Bulan April sangat berarti bagiku, karena saat itulah bunga sakura bersemi, dan kau datang ke Bumi. Aku memeluk tubuh seorang bayi perempuan bersama suamiku, menikmati guguran sakura dari balik jendela rumah sakit. Saat itulah, aku memutuskan untuk memberikanmu sebuah nama, Sakura.
Sakura, mungkin kau masih belum ingat. Saat itu memang usiamu baru tiga tahun. Kau hanya memandang polos pada meja altar saat para biksu membacakan rapalan doa. Aku memeluk tubuhmu, tak berhenti terisak melepas kepergian salah satu sosok yang amat aku cintai untuk selamanya. Kau tidak menangis, hanya menyaksikan dengan sepasang bola mata hitam-mu kerumunan orang berpakaian serba hitam, termasuk kau dan aku. Lalu, tangan kecilmu berusaha menggapai pipi-ku untuk menghapus cairan bening yang mengalir deras.
“Jangan menangis, ibu,”
Kata-katamu membuatku kuat. Aku mendekapmu erat. Aku masih memilikimu, satu lagi orang yang kucinta. Jadi, sesuai dengan ucapanmu, aku akan tetap kuat dan membesarkanmu. Pada foto pria itu, aku mengusapnya lalu berkata lirih.
“Serahkan Sakura padaku. Kau istirahat dengan tenang,”
Anak gadisku tumbuh dengan cepat. Ia masuk playgroup, lalu TK. Ia menjadi seorang gadis ceria dan lincah. Namun, ada perbedaan antara dirimu dengan gadis pada umumnya. Kau tidak suka boneka, perhiasan, ataupun gaun-gaun seperti anak perempuan. Kau cenderung menyukai permainan laki-laki, seperti mobil balap atau robot. Bahkan kau terlihat sering memanjat pohon. Ibu-ibu lain mengomentari kepribadianmu, mengkhawatirkannya karena di usia dewasa kau akan kesulitan mendapat pasangan. Aku sendiri tak terlalu memikirkannya. Bahkan, saat bertanya cita-citamu nanti, aku hanya tertawa pelan meresponnya.
“Aku ingin menjadi kamen rider,”
Kebiasaanmu tetap tak berubah, bahkan semakin menjadi saat kau menginjak usia remaja. Di SMP, kau malah mengikuti klub Karate, menggembeleng dirimu dengan ilmu bela diri. Rambutmu selalu terlihat pendek. Kau menolak menggunakan lip gloss atau perlengkapan make up lain untuk remaja.
Sampai suatu ketika, di usiamu yang menginjak empat belas tahun, gelagatmu mulai berubah. Kau menjadi sosok gadis yang pendiam, dan lebih sering menyendiri. Aku bahkan tidak pernah melihatmu bersama teman-temanmu. Apa yang terjadi? Kau menolak bercerita padaku, lebih memilih keheningan sebagai pelampiasan.
Sampai aku menemukan jawabannya sendiri. Di suatu siang, saat aku sedang sibuk bekerja di kantor, aku mendapat sebuah telepon dari sekolah Sakura. Aku tidak percaya mendengar sang kepala sekolah bercerita kalau gadis kecilku menghajar segerombolan siswi sekelasnya.
Aku pun bergegas ke sekolahnya. Kenapa ia melakukan hal seperti itu? Walau tomboy, Sakura tak pernah berbuat ulah, apalagi berkelahi. Apa karena aku bekerja, sehingga kurang bisa melakukan pengawasan terhadapnya?
Ia berada di ruang konseling bersama empat orang siswi beserta orang tua mereka. Wajah keempatnya babak belur. Rambut mereka acak-acakan. Bahkan ada bagian wajah yang lebam. Sakura sendiri tak terlalu mengalami banyak luka. Hanya lecet sedikit di wajahnya. Ia menunduk dan diam, seperti seorang kriminal di dalam sebuah ruang interogasi.
“Ia menghajar teman sekelasnya karena tidak terima dengan perlakuan mereka,” Kepala Sekolah itu menjelaskan. Salah seorang guru konseling mendampingi gadis itu. Aku menatap wajah Sakura. Ia seperti berusaha sekuat tenaga menahan tangisannya.
“Bahaya memiliki anak gadis seperti itu! Kau lihat apa yang ia lakukan pada puteriku!?” Ibu dari siswi yang dihajar Sakura memarahiku. Aku hanya membungkuk hormat untuk meinta maaf.
“Anakmu itu akan menjadi liar! Bagaimana kau mendidiknya, hah?” Aku hanya diam sambil terus membungkuk, menerima segenap caci maki dari mereka. Guru konseling dan kepala sekolah menenangkan. Sampai akhirnya, kami pun bisa berdamai. Sebagai gantinya, Sakura harus menerima hukuman skorsing selama satu minggu. Kalau ia berkelahi lagi, ia bisa dikeluarkan dari sekolah.
“Mereka duluan yang mengganggu. Tiap hari aku menghadapi ledekan mereka. Bahkan, mereka juga melukai-ku secara fisik. Memangnya aku tidak boleh melawan?” Sakura membela diri saat aku menanyainya di rumah. Ia terlihat sangat emosi. Aku berusaha tenang, walau tidak bisa menerima alasan itu. Sakura, jujur saja saat itu aku merasa sangat malu dan tertekan.
