Nama ku Golera, biasanya orang-orang memanggil ku Lera. Aku memiliki seorang ayah yg tak biasa. Ayah adalah seorang penikmat darah manusia, namun kalian jangan mengira kami adalah vampir. Aku, ayah dan ibu adalah manusia biasa.
Ayah adalah orang yg tidak percaya tuhan, ia juga tak percaya dengan makhluk halus. Berbeda dengan aku dan ibu yg percaya dengan adanya tuhan. Heii aku selalu solat 5 waktu dan mengaji.
Aku adalah manusia tumpul, tumpul dalam artian tidak bisa melihat makhluk halus. Namun itu dulu, sejak aku berumur 17 tahun, rasanya sedikit tidak cocok kalau aku di bilang masih tumpul.
Ayah adalah pria tampan yg kaya raya. Tidak ada pesugihan atau apapun, ia benar-benar bekerja keras. Ibu ku sudah meninggal sejak aku lahir. Aku hanya memiliki ayah, seorang ayah yg sangat ku sayangi.
Ayah adalah seorang psikopat yg benci dengan orang yg putus asa. Jika ayah melihat ada orang yg hidup luntang-lantung entah mau hidup bagaimana, disaat itu lah darah ayah mendidih dan orang itu berakhir tewas.
Sejujurnya aku tidak suka ayah seperti itu, rasanya sungguh mengganggu ku. Ayah selalu menyisakan kepala mereka dan menyimpannya di sebuah kulkas besar yg ada di ruang rahasianya.
Tak pernah ada bau anyir atau busuk, ayah seperti sudah handal menyimpan hobbynya itu dengan rapih. Terdengar menakutkan namun jika kalian mengenal ayah ku, kalian tidak akan menyangka kalau ia adalah seorang psikopat.
Meskipun begitu, ayah adalah orang yg penyayang. Senyumnya sangat hangat, ia selalu memanjakan ku. Tak pernah sekalipun ayah marah pada ku, bahkan ayah selalu mengalah pada ku.
Kamar ayah sangat gentle seperti para pria lajang namun ruang rahasia ayah di penuhi senjata tajam, berbagai macam minuman keras yg mahal, rak buku-buku yg dulu suka ibu baca dan jangan lupakan kulkas super besar tempat kepala korban ayah di letakan.
Ibu meninggal bukan karna ayah, ayah sangat menyayangi ibu sama seperti ayah menyayangi ku. Ibu meninggal setelah melahirkan ku namun ayah tak pernah menyalahkan ku atas kematian ibu.
Bingkai-bingkai foto ibu banyak terpajang di kamar ayah, keromantisan kamar itu sangat bertolak belakang dengan ruang rahasianya.
Lain hal nya kamar ayah yg agak seram karna ruang rahasia itu, kamar ku malah lebih menenangkan. Banyak tulisan ayat-ayat Qur'an yg ku jadikan bingkai. Kamar ku terlihat lebih islami di banding kamar yg lainnya.
Ayah tak pernah melarang ku dengan alasan ia akan menuruti apa yg aku sukai. Ayah selalu meng-iya-kan apa yg aku inginkan.
Setiap malam, aku merasa takut karna sering kali mendapat mimpi buruk. Arwah yg memohon pada ku agar ayah memakamkan bagian tubuh mereka dengan utuh.
Mereka manangis dan terus memohon dengan keadaan tubuh yg kepalanya mengambang. Itu benar-benar mengerikan dan menakutkan.
Di kamar ku selalu berkumandang bacaan Qur'an yg ku setel setiap waktu tanpa henti dengan speaker sampai memenuhi seluruh ruangan. Kamar ku kedap suara jadi suara speaker itu tidak terdengar ke luar.
Kadang kala jika aku sudah merasa sangat ketakutan, ayah akan menemani ku tidur di kamar ku. Meskipun sepertinya ayah terganggu karna cukup bising, ayah selalu terlihat menerimanya agar aku bisa tertidur.
