Alunan musik klasik mengelilingi lorong yang gelap. Terlihat sedikit cahaya yang keluar dari sebuah pintu yang terbuka sedikit. Lampu remang-remang dalam ruangan tersebut menampakan seorang wanita berumur 18 tahun, yang terduduk disebuah kursi kayu. Kedua tangan dan kakinya diikat dengan sebuah sabuk pinggang berwarna coklat muda.
Tubuh wanita muda tersebut sangat mengerikan. Terdapat berbagai luka pada bagian wajahnya. Bahkan tak jarang darah yang masih segar terus mengalir dari luka sayatan pada wajahnya dan bahkan kini telah bercampur dengan air mata yang terus mengalir. Pada bagian punggungnya terdapat luka bakar yang membentuk bulatan kecil-kecil hingga membakar kainnya, seperti luka akibat sundutan rokok.
Wanita tersebut berkali-kali mengerak-gerakkan tangannya, berharap tangannya bisa terlepas dari lilitan ikat pinggang tersebut. Tapi nihil, walaupun dengan sekuat tenaga ia mencoba melepaskan kedua tangannya, yang ia dapat hanya luka pada pergelangan tangannya yang diakibat pergerakan yang ia lakukan. Matanya menatap kearah depan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan ke kiri. Rupanya dihadapannya ada seseorang dengan gunting bedah ditangannya, orang tersebut menggunakan masker bedah sehingga wajahnya tidak bisa terlihat sebagian.
"Aku menyukai bibir kecilmu itu, tapi sayangnya ucapanmu sangat menyakitkan", seseorang dengan menggunakan masker bedah tersebut, perlahan mendekatkan gunting bedah yang berada dalam genggamannya mendekati daun telinga wanita tersebut.
Krrreeeaakkk!
Wanita muda tersebut memejamkan kedua matanya, ia ingin berteriak sekencang mungkin ketika daun telinga kirinya telah terpotong. Tapi apa daya kaya tebal kini menutup semua isi dalam mulutnya.
"Telinga yang indah" puji seseorang bermasker tersebut. "Kau tahu telingaku sangat panas ketika mendengar hinaan dari bibir manismu ini" lanjutnya. Kini ia kembali memainkan gunting ditangannya. Dengan sekali hantaman, ia tusukan gunting bedah tersebut tepat dileher wanita yang kini tak berdaya itu. Darah mengalir dengan deras dan perlahan membasahi pakaian putih yang digunakan oleh wanita tersebut.
"Ehhh, padahal aku belum puas bermain denganmu Maria" seru seseorang dengan masker bedah yang melihat tubuh Maria berhenti memberontak dengan kedua mata yang terbuka lebar. "Andai kau tidak menolak cintaku dan tidak menghinaku pasti kau tidak akan berakhir seperti ini", seseorang tersebut mencabut kembali gunting bedah yang menancap pada leher gadis yang disebutnya sebagai Maria.
"Aku tidak suka jika ada orang yang menghinaku. Siapapun itu aku akan menghabisinya, seperti kini nasib cinta pertamaku" seseorang tersebut meregangkan kedua ototnya.
"Ahh aku lapar sekali" ia mengelus-elus perutnya yang mulai meminta diisi. "Untung aku sudah memiliki daging persediaan" ia menatap jasad Maria, lalu tidak lama itu terdengar suara tawa pecah.
-
-
-
Keesokan harinya, sebuah kota XX dihebohkan kembali dengan kehilangan seorang mahasiswi di universitas XX. Kejadian ini telah terulang beberapa kali dalam sebulan. Bahkan para polisi telah turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalah ini, tetapi tak kunjung mereka memberi kabar baik bagi para anggota keluarga orang yang menghilang.
Seperti saat ini dari para keluarga korban, membagi-bagikan selembaran data dari anggota keluarga mereka yang menghilang.
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikir mereka" seru seorang pria dengan kaos polo berwarna biru tua, setelah ia menerima satu lembar yang dibagikan oleh seorang wanita paruh baya.
"Apa maksudmu?" saut seorang pria yang menggunakan jaket berwarna merah. Ia menatap kearah temannya untuk menunggu jawaban darinya.
"Kau tahu mereka hanya membuang waktu saja membagikan kertas-kertas yang tidak berguna ini. Mereka tidak akan menemukan anak mereka yang sudah mati, bukan?" ucap pria berkaos polo biru tua tersebut yang bernama Jack.
Pria berjaket merah mengerutkan keningnya heran menatap kearah temannya yang kini tengah membuang selembaran kertas tersebut. "Kau tahu dari mana jika orang yang menghilang telah mati?" tanyanya.
