Di kehidupanku yang damai tenang dan tentram tanpa gangguan tiba-tiba saja kau datang padaku dengan santainya dan merusak lingkungan baik di sekitarku.
Kau juga tanpa sadar telah mengambil sebagian tempat peristirahatanku tanpa adanya sepatah kata.
Bahkan kau juga seenaknya marah - marah tanpa alasan yang jelas dan merusak suasana hati yang telah aku bangun sejak pagi juga menunda semua hal yang ingin aku lakukan.
Saudara.
Aku mengerti kita adalah saudara.
Dua anak kandung yang telah di lahirkan dari rahim yang sama dan di besarkan oleh kedua orang tua yang sama.Tapi bisakah kau memahami perasaanku sedikit saja. Aku yang telah memasakkan makanan pokok untuk makan setiap hari, aku juga telah merapikan setiap cucian dan pakaian kotor yang selalu kau tinggalkan seenaknya.
Kau sungguh bagaikan tong kosong yang nyaring bunyinya. Di hadapan orang lain kau selalu berbicara dengan sangat hebat dan lantang seolah semua yang kau katakan benar adanya tapi kenyataannya yang kau katakan hanyalah sebuah perkataan yang dengan mudah kau ucapkan dengan lidah tak bertulangmu itu. Jujur hal itu sungguh membuatku kesal.
Di mata orang aku yang seorang pendiam ini hanyalah pria yang tidak bisa berbuat apa-apa namun nyatanya akulah yang paling banyak berperan sebagai adik sekaligus kakak di lingkaran persaudaraan ini. Akulah yang selalu berusaha bersabar menghadapi seorang kakak yang masih terjebak di dalam sifat kekanak-kanakannya dan tidak pernah mencoba untuk menjadi dewasa.
Jujur aku sebenarnya sudah tidak memperdulikan bagaimana kehidupan kakaku ini atau kapankah dia bisa menjadi sedikit dewasa dan belajar dari kesalahan-kesalahan sebelumnya.
Semua hal itu sudah tidakku perdulikan lagi.
Tapi bisakah aku memohon agar kakaku tidak merusak suasana hatiku di pagi hari, bisakah aku memakan makanan tanpa memperdulikan dia sudah makan atau tidak, dan bisakah kau mencuci semua pakaian kotormu itu dengan tepat waktu karena aku sudah sangat lelah melihatnya.
Dan jangan sampai aku menjadi seseorang yang sangat mengerikan hanya karena kesalahan kecil yang kau buat itu karena aku sudah sangat lelah untuk menyimpan dendam dan amarah.