Aku? aku dulu selalu membiarkan segalanya berlalu begitu saja
karena aku tidak mau menimbulkan pertengkaran.
setiap kali pasanganku melakukan sesuatu yang salah, aku akan mengabaikannya.
aku memilih berpura-pura itu tidak terjadi, aku pikir itu adalah cara untuk menjaga hubunganku tetap utuh.
Tapi semua yang aku lakukan hanyalah membuat diriku kecewa. Aku tidak bahagia
itulah mengapa banyak hal menjadi berantakan.
Hingga suatu waktu dia pergi. bukan, dia 'katanya' bukan ninggalin aku, dia akan usahakan untuk kembali. tapi kenyataannya apa? lebih dari seminggu aku menunggu, hingga aku sempat mendengar kalau dia akan menikah. tapi aku tidak tau, itu benar adanya atau tidak__aku tidak peduli
Hubunganku tandas, kurang lebih dua bulan berjalan, dan terlalu banyak kenangan pahit yang sempat dia torehkan. aku telah berkali kali berusaha ikhlas, tapi tetap saja rasanya sakit. Aku membencinya__andai dia jujur padaku, andai dia tidak meyakinkan aku dan membuatku terus berharap dia pulang, dan andai sebelum dia pergi dia jujur saja bahwa disana dia memiliki wanita lain__mungkin aku tidak akan se-benci ini padanya.
Setelahnya, aku benci dengan lelaki, terlalu banyak yang berusaha untuk dekat, tetapi selalu ku pinta untuk menjauhi aku.
Hingga suatu saat aku dipertemukan dengan seseorang yang mampu mencairkan bekunya hatiku. ntahlah, aku tidak tau ntah apa yang membuatku tertarik padanya. padahal, saat pertama kali aku tau bahwa dia punya hubungan spesial dengan salah satu temanku, aku selalu muak melihat mukanya, aku selalu beranggapan bahwa dia adalah lelaki paling tolol karena masih mau mempertahankan perempuan yang jelas jelas telah menjadikannya sebagai pelarian.
Tetapi, setelah hubungan mereka berakhir, kami malah deket, gatau kenapa kok bisa bisanya aku tertarik pada si tolol yang satu itu. pagi, siang, sore, malam, tidak akan pernah terlewatkan untuk bertukar kabar.
Dan akhirnya kami resmi jadian, tepatnya tanggal 01 Januari 2021, aku tidak tau apa yang membuatku mau menerimanya, sudah berkali kali ingin membuang perasaan itu, tapi semakin aku menjauh, rasa itu semakin menyiksa.
Akibat dari trauma masa lalu, aku menjadi sosok yang posesif, ini itu tidak boleh, dikit dikit marah, apa apa dimasukkan ke hati__baperan, maunya di ngertiin mulu. Egois banget kan aku?
Tapi hebatnya, dia masih tetap mau padaku
Dia lelaki dingin, tidak seperti orang orang yang sempat menawarkan hati untuk aku berlabuh. dia terkesan cuek dan pastinya tidak banyak bicara, dan terkesan tidak peduli juga. Dan ternyata dibalik sikap dinginnya, dia bisa bucin banget hehe. dan sedikit tolol dalam urusan percintaan. Ehh, apa bedanya denganku? wkwk
walaupun dia tidak seromantis lelaki lain, tetapi dia selalu bisa membuatku jatuh cinta berkali kali dengan caranya, walau terlalu sering bertengkar dan menangis, tetapi tidak pernah terbersit sedikit pun untuk mengakhiri.
Mungkin, kalau aku tidak sesayang ini padamu, aku sudah melepaskanmu dari dulu. tapi rasa sayangku lebih besar daripada egoku.
Mungkin aku sering mengucap 'putus' tetapi percayalah, aku hanya tidak mampu untuk berpikir, aku bingung mesti gimana. Jadi, tolong terus bimbing dan yakinkan aku ya!!😗♥️