Ira sambil tertawa.
"Btw, dospem kita siapa ya nanti?" Vasha kembali mengajukan pertanyaan.
“Kalau tidak salah, dosen pembimbing kita itu pak Nathan." Ira mengetahui karena mendapat bocoran informasi dari dosennya yang mengajar tadi.
"Pak Nathan?" Ulang Vasha sambil mengingat-ingat dosennya yang bernama Nathan.
"Yang sering kita lihat di FKIP gedung sebelah itu loh, sering banget pak Nathan lewat disana. Waktu itu kita pernah berpapasan dengan beliau juga." kata Ira.
"Oh iya, aku ingat. Tapi bukannya pak Nathan itu dosen jurusan jurnalistik ya? Kok bisa di FKIP" tanya Vasha sedikit bingung.
"Iya, tapi beliau tidak mengajar matkul kita. Aneh juga sih, masa sering jalan di gedung FKIP?" Ira juga terlihat bingung.
"Ya sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lagipula bukan urusan kita." Bersikap bodoamat adalah jalannya.
Beberapa minggu kemudian...
Seorang gadis sedang dalam situasi genting bersama seorang temannya. Suasana terlihat sangat menegangkan. Bagaimana tidak? Saat ini, di jalan setapak yang jauh dari pemukiman warga, hanya berjarak beberapa meter di depannya terlihat seseorang berpakaian serba hitam, bersepatu bot hitam, dipadukan dengan topinya yang berwarna hitam juga, wajahnya tidak terlihat karena orang itu mengenakan masker, dan tak lupa kacamata hitam yang menutupi matanya. Dari perawakannya, sepertinya dia seorang lelaki.
Terlihat orang tersebut sedang menyeret pemuda yang sedari tadi meronta meminta dilepaskan olehnya. Bagaikan angin lalu, si misterius itu sama sekali tak menggubris ucapan sumpah serapah yang dilontarkan orang yang diseretnya itu.
"Ssttt…, Vi. Ayo kita pulang saja. Aku sangat takut jika harus berlama-lama disini." Terdengar rengekan pelan dari temannya itu.
"Tidak bisa, kita harus menolong orang itu dulu. Apa kamu tidak kasihan melihatnya?" Gadis disampingnya menyahut.
Benar, dia adalah Vasha dan Ira. Mereka sedang menyelidiki sesuatu untuk mengerjakan tugas skripsinya. Memang penelitian yang dilakukannya memiliki resiko yang cukup berbahaya. Tapi, dosen pembimbingnya mengizinkannya dengan syarat harus berhati-hati.
Vasha memutuskan membuat skripsi dengan bahan penyelidikan kasus pembunuhan berantai yang saat ini telah meresahkan warga kota. Sebenarnya Ira tidak setuju, tapi Vasha tetaplah Vasha. Anak keras kepala itu tetap kekeh pada pilihannya. Mau tidak mau, Ira akan menemani sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara sendiri itu untuk melakukan penyelidikan ini. Ia tidak mau terjadi hal-hal buruk pada Vasha.
Dan hari ini, di sore yang akan turun hujan, Vasha dan Ira mendengar suara orang berteriak meminta tolong dari ujung jalan dekat dengan hutan. Samar-samar suara itu semakin tak terdengar, dengan cepat mereka berdua segera mencari sumber suara, dan ternyata terlihat pemandangan yang sangat menyedihkan.
Seorang pria muda terseret dengan beberapa luka dibagian kaki dan tangannya. Wajahnya tidak terlihat, karena posisi Vasha dan Ira di belakang sambil bersembunyi di balik pohon besar supaya tidak ketahuan orang yang sedang diintainya. Vasha dan Ira mengikuti dari belakang. Hingga, tibalah mereka di suatu gudang yang jaraknya cukup jauh dari jalan tadi.
"Benar tadi orangnya masuk kesini?" tanya Ira menunjuk gudang itu untuk memastikan.
"Iya, tadi aku lihat mereka kesini." Vasha menjawab penuh keyakinan.
Karena terlalu fokus pada bangunan itu, tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulut Vasha dan Ira dari arah belakang. Keduanya langsung pingsan di tempat.
———•———
Di sebuah ruangan terlihat ada tiga orang yang sedang diikat di kursi dengan menggunakan tali dan mulut ditutup dengan kain. Ya, mereka adalah Vasha, Ira, dan pemuda tadi.
Perlahan, Vasha mulai membuka matanya dan yang ia lihat hanyalah ruangan kosong. Ia mengarahkan pandangan matanya mencari sahabatnya. Ira ada disebelahnya.