Di suatu pagi, ku lihat ayah yg sudah rapih di ruang makan. Lesung pipi yg nampak saat ia mengunyah adalah part kesukaan ku. Ayah ku benar-benar tampan dan manis.
"Good Morning, sweetie". Sapa nya ketika melihat ku menghampirinya.
"Morning too, ayah".
Aku duduk di samping ayah dan mengambil 2 roti dan selai. Aktivitas ku terhenti saat mengingat ada yg ingin ku sampaikan pada ayah tentang kejadian tadi malam.
"Ayah, selamam Lera mimpi buruk lagi". Keluh ku sambil memeluk lengan ayah.
"Just Dreaming, Sweetie. Bukan kah seharusnya terbiasa?".
Mendengar itu aku pun langsung menggelengkan kepala ku. "Nggak biasa, ayah. Terlalu menyeramkan".
"Come on, baby girl. Ada ayah disini, tidak akan ada hal yg menakutkan atau menyeramkan saat ayah di sisi mu".
Aku melepaskan pelukan ku pada lengan ayah. Seharusnya aku sudah tau kalau ayah akan menganggap remeh mimpi buruk ku.
Aku memakan roti ku dengan wajah kesal sekaligus sedih, namun tiba-tiba dengan seribu jurusnya ayah selalu mengobati rasa kesal ku.
"Baik lah, ayah akan menemani princess ayah ini tidur selama seminggu, setuju?".
Senyum di bibirku mengembang, setidaknya ada ayah yg akan menenangkan ku jika aku mimpi buruk. Aku pun mengangguk dan memeluk tubuh ayah ku dari samping.
"Terima kasih ayah, ayah selalu mengerti kemauan ku". Puji ku
Ayah membalas pelukan ku seraya mengelus lembut kepala ku. " Apapun yg princess ku sukai, aku akan melakukannya dan akan memenuhi kemauannya".
Aku mendongakkan kepala ku menatap ayah yg juga menatap ku. Mata ayah agak sipit namun ia memiliki lipatan pada kelopak matanya. Bulu matanya cukup lebat dengan alis yg tebal dan rapih.
"Aku sangat suka kalau ayah mempercayai Tuhan dan masuk agama yg aku anut". Seru ku. Ayah hanya diam menunggu ku kembali berbicara.
"Masuk Islam yah dan berhenti membunuh dan menyimpan kepala mereka. Mereka bilang mereka sangat sedih kala ayah melakukan itu pada mereka. Arwah itu menangis dan memohon pada ku, Yah".
Mendengar itu ayah hanya tersenyum dan mencium kening ku. Ku kira ayah akan marah dan menolak namun ayah ku memiliki kesabaran ekstra untuk ku.
"Listen to me, Sweetie. Perjanjian kita adalah saling melengkapi, ayah akan menjadi ayah untuk mu. Ayah akan menjadi ayah terbaik untuk princess kesayangan ayah ini tapi ayah juga harus menyalurkan hasrat ayah yg sudah mendarah daging". Tolaknya dengan halus.
"Noo, ayah bisa berubah, harus bisa. Lera nggak mau ayah di siksa sama tuhan, Lera sayang ayah dan Lera nggak mau liat ayah kesulitan saat bertemu tuhan". Ucap ku mulai terisak.
"Biarkan ini menjadi urusan ayah, melihat Lera senang, bahagia, sehat, dan ceria saja itu membuat ayah tidak takut dengan Tuhan, karna tuhan ayah itu ibu Lera dan Lera kesayangan ayah ini".
"Kalo Lera melakukan apa yg korban ayah lakukan, apa ayah akan bunuh Lera juga?". Tanya ku sambil tetep sesegukan.
"Lera harus tetap bahagia sampai Tuhannya Lera yg mengambil nyawa Lera. Ayah bisa membunuh mereka tapi ayah nggak akan bisa melihat jasad princess ayah join dengan jasad koleksi ayah".
