“Pahlawan merupakan orang-orang yang rela mengorbankan segala hal yang dimiliki
termasuk nyawanya sendiri untuk membela tanah air.”
“Maaf, Bu. Saya izin bertanya. Kenapa guru juga disebut sebagai pahlawan? Apakah semua
guru termasuk Ibu sendiri pernah ikut berjuang membela tanah air seperti yang Ibu jelaskan tadi?”
tanya salah satu murid dengan mengacungkan tangannya tanda memperlihatkan diri. Ania, anak
kelas lima SD yang dikenal dengan kekritisannya dalam menangkap dengan jelas semua yang telah
dijelaskan oleh guru maupun orang lain. Namun, Ania memiliki kepribadian yang terbilang aneh.
Semua pertanyaan yang dia ajukan harus segera dijawab oleh orang yang menerima pertanyaan
tersebut. Jika tidak, Ania tidak akan pernah lagi mengungkit pertanyaan yang sama.
Saat bu Anti, guru yang mengajar di kelasnya hendak menjawab tertahan dengan suara bel
sekolah pertanda pulang berbunyi. Ingin sekali menjawab pertanyaan Ania. Namun, peraturan
tetaplah peraturan. Kini, semua anak didiknya harus pulang termasuk juga Ania agar tidak
mendapat teguran dari kepala sekolah.
***
“Ania!” bentak ayah, saat melihatku pulang dengan keadaan yang berantakan seperti
biasanya. Aku memilih diam, mendengar dengan malas ocehan yang terlontar kepadaku.
“Ania? Kamu dengar, tidak!” Aku tersentak. Seketika lamunanku buyar. Aku segera mengangguk patuh dan melangkah menuju kamar. Iya, kamar yang persis kandang sapi. Semua barang berserakan di mana-mana. Sampah berhamburan di semua tempat. Satu kata untuk mendefinisikannya, kotor!
Aku merenung, mengingat kejadian-kejadian yang terjadi pada diriku akhir-akhir ini. Usia 17 tahun ini, di mana aku mulai beranjak dewasa membuatku kesulitan untuk melakukan segala hal.
Pikiranku hanya dipenuhi dengan bermain dan bermain. Ingin sekali menjadi kecil kembali. Tidak
ada masalah yang harus kupikirkan. Aku sering mendatangi hampir semua bar di kota ini. Iya,
tempat yang berisik, tapi berarti bagiku. Aku ingin menghentikan ini semua! Tapi …, argghhh! Aku
Cuma butuh satu saja orang yang mendukung dalam kondisiku saat ini. Bukan malah selalu
ditentang.
Saat sedang asik meratapi nasib, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar dan muncullah sosok
ibu. Tampak ibu melihat sekitar lalu menghela napas, berjalan mendekatiku dengan muka kesal. Dia menghamburkan semua kertas yang dibawa ke arahku dan segera pergi dari ruangan kotor ini. Aku
pun mengernyit heran? Apa ini? Apakah aku dikeluarkan dari sekolah lagi? Kumohon, ini sudah
kelima kalinya. Aku sekolah di mana lagi kali ini? Setelah kubaca, ternyata bukan surat pindah
sekolah, melainkan rekomendasi universitas.
Aku mulai membaca satu per satu kertas yang ibu berikan. Netraku menyorot hal yang tidak
biasa, sekolah intensif? Untuk apa? Apakah ibu akan mengirimku ke sana? Ah, tidak mungkin. Aku
akan pergi sendiri.
Di sekolah intensif, aku menemukan suatu hal yang menarik. Pak Agung, guru pembimbingku pada sekolah ini. Guru ini berbeda dengan guru yang pernah kutemui sebelumnya.
Saat pertama bertemu sudah membuatku yakin bahwa dialah orang yang kucari. Penampilanku
yang kerap menjadi komentar jelek orang-orang sekitar, dianggap biasa olehnya. Justru dia memuji
penampilanku.
Kami mengobrol lama tentang masalah yang tengah kuhadapi. Pak Agung mulai bertanya, “Apakah kamu tidak ingin melanjutkan sekolah ke Universitas Gajah Mada?” Aku mengernyit heran sama sekali tidak terpikir olehku. Aku menggeleng lalu terdiam dalam keheningan, hanya mendengar desiran angin yang menerpa tubuhku melalui celah jendela yang ada.
“Ada banyak sekali pria popular di sana.” Pak Agung berkata lagi. Aku beralih
membanyangkan bersekolah di sana dengan dikelilingi banyak pria tampan idamanku. Sungguh pak Agung adalah orang yang selalu kucari-cari selama ini. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk mulai belajar untuk menggapai ketertinggalanku selama ini.
“Ayah, Ibu, lihat. Aku akan lanjut bersekolah di universitas ini,” teriakku gembira segera
menghampiri mereka. Ayah terlihat membaca semua kalimat yang ada pada lembar yang kuberikan padanya. Bukan mendukung, sebaliknya aku menerima tamparan keras. Lebih keras dari yang sering kuterima sebelumnya.
“Apa kau baru saja bermimpi? Ini adalah universitas ternama di negara ini! Melihat kondisimu sekarang, aku malah tidak yakin untuk tetap menyekolahkanmu. Mulai hari ini dan seterusnya aku tidak akan pernah mengeluarkan uang sepeser pun untukmu! Camkan itu!” Aku beralih menatap ibu, berharap rasa kasihan kepadanya. Namun, ibu hanya membuang muka dan pergi mengikuti ayah.
