Kehidupanku dan kakak? Oh, semuanya berjalan baik-baik saja.Aku dan kakak selalu hidup berdampingan dengan saling mengisi kekurangan kami masing-masing.Hubunganku dengannya tak pernah sekalipun merenggang apalagi retak.Namun, adakalanya ketika aku harus berkorban deminya sesekali.
"Knox? Knox! Bangunlah! Kumohon.." Suara rintihan tangis kakak yang begitu keras berhasil memecah keheningan sesaat setelah aku secara sukarela mengorbankan diriku ketika dirinya dipaksa untuk menusukku.Aku tahu kalau kakak dan akan dibunuh jikalau ia tak mau menusuk diriku.
Sekelompok orang yang entah datang darimana, mengelilingi kami sekeluarga dengan ancaman dimana-mana.Jika kakak mau menusuk diriku atau lebih tepatnya, membunuhku, maka nyawanya dan kedua orang tua kami akan selamat.Aku tak tahu akan mengapa mereka begitu bersikeras supaya kakak membunuh diriku, padahal mereka sendiri juga bisa melakukannya jika dilihat dari seberapa besar kekuatan mereka jika dibandingkan dengan kami yang hanya berempat.
Tapi, satu hal yang ku tahu adalah..aku merupakan ancaman bagi mereka.
"Maaf..Knox.." Kesadaranku perlahan menghilang bersamaan dengan suara tangisan kakak yang kian memudar di pendengaranku.
Perlahan-lahan, aku membuka kedua mataku dan mendapati diriku tengah berada di atas tanah dengan rumput yang begitu halus.
"Bagaimana aku bisa ada disini..? Bukankah tadi aku pingsan karena kehabisan banyak darah?" ucapku sambil memegangi dadaku yang tertancap oleh sebuah cutter sebelumnya.Yang ku pertanyakan selanjutnya adalah mengapa rasa sakit saat dadaku tertusuk cutter itu masih ada biarpun sedikit?
Disaat aku terhanyut dalam lamunanku, aku tak sadar kalau sekarang di hadapannya sudah berdiri seorang kakek-kakek yang tengah tersenyum lebar padaku.Aku akhirnya tersadar karena kakek itu mengayunkan tangannya tepat di depan wajahku.
"Knox, apa yang terjadi padamu?" Kakek itu bertanya seolah-olah sudah kenal dekat denganku.Aku sendiri saja tidak merasa familiar akan wajahnya, tidak sedikitpun..
Aku lalu menarik napas kemudian menjawab pertanyaannya tersebut, "Saya ingat kalau saya jatuh pingsan setelah sebuah cutter menancap di dada saya.Namun, kenapa saya tiba-tiba ada disini..?" tanyaku sambil menatap curiga kakek itu mau tidak mau.
"Alam mimpi, Knox." Jawabannya itu seketika membuatku kaget dan juga agak sedih.Bagaimana tidak, kakek itu mengatakan kalau ini adalah alam mimpi, yang artinya ragaku sekarang masih tak sadarkan diri dan bisa saja aku mati kapan saja jika tidak mendapatkan pertolongan lebih lanjut.Tidak ada juga jaminan kalau sekelompok orang-orang itu tak akan menyakiti kakak dan kedua orangtuaku jika aku mati suatu saat nanti.
"Ragamu yang ada di luar alam ini, tidak perlu kau khawatirkan, Knox.Kau jauh lebih kuat dari apa yang kau bayangkan dan tentu saja, luka kecilmu itu akan menghilang sesaat setelah kau bangun.Kau mungkin penasaran akan diriku, singkat saja, aku adalah kakekmu.Sekarang, bangunlah dan temui mereka." Belum sempat aku berkata apapun, rohku yang ada di alam itu langsung tersedot ke dalam pusaran air dan terbangun di tempat yang sama, di tubuh yang sama, namun luka tadi sudah sepenuhnya menghilang tanpa bekas.
