Stress, sakit dan merasa down, dijadikan alasan untuk dirinya pergi ke tukang tato. Ia berharap dengan tato permanen yang akan dia ukir ini, seluruh stress, rasa down dan segenap rasa miliknya dapat tertuangkan ke pembuatan tato.
Itulah mengapa ia rela menahan sakitnya ditato ini demi mengalahkan rasa sakit yang ada di hatinya. Rasa sakit yang telah ditorehkan secara terus menerus oleh semesta ini.
Sakit yang menjadi luka hati yang sulit disembuhkan dan malah terus bertambah seakan diberi air laut di atasnya. Harapnya, ia dapat mengalihkan sakit itu ke sakitnya ditusuh dan digores jarum pembuat tato ini.
Namun sepertinya hati dan rasanya telah mati, karena tak ada sedikit pun rasa sakit yang dirasakannya ketika jarum itu mulai mengukir lengannya.
Ekspresinya tetap datar dan tak menunjukkan rasa sakit membuat heran sang penindik tato. Baru kali ini ada customer yang minta ditato permanen tapi tak ada sedikitpun rasa sakit di wajahnya malah ekspresinya tetap datar.
Karena memang tak merasakan apapun, tak seperti yang diharapkannya makanya wajahnya itu tetap datar. Harapannya terbuang percuma, karena sampai pembuatan tato itu selesai tak sedikitpun rasa sakit ditato menghampirinya.
Meski kecewa karena tak dapat melampiaskan rasa yang terpendam di hatinya, ia tetap berpikir untuk kembali mentato setiap bagian tubuhnya.
Mungkin suatu saat ia bisa merasakan rasa sakit untuk pengalihannya itu.
Lagipula daripada dia melakukan self harming, menurutnya lebih baik mentato dirinya sekalian.
FIN~~~