"Ayahh, kita satu keluarga bahkan kita satu darah, tapi kenapa kita nggak seiman? Padahal kata ayah kita satu hati. Ibu seiman sama Lera loh ,Yah. Ayah nggak sehati sama Lera dan Ibu berarti". Rajuk ku.
Ayah hanya tersenyum, ia selalu tersenyum ketika aku memaksakan kehendak ku. Terkadang aku takut ayah akan kehilangan kesabarannya, namun aku melakukan ini demi kebaikan ayah.
"Apa ayah pernah memaksa Lera untuk melakukan apa yg ayah suka? Misalnya ayah meminta Lera untuk membantu ayah membunuh seseorang?". Aku menggeleng sebagai jawaban.
"Sama seperti ayah, Lera juga seharusnya tidak memaksa ayah untuk melakukan hal yg ayah tidak bisa lakukan, toh ayah selalu mendukung dan menuruti apa maunya Lera, bukan?".
Aku bungkam, ayah selalu bisa membuat ku berfikir keras untuk melawannya. Ada sedikit kata-kata yg ayah katakan benar adanya, aku pun jadi gelisah dan memilih untuk mengalihkan topik agar suasananya tidak canggung.
Selama seminggu ayah benar² menemani ku tidur. Sempat ayah libur dan tidak masuk ke kantor selama 2 hari. Ia mengajak ku untuk piknik di suatu gunung yg panorama sunset nya sangat indah.
Ayah selalu menepati semua janjinya, sejak dulu ucapannya selalu bisa di percaya. Saat piknik kami saling bercerita, kami juga sering saling curhat saat ada waktu senggang.
Tidak ada rahasia di antara kami, ayah bilang ayah tidak suka menyimpan rahasia dari ku. Awalnya saat mulai remaja aku mulai ragu untuk terus-menerus curhat masalah pribadi ku, namun ayah membuktikan kalau dengan bercerita, masalah itu sedikit lebih ringan.
Saat piknik sempat terjadi suatu peristiwa, dimana aku merasa ketakutan berlebih saat malam hari. Ketika hendak tidur aku melihat sekelebat bayangan seorang yg tinggi besar.
Awalnya aku mengacuhkan itu dan berusaha tidak peduli, namun bayangan itu semakin menampakan wujudnya. Ayah yg duduk di samping ku pun melihat gerak gerik aneh ku.
Ayah sempat bertanya apa aku baik-baik saja, dengan ragu mengangguk namun selanjutnya aku langsung memeluk ayah dan menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya.
"Ayah, ada yg menyentuh punggung ku dan sejak tadi ada sekelebat bayangan yg mengikuti ku". Aku semakin mengeratkan pelukan ku pada ayah.
Ayah menepuk punggung ku beberapa kali untuk menenangkan ku. Ia mencoba melonggarkan pelukanku dan menyuruhku untuk minum.
"Jangan pedulikan apa yg kamu lihat, acuhkan saja ya? Ingat ada ayah disini, ayah akan selalu disamping mu dan menemani mu".
Kira-kira begitu lah yg ayah bilang, sangat menenangkan bukan? Setelah waktu berlibur ayah habis, semuanya kembali seperti biasa.
Dihari terakhir ayah menemani ku tidur, ayah pulang sangat larut. Aku menunggu ayah pulang di kamar sambil menonton kartun.
Ku dengar bel pintu utama berbunyi, itu tandanya ada seseorang yg membukanya dan yg membukanya pasti ayah. Aku langsung keluar dari kamar dan benar saja, ayah sudah pulang.
Aku menghampiri ayah dan berencana ingin memeluknya namun aku mencium sesuatu bau yg aneh. Aku pun mengurungkan niat ku dan hanya menyapa ayah.
