Hey, apa Kau tahu titik-titik kecil yang bersinar di malam hari itu?
Ya, bintang-bintang.
Mereka cantik, bukan?
Jika Kau orang dewasa, Aku ragu Kau akan mengatakan bintang-bintang cantik dengan sepenuh hati kecuali Kau ingin menghiburku. Karena yang Kutahu, semua orang dewasa tak lagi peduli pada bintang. Yang Kutahu, mereka hanya peduli tentang pergi ke kantor dan hal-hal membosankan lainnya. Setidaknya seperti itulah Papa. Orang dewasa itu orang yang sudah bekerja, dan papa sudah bekerja. Berarti papa orang dewasa.
Kecuali Mama, Mama mengatakan bintang cantik di malam cerah itu sambil tersenyum tulus padaku. Aku tahu Mama mengatakan yang sebenarnya. Karena Mama bilang tak baik berbohong, jadi Mama tak mungkin berbohong.
"Mama! Aku ingin ke bintang!"
"Kalau Kamu sudah dewasa, Kamu mungkin bisa mendekati bintang-bintang itu."
Tapi Aku ingin ke bintang. Bukan hanya dekat dengan bintang.
Aku kembali menatap titik-titik yang bersinar itu di malam ini. Aku mencoba meraihnya dengan tanganku, tapi tak tercapai. Dan mau melompat-lompat bagaimanapun Aku tetap gagal. Sepertinya mereka sangat tinggi walau terlihat sangat dekat.
Jika bintang itu benar-benar kecil, Aku ingin setidaknya ambil satu. Untuk ku gantung di langit-langit kamarku. Jadi, Aku tak perlu keluar malam-malam untuk melihat mereka. Tapi, tak ada salahnya untuk mengambil semuanya 'kan?
Kalau bintangnya besar, Aku ingin ke sana. Lalu tinggal disana. Karena bintang bersinar, mungkin nanti Aku akan punya lantai bersinar tanpa perlu menyalakannya terlebih dahulu.
Pokoknya, Aku ingin ke bintang!
Apa bintang bisa di raih dari atap di lantai dua?
Akhirnya Aku sampai di atap tanpa ketahuan Mama Papa. Tapi bintang-bintang itu masih jauh. Sejauh apa, sih, sebenarnya mereka?
Aku tak sengaja melihat tangga dari logam, entah dari besi, tembaga, atau baja aku tak tahu. Jadi Aku meyebutnya logam. Tak salah 'kan?
Mungkin dengan tangga besi atau tembaga atau baja itu Aku bisa meraih bintang?
Ternyata, walau Aku sudah sudah di atas, masih tetap tak bisa.
"Ck!" Aku mulai kesal, bagaimana sih caranya mendapatkan bintang-bintang itu?
Aku ingat ada pohon yang tingginya melewati atap lantai dua ini. Dan pohon itu ada di sana. Mereka tak berjalan seperti yang ada di kartun-kartun. Kapan, ya, Mereka akan berjalan? Apa Aku harus menunggui Mereka untuk melihat mereka berjalan?
Cukup meracau! Kembali pada bintang!
Aku rasa memanjat pohon itu adalah cara terakhir. Orang dewasa terbiasa mengukur panjang dengan meter atau kilometer. Aku ingin mencoba bertingkah seperti orang dewasa. Aku tebak dari tempatku berdiri ke puncak adalah tiga kilometer.
Apa kilometer lebih pendek dari meter?
Ah! Aku meracau lagi! Aku harus fokus pada bintang! Hanya pada Bintang!
Aku hampir di puncak pohon, tak berani memanjat lebih tinggi. Tapi sama saja.
Mereka terlalu jauh.
Aku menghembuskan napas pasrah. Mungkin Mama benar, Aku harus menunggu sampai dewasa untuk bisa setidaknya mendekatinya.
Yang bisa kulakukan sekarang adalah menjauhi mereka, yaitu dengan turun dari pohon.
Aku menahan napas dan memegang dahan kuat-kuat ketika melihat ke bawah. Sekarang Aku yakin, tinggi pohon ini adalah seratus juta meter.
"MAMA! PAPA! BIBI! TOLONG!!! NGGAK BISA TURUUUN!!"
°°°°°°°°°°
Aku menangis sesegukan di pelukan Mama. Mama, Papa, maupun Bibi tidak memarahiku. Tapi Bibi dan Mama malah dimarahi oleh Papa. Padahal yang memanjat pohon itu Aku, bukan Bibi dan Mama.
"Pa, jangan marah sama Mama sama Bibi. Yang manjat pohonnya Eca, Pa. Bukan Mama sama Bibi. Ini salah Eca." Kataku sambil mengusap air tangisan yang membuat pipiku basah.
Papa menghembuskan napas kesal,"Ma, Eca harus tidur dulu."
Aku lihat Mama mengangguk.
Mama menggendongku sampai ke kamar. Lalu menidurkanku di tempat tidur, Mama-pun mengusap rambutku.
"Eca, kenapa Kamu manjat pohon?"
"Mama, Aku ingin ke bintang."
"Sayang, Kamu tahu gak? Bintang itu jauh sekali. Lebih jauh dari yang Kamu bayangkan."
"Lebih jauh dari tower sinyal, Ma?"
Kulihat Mama mengangguk,"Tapi bukan nggak mungkin Kamu kesana, Sayang. Tapi Kamu harus menunggu sampai dewasa untuk benar-benar kesana."
"Gak bisa sekarang, Ma?"
Mama menggeleng,"Kamu bisa bermimpi dulu kalau ingin ke sana sekarang, Sayang. Dan percaya, Kamu bisa meraih mimpi Kamu."
Aku tak mengerti ucapan Mama. Mimpi itu ada saat Aku tidur, dan tak bisa di kejar. Bagaimana caranya mengejar mimpi?
"Eca, Kamu tahu benda langit apa yang bersinar di malam hari selain bintang?"
Aku mengingat-ingat,"Bulan?"
"Kamu gak mau ke bulan?"
"Memang bisa?"
"Bisa. Bulan deket Bumi, Kok. Sudah besar Kamu bisa kesana."
Aku menarik napas,"Beneran, Ma?"
Mama mengangguk.
Aku langsung bangun lalu melompat-lompat di atas kasur,"PAPA! MAMA! AKU MAU KE BULAN!"
{The end}