Kenapa rasanya amat sulit untuk move on dari mantan kekasih? Apa jawaban atas pertanyaan ini?
Aku sudah banyak mencari berbagai tutorial agar bisa terlepas dari bayangan mantan, tapi itu tak semudah yang kubayangkan. Rasanya tutorial tersebut hanyalah kebohongan belaka.
Jika begini, aku tak akan siap untuk mencintai wanita lain, sebab bayanganku yang terus saja tertuju pada mantanku, Chica.
💔💔💔
Namaku Alfin, kelas 11 IPS 2, umurku kini 16 tahun.
Di dalam kelas 11 IPS 2, pelajaran Bahasa Daerah.
Guru Bahasa Daerahku, Pak Dadang, terkenal asik oleh satu sekolah ini. Jika pelajarannya dimulai, seisi murid seketika bersemangat ria, membuat rasa kantuk hilang entah kemana perginya.
"Jadi kemarin tuh Bapak sedang masak mi instan di dapur. Terus Bapak lihat sesuatu nih di samping dapur, seperti bayangan."
Kami mendengarnya dengan penuh antusias.
"Bapak melihatnya lebih dekat. Setelah itu lebih dekat lagi."
Semakin antusias.
"Setelah dilihat-lihat, ternyata itu adalah bayangan mantan!"
Apa!
Teman-temanku tertawa puas. Sedangkan aku hanya pura-pura tertawa. Dasar Pak Dadang, membuatku teringat pada Chica saja!
"Hmmmm... Kalau dilihat-lihat kamu pasti punya mantan, Alfin!" Ketawamu itu terdengar seperti dibuat-buat, mencurigakan." Pak Dadang berbicara padaku.
Aku menelan ludah.
"Benar, pak! Dulu dia putus dengan Chica saat SMP, kami semua mengetahuinya!" Celetuk Gerhana, temanku.
Seluruh temanku mengangguk, setuju dengan Gerhana. Lantas tertawa.
"Emmm, sudah ya semuanya, nanti Alfin semakin teringat pada mantannya, kasihan." Pak Dadang menenangkan.
Semuanya pun terdiam.
"Emm... Ini bekas pelajaran sejarah, ya?" Pak Dadang menunjuk tulisan yang ditulis di atas papan tulis.
"Ya pak..."
Pak Dadang bergegas mengambil penghapus papan tulis.
"Anggap saja tulisan ini menceritakan sejarah yang menceritakan mengenai berbagai kisah kalian dengan mantan kalian, kenangan yang selalu menghantui kalian walau kalian sudah mencoba untuk melupakannya dengan berbagai cara."
Kami kembali antusias.
"Sekarang kita hapus!" Pak Dadang mulai menghapusnya.
Ia menggesek penghapus papan tulis tersebut ke tulisan itu. Tapi...
"Eh, kenapa tidak mau hilang?" Pak Dadang sudah berusaha sekeras mungkin, tapi tulisan itu tak kunjung hilang.
"Apa jangan-jangan..." Pak Dadang memeriksa spidol milik kelas kami. Spidol tersebut baru saja dibeli.
"Apa jangan-jangan kita gak akan pernah bisa move on dari mantan, pak?" Tanya Gerhana.
Alangkah terkejutnya Pak Dadang.
"Ya ampun, spidol milik kalian rupanya spidol permanen!"
💔💔💔
Pulang sekolah.
Aku tak pulang sendirian. Aku pulang bersama Gerhana, Fares, dan Abbad.
"Heh, Alfin. Tidak rindu kah kau dengan mantanmu itu?" Tanya Abbad di tengah jalan.
Ya ampun, kenapa harus bahas itu lagi sih?
"Tidak koq, toh dia mantanku." Aku berbohong.
"Ah masa sih? Bohong yaaaaa?" Tanya Fares.
Aduuuh!
"Ih, nggak ko..."
Tiba-tiba...
"Eh, itu bukannya Chica ya?!" Gerhana menunjuk seseorang yang sedang berjalan sendirian, hendak pulang dari sekolah.
"Wah, BENAR!" Seru Fares dan Abbad.
Aku melihat orang yang ditunjuk Gerhana.
Benar saja!
Seseorang yang dahulu aku cintai
Seseorang yang dahulu jadi pasanganku
Dan kini menjadi sebaliknya
Berganti jadi bayangan dalam diriku
Ia ada di depanku
Chica
Mantan kekasihku
"Deketin atuh, Alfin!" Suruh Fares.
"Iya ih. Sapa!" Abbad ikut-ikutan.
"Ayo dong. Masa gak berani sih!" Tambah Fares.
Aaaargh. Aku menyesal karena aku pulang bersama mereka bertiga!
Gerhana, Fares, dan Abbad mendorongku, membuat jarak Chica denganku semakin dekat.
Tiba-tiba saja mata Chica tertuju padaku, lalu ia terkejut.
Mataku juga tertuju padanya.
Kami saling tatap.
Kami... Bertemu... Kembali...
💔💔💔
"Kenapa kau meminta untuk mengakhiri hubungan kita? Memangnya apa salahku?" Tanyaku dengan rasa tidak terima.
"Alfin. Kau tidak memiliki salah apapun padaku, kau telah memperlakukanku dengan sangat baik, kau sama sekali tidak mengecewakanku, sedikit pun. Tapi ingatlah kembali, kita memiliki keyakinan yang berbeda, kita tak sama. Seharusnya kita tak berpacaran dengan engkau dari awal."
Aku meneteskan air mata.
"Lalu apa masalahnya? Aku bisa pindah agama, mengikuti agama kamu." Aku memberi usul.
Tapi Chica menggeleng.
"Aku ingin berpasangan dengan lelaki yang dari kecil sudah setia dengan Tuhan ku. Itulah yang kuinginkan, sama seperti apa yang orangtuaku inginkan."
Aku menangis saat itu.
Sungguh hari terburuk untukku.
💔💔💔
"Alfin!"
"Chica!"
Tiba-tiba saja Chica berlari kearah ku, memelukku. Aku balas memeluknya.
"Kamu kemana aja, Fin? Belakangan ini kamu gak keliatan sama sekali." Katanya.
"Gak kemana-mana koq." Balasku.
Ada sekitar beberapa menit kami mengobrol, melepaskan rasa rindu.
Hari ini kami bertemu, di atas jalanan ini.
Sementara Gerhana, Fares, dan Abbad merasa menyesal karena Chica rupanya tak menjauh dariku, tapi justru sebaliknya.
💔💔💔
Hanya saja bayangan Chica masih sulit lepas dari kepalaku.
Entah kapan aku bisa.
Atau tidak pernah sama sekali?
~ TAMAT ~
Follow IG ku: @rainhard.frealdo
Follow MLBB ku: TheCircleOfFire. ID: 635724455
Jangan lupa untuk membaca cerpen karya saya yang lain dibawah ini ya 🙏👇
Jangan lupa juga untuk membaca novel pertama saya: "Dunia Langit". 🙏🙏