“Ya Tuhan, aku ingin berubah,” lirihku meneteskan air mata untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Aku merasa terluka melihat orang tua yang sama sekali tidak peduli terhadapku. Ini semua adalah salahku. Salahku!
Aku berjalan menuju kamar, melihat ke kotoran di sekeliling. “Aku akan membersihkan kamar ini, dan mulai belajar perlahan. Besok aku akan pergi menemui pak Agung untuk memintanya mengajariku semua pelajaran,” ucapku tersenyum. Entah kenapa hatiku terasa seperti memiliki taman bunga yang indah dan berseri seri.
Pak Agung terus mengajariku dengan penuh kesabaran dengan tingkahku yang seperti anak
anak. Hari demi hari berlalu, nilaiku mulai meningkat yang tadinya cuma bernilai nol, kini menjadi
30. Seandainya orang tuaku tidak acuh, mungkin kami akan bahagia bersama. Namun, mereka
hanya mementingkan semua kebutuhan adikku karena dia memiliki nilai yang fantastis.
Pagi hari aku berjalan menuju sekolah, bersekolah seperti biasanya. Ingin segera menemui
semua teman-temanku. Ketika baru melangkah memasuki kelas, tubuhku dihantam banyak remasan kertas, sengaja diarahkan ke arahku. Aku menatap ke depan, melihat tatapan benci yang dilontarkan oleh mereka.
“Kenapa ketika aku sudah berubah, kalian malah membenciku? Sama seperti orang tua yang
tidak pernah mengharapkan kehadiranku di dunia ini,” lirihku hampir tidak terdengar. Aku
memutuskan untuk mengacuhkan semua lontaran buruk mereka tentangku. Memilih untuk tetap
mengikuti pelajaran di kelas.
Pulang sekolah, berjalan dengan keadaan yang buruk dan kacau. Siapa aku? Apakah aku
dianggap di dunia ini? Banyak pertanyaan yang terputar dalam benakku. Aku pulang dengan
keadaan yang lesu, ingin sekali untuk mengakhiri hidup ini.
Di belakang sekolah, tepat di sekolah lamaku. Aku melihat adikku sedang menyiapkan kertas contekan untuk ujiannya hari ini. Cih! Aku lebih bangga mendapat nilai nol dari hasil usahaku daripada harus menggunakan cara yang kotor seperti itu. Aku pergi, menghiraukan rencana jelek dari adikku. Aku tidak peduli! Aku ingin segera pergi menemui pak Agung. Saat ini, hanya pak Agunglah temanku satu-satunya, teman sekaligus orang tua penggantiku.
Saat ingin masuk ke ruangan, samar-samar aku mendengar percakapan pak Agung dengan
seseorang yang ternyata kepala sekolahku.
“Kamu yakin ingin melanjutkan untuk membimbing anak itu?”
“Aku yakin, sangat yakin.”
“Dia adalah murid terbodoh di sekolahku. Aku berencana untuk mengeluarkannya dari
sekolah.”
“Tunggu dulu! Tidak ada manusia yang bodoh di dunia ini. Beri aku waktu satu tahun
untuk merubahnya. Aku pastikan dia akan lulus dengan nilai tertinggi dan dapat masuk Universitas
Gajah Mada melalui jalur beasiswa.”
Bukannya merespon pak Agung, kepala sekolah langsung meninggalkan ruangan tersebut
tanpa mengucap sepatah kata pun. Aku mulai melihat wajah pak Agung yang penuh dengan
kerisauan.
'Apakah bapak melakukan ini semua untukku? Demi aku yang payah ini?'
Merasakan sesak di dada membuatku 'tak kuasa menahan air mata. Aku meninggalkan tempat itu, mengurungkan niat bertemu dengannya.
“Aku berjanji, Pak. Aku akan berubah. Bukan
hanya kemampuan, tapi juga merubah sudut pandang orang lain terhadapku.”
Mulai saat itu, aku merubah segalanya tentang diriku. Mengurangi waktu bermain, belajar
sepanjang hari, dan mengikuti les semua mata pelajaran. Semua kulakukan demi kebaikan diriku.
Aku perlahan mulai menyadari tentang universitas yang pak Agung rekomendasikan. Tidak, aku
tidak akan tergoda dengan keberadaan cowok di sana. Aku ingin masuk ke Universitas Indonesia
kemudian melanjutkannya ke Universitas Harvard, Amerika. Pertama kalinya dalam hidupku
memiliki impian sebesar ini.
***
“Ayah! Ibu! Lihat! Apakah kalian tidak bangga tehadapku? Aku berhasil masuk universitas
ternama di negara ini.” Aku menunjukkan semua kertas yang berisi nilai dan tulisan lulus dengan
logo Universitas Indonesia.
“Aku tahu, kalian pasti bangga di sana. Aku juga menyadari kenapa kalian bersikap keras
terhadapku. Terima kasih Ayah, Ibu.” Aku menangis di antara kedua makam ayah dan ibuku.
Semuanya terlambat. Aku bahkan belum sempat memeluk mereka, merasakan kebahagiaan yang
kunantikan.
Aku hanya punya pak Agung yang menyayangi dan bersedia untuk membelaku dari kerasnya hantaman dunia. Aku mulai mengerti makna kata pahlawan. Sesungguhnya pahlawan bukan hanya mereka yang membela negara ini dahulu. Pahlawan sebenarnya adalah mereka yang dengan berani menentang dunia demi kebenaran.