"Hmph... hmph... hmph...." Vasha yang ingin memanggil Ira tersadar, ternyata mulutnya ditutup dengan kain. Alhasil dia tak bisa berbicara.
Namun tiba-tiba Ira dan pemuda itu membuka mata bersamaan. Ketiganya saling memandang satu sama lain.
“Itu kok kaya kak El ya?" tanya Ira yang hanya bisa membatin. Rafael yang sering disapa El adalah salah satu mahasiswa FKIP.
Ketiga orang tersebut terkejut tatkala pintu ruangan terbuka dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
Si misterius itu masih berpakaian serba hitam seperti tadi. "Halo..., ternyata sudah bangun kalian." sapanya.
Vasha dan Ira tercengang mendengar sapaan orang misterius itu.
"Kok suaranya mirip seperti suara…, tapi…, nggak, nggak, nggak mungkin!" Itulah kira-kira suara hati Vasha dan Ira, mereka berdua tidak boleh su'udzon.
Si misterius itu melepas kain yang digunakan untuk menutup mulut ketiga orang itu.
"KALO DI SAPA ITU DIJAWAB!!!" Teriak si misterius itu dengan nada marah dan membentak.
"Ha…, hal…, halo…, Pa…, Pak…," Pemuda itu langsung bersuara walaupun terbata-bata dengan nada gemetar ketakutan.
Kursi yang diduduki pemuda itu langsung ditarik si misterius itu ke dekat sebuah meja yang tertutup dengan kain berwarna putih.
"KAMU HARUS MENEBUS SEMUA KESALAHAN KELUARGAMU!" kata si misterius itu dengan menekankan setiap kata yang diucapkannya.
"Sebenarnya maksudnya semua ini apa?" Pemuda itu memberanikan dirinya bertanya.
"Kamu masih bertanya? Tanyakan pada kakakmu yang sudah mati itu!" Si misterius menyahut dengan cepat.
"Tapi…," Belum selesai berbicara, ucapan Rafael langsung dipotong.
"Tidak usah tapi-tapian. Semua sudah berakhir, dan kamu harus menerima akibatnya."
Vasha dan Ira saling pandang dengan raut wajah penuh kebingungan. Apa maksud perkataan si misterius serba hitam itu? Entahlah.
Tiba-tiba, si misterius membuka kain yang menutupi bagian atas meja disampingnya itu. Ketiga orang yang disekap terkejut bukan main saat melihat banyaknya senjata tajam di atas meja.
Pemuda itu kembali gemetaran melihat si misterius mengambil salah satu pisau yang cukup mengkilap, sudah pasti sangat tajam bukan?
"BERHENTI!!!" Vasha berteriak saat si misterius itu akan menggores wajah pemuda tersebut. Akhirnya Vasha berhasil melepas kain yang menutupi mulutnya, begitupun dengan Ira.
"Siapa kamu sebenarnya? Apa maksud kamu melakukan semua ini pada kami?" tanya Vasha dengan suara lantang.
"Tidak usah banyak bertanya, cukup lihat saja. Dengan ini saya akan mempermudah tugas kamu." Jawaban si misterius membuatnya bingung.
"Tugas? Apa sih maksdnya?" batin Vasha.
Setelah ada sedikit percekcokan antara dua orang itu. Si misterius langsung menggores lengan tangan kiri pemuda itu.
"KAK EL!!!" Ira berteriak histeris melihat kejadian itu. Ia memang sangat takut melihat darah. Alhasil, Ira jatuh pingsan.
Ketika lengan kiri tangan Rafael disayat menggunakan pisau dengan ukuran lebih kecil, El berteriak dengan keras karena kesakitan.
Vasha tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. "Tolong berhenti, jangan lukai dia! Apakah kamu tidak memiliki rasa kemanusiaan? Apakah kamu tega seperti itu?"
Laki-laki misterius itu berjalan mendekat ke arah Vasha, “Hei, menjauhlah dari orang itu, dia adalah pembunuh berantai yang sedang diincar pihak kepolisian. Dia dosen di kampus kita, pak Nathan." ucap Rafael pada Vasha dengan nada pelan, namun terdengar jelas.
Vasha terkejut bukan main setelah mendengar apa yang dikatakan Rafael.
Laki-laki misterius itu langsung melempar pisaunya dan menancap tepat di lengan kanan Rafael. Rafael hanya bisa menahan rasa sakit itu.
"Jadi…," Vasha masih tak percaya. Bagaimana bisa, pak Nathan, dosen muda, pembimbingnya, orang yang ramah dan baik hati pada mahasiswa dan mahasiswinya, ternyata adalah seorang pembunuh. PEMBUNUH!