“Janji pada ibu ya, jangan ikut kelas Karate lagi, lalu jangan berkelahi lagi,”
Emosimu seketika meledak. Kau menggebrak meja sambil menatapku tajam. Mungkin yang kuucapkan semakin membuatmu terpojok.
“Apa salahnya wanita menjadi kuat?”
“Itu bukan kuat! Kau salah mempergunakannya,”
“Lalu aku diam saja kalau diganggu lagi, begitu?!”
Aku menampar pipi anakku. Baru pertama kali aku menggunakan kekerasan untuk mendidiknya. Setelah itu, kami berdua sama-sama menangis. Ia menutup wajahnya lalu beranjak ke kamarnya, mengurung diri di sana.
Hatiku teramat hancur. Aku tidak bisa tidur semalaman mengingat perlakuan kasarku terhadapnya. Tapi, bagiku itu cara satu-satunya agar membuatnya mengerti. Saat melamun, aku mendengar bunyi debaman pintu. Aku beranjak dari tempat tidur. Aku takut Sakura melakukan hal macam-macam.
Aku mencarinya ke sekitar ruangan. Ternyata ia ada di pekarangan rumah, menatap pohon Sakura yang masih berupa batang kering. Sakura memunggungiku dengan wajah tertunduk. Aku tahu ia sedang menangis. Aku pun mendekap anak-ku dari belakang.
“Aku tadi bermimpi ayah. Aku tahu ia ayah. Ia bilang aku cantik. Ia bilang aku harus menjaga ibu karena ibu sudah bekerja keras membesarkanku,” Ucapnya dselingi oleh suara isak tangis. Aku pun ikut menangis mendengarnya. Kuelus rambut hitam pendeknya lalu mengecup pipinya.
“Aku juga akan menjagamu, Sakura,”
***
Sakura-ku saat ini tumbuh menjadi wanita dewasa. Ya, bulan April ini ia sudah berusia dua puluh tahun. Namun, kepribadiannya tetap seperti Sakura yang dulu. Rambutnya tetap pendek. Pakaiannya tetap kemeja dan celana jeans. Dan, ia memutuskan untuk masuk akademi polisi. Sakura memutuskan pilihan masa depannya sendiri. Aku hanya mendukung karirnya, berpesan padanya agar menjadi sosok yang tidak menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar.
Sakura, kini kau sudah menjadi wanita yang semakin kuat. Kau bekerja di divisi kriminal, berurusan dengan para penjahat. Aku selalu mendoakan keselamatanmu. Terkadang, aku menceritakan kekhawatiranku pada suamiku lewat bingkai fotonya.
Pernah suatu malam, aku mendapat telepon dari pihak polisi. Sakura mengalami kecelakaan kerja. Ia mendapat luka tusukan dari salah satu penjahat yang hendak kabur. Dengan berurai air mata, aku bergegas ke rumah sakit. Sakura masih tak sadarkan diri berada di ruang operasi. Aku menangis di koridor, berdoa agar nyawanya bisa diselamatkan. Sakura adalah hartaku. Sakura adalah malaikat kecilku. Aku tak ingin kehilangan orang yang kusayang lagi.
Sampai situasi sudah kondusif. Gadis itu membuka matanya. Ia tersenyum lirih saat melihatku sebagai sosok pertama. Aku langsung mendekap lengannya sambil mengusap pipinya. Tangannya perlahan menggapai pipiku lalu menyeka air mata yang mengalir deras, persis seperti apa yang ia lakukan saat berumur tiga tahun.
“Jangan menangis, ibu. Aku selalu ada di sisi ibu,”
Aku mengangguk cepat, menyeka air mataku, lalu beralih mengelus lembut pipinya.
“Ibu menyayangimu, Sakura,”
***
April tahun ini, aku kembali menatap bunga Sakura yang bersemi di halaman rumah. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, namun pohon ini tetap berbunga tiap musimnya. Pohon Sakura yang menjadi pengingat akan kenangan demi kenangan bersama orang yang aku sayangi.
Sakura-ku saat ini akan melangsungkan pernikahannya pada akhir April. Pria yang dipilihnya berasal dari divisi yang sama, seseorang yang ia tolong dari penjahat saat mereka melakukan penyergapan. Pria itu dengan penuh semangat mengajukan lamaran di depanku dan anak gadisku. Sakura juga mencintainya, sehingga aku pun merestui hubungan mereka.
Sakura sangat cantik dengan gaun pengantinnya. Setelah selesai dirias, ia berpaling dari kaca lalu memeluk-ku yang sedari tadi memperhatikannya. Kami tak saling melepas rangkulan. Aku mengusap punggung berlapis gaun pengantin.
“Ibu sayang Sakura. Terima kasih sudah menjaga ibu selama ini,”
“Sakura akan tetap ada di sisimu. Sampai kapanpun, ibu,”
Sudah berapa lama waktu berlalu? Di tengah alur hidup manusia, kau selalu tumbuh dan bersemi dengan indahnya. Sakura, teruslah menunjukan kekuatan di balik keindahanmu. Kini aku masih bisa berada di sisimu. Namun suatu saat nanti, saat aku pergi, kau harus tetap menjadi Sakura yang selalu kuat dan penuh semangat.
Wahai Sakura, bunga-ku yang paling berharga.