"Selamat datang, ayah. Kenapa ayah pulang sangat larut?". Tanya ku. Ayah tersenyum dan mengacak-acak rambut ku.
"Hanya habis menyalurkan hasrat ayah, apa princess ayah ini sudah tidak sabar untuk segera tidur dengan ayah?".
Aku sungguh terkejut dengan jawaban ayah, jadi bau ini adalah bau asing yg bersatu dengan bau darah? pantas saja sangat tidak enak baunya.
Ayah menyuruhku untuk menunggunya di kamarku. Sepertinya ia ingin bersih-bersih dulu karna ayah tidak suka dengan kotor.
Tak lama ayah datang dengan bau yg sangat berbeda, sangat harum dan wangi. Ayah duduk di tepi tempat tidur tepat di samping ku yg sudah berbaring.
"Hei, apa volume speaker kamu itu tidak terlalu keras? jika volumenya sebesar itu, mungkin seluruh dunia akan mendengarnya". Sindir ayah.
Aku hanya tersenyum, menurut ku memang terlalu besar tapi mampu membuat rasa takut ku sedikit berkurang.
Aku bangkit lalu mengecilkan volume speaker itu dan kembali lagi ke atas kasur. Ku peluk ayah ku yg duduk menyandar pada sandaran kasur, tubuhnya sangat harum.
"Ayah, apakah ayah menggunakan parfum ibu?". Ayah hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa ayah menggunakan parfum ibu?". Tanya ku lagi.
Ayah mengelus lembut kepala ku. "Karna ayah merindukan ibu mu, juga agar kamu bisa merasakan keberadaan ibu". Sahutnya.
Selama ini ayah yg menjadi ayah sekaligus ibu untuk ku. Ayah yg memenuhi segala kebutuhanku. Sesekali aku iri dengan mereka yg masih bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya.
Kini yg harus aku ingat adalah perjuangan ayah saat merawat ku. Aku tetap bersyukur meskipun ibu sudah tidak ada. Ada yg berada di sisi ku itu sudah lebih dari cukup.
"Ayah, kenapa ayah tidak pernah marah?".
"Apa princess ayah ini ingin ayah marahi, hm?". goda ayah.
"Bukan begitu, hanya saja ayah pada umumnya pasti pernah marah, bukan?".
"Karna ibu mu juga melakukan hal yg sama, dia tidak pernah marah dan saat itu ibu berpesan untuk tidak boleh memarahi mu. Lagi pula princess ayah ini tidak pernah melakukan kesalahan besar, jadi untuk apa ayah marah?".
Aku mengangguk. Ayah selalu menuruti kemauan ibu, itu sebabnya ayah terbiasa dengan semua kemauan ku. Benar-benar ayah yg hebat.
Pada suatu hari ayah bilang ingin menuruti satu permintaan ku. Ku gunakan itu untuk membujuk ayah menganut agama dan mempercayai Tuhan.
Tak di sangka ayah menyetujuinya. Ia melakukan sesuatu hal yg di lakukan orang yg ingin mulai masuk agama Islam. Di hari itu wajah ayah sangat bersinar setelah berwudhu. Rencana nya aku dan ayah akan solat dan membaca Yasin untuk ibu.
Pagi ini Ayah terlihat berbeda dari yg biasanya. Sangat tampan, harum tubuhnya sangat-sangat harum parfum ibu. Pasti karyawannya banyak yg kagum pada ayah yg seperti ini.
Sesampainya di rumah selepas sekolah, aku langsung merebahkan tubuhku di kasur. Ponsel ku berdering menapakkan nomor tidak di kenal. Bersamaan saat azan Zuhur, orang di sebrang sana mengatakan kalau ayah sekarang berada di rumah sakit.
Sangat terkejut, aku benar-benar khawatir dengan kondisi ayah saat ini. Semoga saja ayah tidak apa-apa.
Dokter keluar dari ruang ICU, raut wajahnya tidak terlihat senang. Firasat ku buruk.
