Keesokan harinya, Rendy terbangun. Ia melihat para dokter dan perawat yg terburu-buru dan masuk ke ruang rawat Syifa. Rendy juga ingin masuk, tetapi tidak diijinkan oleh perawat yang ada disana. Beberapa saat kemudian...
Dokter pun keluar dari ruangan dimana Syifa dirawat. Rendy pun bertanya...
"Dokter! Apakah Syifa baik-baik saja?." Tanya Rendy kepada dokter itu.
"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi... takdir berkehendak lain. Nyawa Syifa tidak tertolong. Maaf." Jawab Dokter dengan raut wajah yg sedih.
Kemudian Rendy masuk ke kamar itu. Rendy pun memegang tangan Syifa, dan berkata...
"Bangun! Bangun! Bukankah kamu sudah janji untuk meminjam dan membaca buku itu. Aku mohon... bangunlah." Ucap Rendy dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Tidak lama kemudian, Syifa dipindahkan ke kamar jenazah. Dan... Rendy pun bertemu dengan keluarga Syifa.
"Apakah kalian keluarga Syifa?." Tanya Rendy dengan terus menunduk.
"Iyah. Kami keluarga Syifa. Tapi, siapa kamu?." Jawab dan Tanya Ibu Syifa kepada Rendy.
"Saya teman Syifa. Saya bertemu dengannya di toko buku kemarin." Jawab Rendy.
"Seandainya saya mengantar Syifa pulang, pasti hal seperti ini tidak terjadi." Ucap Rendy dengan wajah yang penuh dengan penyesalan.
"Tidak usah merasa bersalah seperti itu. Ini adalah takdir, tapi... ini adalah takdir yang sangat pahit." Ucap Ibu Syifa dengan air mata yang terus mengalir.
"Kapan Syifa akan dimakamkan?." Tanya Rendy.
"Nanti sore. Kamu bisa datang ke pemakaman Syifa kan?." Tanya Ibu Syifa.
"Saya pasti datang." Jawab Rendy dengan senyuman yang menutupi kesedihan.
Langit yang tadinya cerah sudah berganti dengan malam. Rendy pulang ke rumahnya, setelah menghadiri pemakaman Syifa. Setelah sampai di rumah, Rendy mulai membaca buku yang kemarin ia beli. Ia tidak bisa membendung air matanya. Buku itupun basah, terkena air mata yang tidak henti mengalir dari matanya.
Suasana malam yang sunyi dan sepi, kini berganti menjadi pagi yang sejuk dan segar. Rendy bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Saat sedang menunggu bis, ternyata Rendy melupakan sesuatu yang penting. Rendy lupa membawa berkas-berkasnya. Ia pun bergegas pulang. Setelah melihat jam, Rendy merasa dirinya akan terlambat. Kemudian dia berlari sekuat tenaga menuju Halte bis.
Saat tiba disana, Rendy meilhat seorang gadis yang sepertinya juga sedang menunggu bis. Rendy pun bertanya...
"Apakah kamu sedang menunggu bis?." Tanya Rendy.
"Iyah, saya sedang menunggu bis?." Jawab Gadis itu.
"Kamu kerja dimana?." Tanya Rendy.
"Saya kerja di PT. Sejahtera. Kalau kamu?." Jawab dan Tanya gadis itu kepada Rendy.
"Saya juga kerja disana. Eh... kenapa kamu terlambat?." Jawab dan Tanya Rendy kepada gadis itu.
"Saya kesiangan." Jawab gadis itu dengan wajah yang malu.
Part 2