"Aku hanya menebak, Ray. Mereka sudah menghilang beberapa pekan tanpa ada kabar. Sudah dipastikan mereka pasti sudah mati terbunuh. Apalagi baru-baru ini Maria teman sekelas kita hilang. Ini sangat disayangkan" ujarnya.
"Memang seperti itu" timpal pria yang dipanggil Ray.
Mereka berdua terus berjalan hingga sampai disebuah kafe outdoor dekat dengan kampus mereka berdua. Jack dan Ray rupanya sudah berteman sejak mereka berdua duduk di sekolah menengah keatas. Jack yang selalu menimbulkan kekacauan dan Jack yang kutu buku pasti terlihat selalu bersama. Seperti saat ini.
"Biarkan aku yang memesan", Ray segera berdiri dan berjalan kearah meja pesan.
Sedangkan Jack tetap diam menunggu Ray selesai memesan makanan mereka. Pandangan Jack tiba-tiba mengarah pada orang yang semula membagikan selembaran kertas tadi padanya. "Ini tidak bisa dibiarkan."
Tidak lama kemudian Ray kembali dengan nampan diatasnya terdapat dua humburger dengan dua minuman tea. Ketika Ray baru saja duduk dikursinya, tiba-tiba mereka berdua dihampiri oleh 4 polisi.
"Maaf apakah saya bisa berbicara dengan orang yang bernama Jack?" tanya salah satu polisi.
"Ya dengan saya sendiri" ujar Jack.
"Maaf kami harus membawa anda bersama kami. Karena menurut saksi atas hilangnya Nona Maria, anda adalah orang yang terakhir terlihat bersama dengannya" seru polisi tersebut.
Jack hanya terdiam, ia menatap kearah Ray yang kini juga menatap balik kearahnya. Tanpa ada perlawanan Jack dengan pasrah mengikuti langkah para polisi tersebut menuju mobil mereka.
Sedangkan Ray hanya terdiam melihat kepergian temannya tersebut. Ia merasa bingung kenapa Jack tidak melawan sedikitpun. "Jadi apa dia..."
-
-
-
Ray beberapa kali berjalan mondar-mandir seraya kuku jari tengahnya ia gigit. Hari ini adalah hari persidangan temannya, Jack. Ia tidak mempercayai jika Jack adalah dalang dari hilangnya beberapa orang.
Ray terus menunggu dikursi samping meja kecil yang diatasnya terdapat sebuah telepon. Bahkan sampai malam tiba.
Tringg...
Ray segera bangkit dari duduknya dan langsung ia mengangkat telepon yang berbunyi.
"Hallo Ray. Ini aku Jack, kau tahu aku telah dibebaskan dari penjara. Dan karena itu aku ingin mengajakmu untukmu makan malam dirumahku, sebagai tanda syukur aku dibebaskan" ujar Jack.
Deg.
Ray tiba-tiba terdiam. Ia langsung teringat dengan jumlah semua orang yang telah menghilang. "Aku harus datang untuk memastikan sesuatu" pikirnya dalam hati.
"Iya tentu saja besok malam aku akan pergi kerumahmu". Tidak lama setelah itu Ray menutup telfonnya. Ia menatap agak lama telfon yang kini berada dihadapannya.
Malam yang ditunggu. Ray menggunakan kemeja polos berwarna merah maroon dengan celana jins hitam miliknya. Ia segera pergi kerumah Jack dengan menggunakan mobilnya. Setelah cukup lama ia mengemudikan mobil tuanya, akhirnya ia sampai dihalaman rumah Jack.
Dengan perlahan ia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah Jack. Terlihat Jack dengan pakaian formalnya menyambur kedatangan Ray dengan hangat.
"Ayo Ray kita masuk. Malam ini aku menyiapkan daging panggang untuk kita berdua" ucap Jack menyebutkan menu makan malam mereka.
Ray tiba-tiba menjadi was-was. Ia hanya mengikuti langkah Jack menuju kearah ruang makan. Sampai tiba disana, mereka berdua duduk saling berhadapan.
Bau daging panggang tiba-tiba tercium diindera Ray, tatkala seorang pelayan rumah Jack mulai membawa makanan makan malam mereka berdua dan meletakkannya diatas meja.
Ray menatap daging yang masih berwarna kemerahan dihadapannya ini. "Aku harus memastikannya" serunya dalam hati.
Dengan perlahan Ray memotong daging tersebut dan ia mencoba satu suapan. Dengan perlahan ia mengunyah daging tersebut. "Oh, rupanya ini bukan daging manusia!", Ray sudah memastikan rupanya Jack tidak sama seperti dirinya.
***
Hasil kegabutan:v
Semoga kalian ngerti ya:v kalau gx ngerti parah:(