Suatu hari, sebuah keluarga bahagia hendak pergi berlibur ke pantai. Suasana yang nyaman dan tenang itu, membuat mereka terlarut dalam hembusan angin dan deburan ombak pantai.
Tanpa disadari, anak mereka pergi meninggalkan mereka. Sang ibu dan sang ayah yang sibuk dengan handphone yang dipegangnya tidak fokus menjaga anak nya itu.
Anak yang masih berumur 6 tahun itu, berkeliaran di pantai tanpa ada pengawasan.
Tiba-tiba...
Srettt... Seseorang dengan jubah hitam yang ia pakai secara paksa menggendong tubuh anak itu. Ia mengikat tangannya, dan menyekap mulutnya lalu dimasukkan ke dalam mobil hitam.
"Hmpp...hmpp ..." Anak itu berusaha meminta tolong, tapi hasilnya nihil, tidak ada seorang pun yang mendengar hal tersebut.
Anak perempuan itu tertidur karena suatu asap yang ia hirup.
"Uhmm.." mata anak itu terbuka, ia terlihat bingung, dimana aku berada? Itulah pikiran anak kecil itu.
"Anak manis, rupanya kau sudah bangun ya.." seorang wanita dengan pakaian terbuka menghampiri anak itu.
"Bodyguard ku, apakah barang-barang yang tadi kuminta sudah disiapkan?" tanya wanita itu.
Keempat bodyguard ( pengawal ) nya mengangguk, dan memberikan beberapa barang yang sudah tersedia di atas meja.
Si wanita mengambil sebuah permen, ia memberikan anak itu permen tersebut.
"Makanlah nak, ini lezat dan manis" ucap si wanita.
Anak itu menggeleng, ia ingat kata gurunya saat ia sekolah beberapa hari lalu.
Gurunya berkata, "Anak-anak, jika ada seseorang yang mengaku-ngaku sebagai saudara atau apapun itu dan berkata bahwa ia mengenali keluargamu, maka jangan langsung percaya! Datang dan adukan pada ibu guru atau siapapun orang yang berada di dekat sana untuk meminta perlindungan. Dan satu hal lagi, jangan menerima makanan atau apapun itu dari orang yang tidak kalian kenal" jelas si Bu guru.
"Aku tidak mau!" ucap si anak.
"Ayolah... cicip sedikit saja, ini sangat lezat!" ucap wanita itu.
Si anak tetap menolak, dan membuat wanita yang menculiknya kesal. Ia mengambil pisau dan menggores pipi tembam anak itu, memaksa anak itu untuk makan permen atau tidak ia akan dibunuh.
"CEPAT MAKAN!" titah si wanita, tapi anak itu tetap keras kepala tidak ingin makan.
Anak itu yang diborgol oleh borgol besi, tidak bisa melawan, begitupun dengan kakinya juga.
"Huwaa...aku gak mau...gak mau!" Ucap anak itu keras kepala.
Wanita itu makin dalam menggores pipi anak itu, ia dengan paksa ingin memasukkan permen kecil itu di mulut si anak.
Tapi tiba-tiba...
BRAKK...pintu ruangan yang agak gelap itu dibuka secara paksa. "DORRR DOORRR" tembakan bertubi-tubi terdengar.
"Angkat tangan!" Teriak sang polisi disana.
Di samping polisi itu, tampak dua orang tua yang menangis dan menghampiri anaknya.
"Putriku...hiks...hiks..." Tangis sang ibu.
Tidak ada pilihan lain, wanita penculik tadi berusaha kabur. Tapi sayang, dia tidak akan mudah kabur begitu saja.
"Polisi, tolong hukum dia dengan hukuman yang setimpal!" ucap si ibu menangis histeris melihat anaknya yang berdarah-darah.
Sang polisi mengangguk, "Tenang saja Bu, lagipula...saya berterimakasih kepada kalian sekeluarga. Berkat kalian, buronan yang saya cari selama ini tertangkap!" Polisi itu membungkuk hormat.
"Maksud anda?" Tanya ayah dari anak yang diculik tadi.
"Wanita ini adalah penculik yang suka mengambil organ anak-anak kecil dengan tragis, maka dari itu tindak kejahatannya tidak bisa diampuni!" Tegas sang polisi.
Polisi itu pergi membawa penculik dan pengawalnya. Sementara, kedua orang tua itu menangis tersedu-sedu memeluk anaknya yang tampak shock berat itu.
Tapi... Semua nya tidak bisa diubah, kedua orang tuanya tak akan bisa lagi kembali ke masa lalu dan membuat shock di hati anaknya hilang.
"Maaf...maafkan kami nak..hiks" mereka terus menangis.
Seperti halnya sebuah boneka, anak itu hanya diam mematung. Ia tidak menyahut ucapan kedua orang tuanya itu. Hatinya seperti tertutup, matanya shock dan perasaannya sangat tertekan. Semenjak kejadian itu, ia menjadi anak yang pendiam, tidak terlalu banyak bicara, dan hati-hati. Kedekatan antara ia dan keluarganya pun merenggang.