"Kakak.." ucapku sambil tersenyum kepada kakakku yang sedang memangku kepalaku.Wajahnya tampak pucat dan kaget, namun ia juga terlihat merasa senang.
"Kita sudah terlambat.Cepat kabur darisini!!" Salah satu orang dari kelompok yang sebelumnya mengancam kami itu memerintahkan anggota kelompoknya yang lain untuk pergi darisana sambil menunjuk ke arah pintu.
Mengingat perkataan orang yang mengaku sebagai "Kakekku" itu yang mengatakan kalau aku jauh lebih kuat dari apa yang kubayangkan, membuatku penasaran akan maksudnya itu.Namun sekarang, aku harus membereskan mereka dulu bagaimanapun caranya.Aku perlahan bangun dari pangkuan kakak, dan berusaha untuk berdiri dengan kokohnya di antara kedua kakiku.Aku ingin sekali berlari dengan cepat lalu menangkap mereka satu persatu tapi sulit dengan tubuhku yang baru saja pulih.Disaat itulah, aku teringat akan latar belakang keluarga kami yang memang merupakan keluarga penyihir akan tetapi, itu sudah lama sekali.Aku tak yakin kalau darah penyihir masih mengalir dalam darahku atau tidak.
Tapi tak ada salahnya mencoba kan?Aku mengangkat tangan kananku yang ditopang oleh tangan kiriku sambil kuarahkan kepada sekelompok orang tersebut.Aku pernah membaca kalau sihir bisa dilakukan tanpa harus merapalkan sebuah mantra, cukup hanya dengan niat dan tujuan yang kuat.
Simbol air bercahaya biru terukir jelas di keningku.Biarpun aku tak melihatnya secara langsung, aku tahu jelas dengan melihat pergerakan dari simbol air yang perlahan terukir indah di keningku.Kakakku yang menyaksikannya hanya bisa mematung dan tak percaya akan kejadian yang dilihatnya.Adiknya yang hanya seorang manusia biasa dipikirannya, ternyata mewarisi darah penyihir dari masa lampau.Aku pun tak menyangka kalau ini benar-benar terjadi..
"Enyahlah kalian!!" ucapku untuk yang terakhir kalinya lalu menghancurkan mereka menjadi berkeping-keping dengan gumpalan air yang sudah kubuat sedemikian rupa sehingga membentuk jarum-jarum tajam yang bahkan bisa membelah besi.
Tak ada sedikitpun darah yang memercik ke penjuru ruangan rumah ini.Darah dari orang-orang pendosa itu terkunci di dalam air berbentuk kubus di hadapan kami semua.
''Kebinasaan akan datang kepada siapa saja yang berani mengusik keturunan sang Nero'' kata-kata itu seolah menjadi kunci pembuka memori ingatan orang-orang dari keluargaku yang juga mewarisi darah sang Nero.Kehancuran dimana-mana yang merupakan ulah dari para iblis juga yang membuat umat manusia hampir lenyap dari muka bumi.Berkat keberadaan keluargaku yang menjadi 'Pemurni', kelompok iblis seketika langsung dibuang kembali ke alamnya lagi.Namun tentu saja, kejadian itu sudah berlalu sekitar ratusan tahun yang lalu, hingga akhirnya para iblis itu mulai muncul kembali dan mulai berbaur di antara para manusia dan menunggu sampai waktu pembalasan tiba.
Sekelompok orang, ah tidak, maksudku iblis, yang baru saja kubunuh tentunya hanya beberapa dari mereka.Atau bahkan, belum mencapai 1% nya.Aku tahu jelas, dengan diwariskannya sihir ini padaku, menjadi awal mula pemusnahan terhadap mereka yang berani mengusik umat manusia, khususnya keturunan sang Nero.
Kakak, ibu, dan ayah, walau saat ini aku adalah seorang dari banyaknya 'Pemurni' di masa lampau, aku berjanji bahwa aku akan tetap hidup dan melindungi kalian dan umat manusia..
APAPUN YANG TERJADI!!
(Should I make a sequel or not?)