Calista seorang anak berumur 16 tahun yang sekarang duduk di kelas 11 SMA adalah anak broken home yang selalu memakai topeng kebahagian di dunia luar,tidak ada yang tahu bagaimana keadaannya saat masuk kedalam bangunan yang ia tinggali.rumah yang biasanya tempat kebahagian seorang anak remaja menjadi sebuah titik awal keterpurukan calista.
Di kelas 11 Mipa 7 ada seorang anak yang tertawa bahagia bersama teman temannya seakan tidak ada masalah dalam hidupnya,benar dia adalah calista ,tapi waktu yang terus berjalan menuju jam pulang wajah yang semula tertawa kini menjadi masam tanpa senyuman saat tiba bel pulang berbunyi "tring tring tring".
Calista bangkit dari tempat duduk tak lupa ia memberikan senyuman kepada temannya,ia berjalan menuju rumah.
"Apalagi nanti yang ku lihat saat membuka pintu rumah"batin calista
Tangannya terulur membuka pintu dan pemandangan yang calista lihat petama adalah pertengkaran besar dari biasanya,Calista melihat dan mendengar ayah dan ibu nya bertengkar dengan menyebut kata perceraian,bagaikan disambar petir di siang hari,calista berjalan menuju ruang tamu ia melihat kertas yang sudah ditanda tanganni oleh kedua orang tuanya,ia merasa kali ini keluarganya akan benar benar hancur,ia berlari keluar dari rumah itu.
Ia berlari secepat mungkin,tanpa disadari ia telah berada di tengah jalan raya,saat ia sadar pun terlambat karena dia sudah terpental jauh dari lokasi kecelakaan,tetesan air mata chalista jatuh ke jalan Raya bercampur dengan darahnya.
Calista bangun dari tidurnya, ia menyadari bahwa ini bukan kamarnya, di mana ia melihat kamar bercat putih dengan tirai hijau di sampingnya dan aroma obat yang pekat, sampai ada seseorang yang masuk dari pintu berwarna putih, Seseorang memakai baju putih pakaian dokter dan diikuti oleh beberapa perawat, Calista bertanya kepada dokter,
" dokter Kenapa saya di sini dan kenapa saya tidak bisa merasakan kaki saya? " tanya Calista
" Calista kamu mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kamu lumpuh sementara " jawab dokter
Calista yang yang kaget dengan kondisinya dia terdiam, lalu menangis sekeras mungkin, yang mengganggu pasien di samping Calista yang dibatasi oleh tirai hijau, seorang lelaki berkulit putih dan pucat, yang terlihat sehat tapi sebenarnya dia memiliki riwayat penyakit jantung, anak laki-laki itu bernama baya.
" Hai, kamu kenapa berisik? Kamu sadar ini rumah sakit tempat yang butuh ketenangan" bentak baya
Calista kaget langsung terdiam dan mencari sumber suara itu
" Kamu tidak akan pernah tahu apa yang saya rasakan sekarang" jawab Calista
" Semua orang punya masalah, yang tidak harus orang lain tahu, jadi jangan pernah menganggap bahwa kamu adalah orang yang paling sengsara" kata baya
Calista terdiam mencerna perkataan baya
" kalau kamu punya masalah, kamu harus berusaha bangkit dari keterpurukan itu" kata baya
" tapi tidak ada alasan untuk ku bangkit" jawab Calista
Tanpa pikir panjang baya segera bangkit dari ranjangnya dan meminta izin kepada dokter untuk membawa Calista ke suatu tempat dan dokter pun memberi izin setelah melihat Calista yang butuh udara segar.
Baya mendorong kursi roda Calista ke sebuah kamar yang sangat luas, yang ditempati oleh 5 anak kecil berusia 6 sampai 9 tahun
" Kenapa kamu Bawa saya ke sini?" Tanya Calista
"Kamu akan tahu saat melihatnya" jawab Baya
Calista melihat 5 anak itu yang terlihat sangat semangat Meski Harus terbaring di ranjang rumah sakit, anak-anak yang tertawa bahagia meski mereka tahu bahwa umur mereka hanya sedikit.
" kamu lihat semangat mereka untuk bangkit dari keterpurukannya meski mereka tahu bahwa waktu mereka sedikit, jadi kamu harus Bangkit dari keterpurukan mu, seberapapun besar masalah yang kamu hadapi sekarang, Yakinlah asal kamu punya kemauan untuk bangkit dari masalahmu kamu akan melihat pintu cahaya yang terang" kata baya
" Kamu benar aku harus bangkit dari keterpurukan ku ini, terima kasih telah menyadarkanku bahwa aku harus bangkit dari keterpurukan"kata Calista
" sama-sama, aku paham betul dengan kondisi sekarang, aku juga dulu pernah merasakannya" ucap baya dengan tersenyum
Sejak saat itu Calista dan bayam menjadi sahabat, Calista dan baya berjuang bersama untuk sembuh dari sakit fisik maupun mentalnya, kini Calista sudah bisa menerima keadaannya yang sekarang dan bisa bangkit untuk mencapai cita-citanya.