"Apa nona keluarga dari pasien?". Aku mengangguk.
"Kami turut berduka cita, tuan meninggal saat kami hendak melakukan penanganan". Dokter itu menepuk pundak ku.
"Apa.. penyebabnya?". Tanya ku dengan lirih.
"Pasien mengalami serangan jantung".
Tubuhku mematung, rasanya mati rasa. Ayah memang memiliki keturunan sakit jantung namun ayah tidak pernah memiliki gejala sakit jantung sejak dulu.
Bahkan kemungkinan besar aku juga menurun sakit itu tapi dokter bilang kalau kondisi ku baik, aku tidak akan terkena sakit jantung.
Kini.. aku harus hidup bagaimana? Ayah.. Apakah senyum mu tadi pagi adalah salam perpisahan? Bukan kah kamu baru saja memenuhi kemauan ku? Masih sangat banyak keinginan ku yg belum ayah penuhi.
Aku menangis, benar-benar terasa sesak. Ayah menjemput ibu lebih dulu. Mereka meninggalkan ku di bumi yg luas ini. Kenapa kalian meninggalkan ku?
Aku mencoba menguatkan diri saat itu. Tuhan pasti punya rencana lain meskipun aku akan sulit menerimanya. Pemakaman ayah saat itu berjalan sangat lancar.
Nenek, kakek dan saudara yg lain pun datang. Kolega ayah dari kalangan orang biasa sampai ke atas pun hadir untuk mendoakan ayah. Ayah benar-benar memiliki sifat yg baik sampai yg datang melayat saja sangat banyak.
Selepas kepergian ayah, setiap seminggu sekali aku rutin mendatangi makan ayah dan ibu yg di makamkan bersebelahan. Aku tidak akan larut dalam kesedihan, kasih sayang mereka mengajarkan ku untuk tetap kuat.
Setiap awal bulan, keluarga besar selalu mengadakan pengajian untuk ayah dan ibu juga untuk para leluhur dan para korban ayah yg telah meninggal. Semenjak itu, aku sudah tidak sering mimpi buruk lagi.
Mimpi ku lebih banyak mimpi yg menyenangkan. Beberapa kali juga aku memimpikan ayah kala aku sedang sangat merindukannya.
Kenangan bersama ayah tak pernah terlupakan. Bagaimana kami selalu sarapan bersama, saling curhat, saling bergurau saat bersama, ayah yg selalu menemani ku di saat apa pun, ayah yg mengajarkan ku berbagai banyak hal, mulai dari hal sepele yg kita lakukan sampai kenangan yg tak pernah terlupakan membuat ku selalu merindukan kehadiran ayah.
Hidup ku kini berjalan mengikuti waktu. Entah bagaimana aku menggapai masa depan, yg jelas saat ini, meskipun ayah dan ibu telah pergi, keberadaan mereka terasa masih tetap di dekat ku. Memeluk ku, Mendekap ku, Menenangkan ku yg kini menjadi yatim piatu.
Ayah memang seorang pembunuh dan psikopat namun di dalam lubuk hatinya, ayah memiliki sifat yg sangat mulia. Seorang penjahat berhati malaikat. Siapa sangka orang yg suka membunuh tidak mempunyai hati yg lembut dan tulus?
Ayah adalah bukti dari seorang ayah yg berjuang demi anaknya. Ayah adalah bukti bahwa seorang ayah tidak mungkin menyakiti anaknya dan ayah adalah bukti bahwa seorang ayah pasti akan menyayangi kan mengasihi anak-anak mereka dengan kasih sayang dan usaha mereka.
Untuk para ayah di dunia, terima kasih sudah menjadi ayah yg hebat untuk kami para anak. Berkat kerja keras kalian, kami menjadi anak yg mungkin suatu saat nanti akan mengharumkan nama kalian.
Ayah.. terimakasih sudah menjaga ku sepanjang hidup mu.