"Hai." Sapa si misterius itu dengan membuka masker yang dikenakannya.
"Pak Nathan." ucap Vasha yang masih belum memahami situasi yang terjadi.
"Tidak usah terkejut, Sha." kata pak Nathan. "Bukankah kamu ingin skripsimu berjalan lancar? Jadi perhatikan saja apa yang terjadi disini. Maka tugas akhir-mu akan segera selesai."
Pak Nathan mulai menyiksa Rafael. Menggoreskan pisau yang dibawanya ke arah leher dan seluruh wajahnya.
Vasha berusaha melepaskan tali yang mengikat dirinya, namun gagal karena ikatannya cukup kuat. Ia tak tega melihat teman kampusnya menderita seperti itu, walau dia tidak begitu mengenalnya.
Pak Nathan langsung menguliti lengan tangan kanan Rafael. Ia mulai mencabut kuku jari tangan dan jari kaki Rafael satu-persatu menggunakan tang. Teriakan Rafael yang merasa sakit yang luar biasa terdengar begitu keras di ruangan itu.
Vasha menangis melihat kondisi temannya itu, mau bagimana lagi? Ia hanya bisa berdo'a semoga ada keajaiban dari yang maha Kuasa.
Tubuh Rafael terlihat sangat mengenaskan, bagaimana tidak? Luka dengan darah segar mengalir begitu saja di sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba, pak Nathan mengambil sebuah ember di bawah meja yang berisi air dan ia menambahkan garam dan perasaan jeruk nipis di dalamnya. Semua aksinya terlihat sangat jelas.
“TIDAK! TIDAK! TOLONG BERHENTI! JANGAN SAKITI DIA, PAK! SAYA MOHON." Vasha memohon pada pak Nathan agar segera menghentikan aksi psikopatnya itu.
Seketika, pak Nathan langsung menoleh ke arah Vasha dengan tatapan lembut dan teduh. Sangat berbeda dengan tatapannya pada Rafael, tatapan membunuh.
"Kenapa? Dia harus membayar semuanya, Vasha." sahut pak Nathan dengan nada lembut dan tenang.
"Tapi tidak seperti ini, Pak. Pasti ada cara lain untuk menyelesaikan suatu masalah." Vasha berusaha membujuk.
Byur…
Tanpa aba-aba, pak Nathan langsung menyiram Rafael dengan air yang dicampur garam dan perasaan jeruk tadi.
"AKHH, TOLONG INI SANGAT PERIH SEKALI. TOLONG AKU, AKU MOHON HENTIKAN INI. TOLONG!" Teriak Rafael sangat kencang.
"Maafkan aku yang tidak bisa membantumu teman." Vasha berkata dalam hati. Ia merasa bersalah karena tidak bisa membantu menyelamatkan.
Dua kata yang bisa mendeskripsikan pak Nathan, KEJAM dan SADIS. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, seluruh wajah digores dengan pisau, kulit tangan disayat dan dikuliti, juga semua kuku jari tangan dan kakinya dicabut paksa. Pasti sangatlah menyakitkan. Dengan darah yang masih menetes, disiram dengan air garam dan perasan jeruk. Bayangkan bagaimana jika kamu berada dalam posisi Rafael!
Terakhir, pak Nathan mengambil busur dan anak panah, diarahkan ke Rafael dan...
JLEBBB.
Anak panah menancap di dada tepat pada jantung Rafael.
“Akhhhh..." Teriak Rafael sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Vasha menangis kencang melihat kondisi Rafael.
"Sudah tidak usah menangis. Dia sudah tenang di alam barunya. Dan sekarang skripsimu akan cepat selesai." ujar pak Nathan menenangkan Vasha.
"Kenapa bapak melakukan semua ini? Kenapa bapak tega membunuh orang? Apalagi dengan cara yang tidak manusiawi seperti itu." Vasha masih menangis karena melihat kondisi Rafael yang sudah tidak bernyawa.
"Kamu tidak perlu tahu hal itu. Sekarang yang terpenting skripsimu akan cepat selesai dan kamu bisa mengungkap kasus pembunuhan ini bukan? Tak apa jika kamu ingin melaporkan saya pada pihak kepolisian." Jelas pak Nathan dengan tersenyum hangat pada Vasha.
.
.
.
.
.
Tamat📌
.
.
.
.
Bagimana kira-kira kelanjutan kisah DOSPEM ini?
Apakah Vasha akan melaporkan pak Nathan, dospem-nya pada pihak kepolisian? 🤔
.
.
.
Terimakasih.🤗
.
©Alda R. || 2021-11-09