Thasnia seorang gadis berparas manis yang kerap disapa Nia ini sangat suka dengan hujan, sifatnya yang periang membuat siapa saja menyukainya.Hanya ada satu orang yang tidak pernah suka akan dirinya, seorang pria tampan yang menjadi temannya sejak kecil.
Bukan tanpa alasan Rijal tak menyukai gadis itu, Nia adalah perempuan cerewet yang pernah dikenalnya selama ia hidup, hampir setiap hari Nia dan Rijal akan bertengkar jika bertemu, sudah seperti kucing dan tikus saja kelakuan mereka.
Hanya saja jika berjauhan satu sama lain akan saling merindu dan merasa aneh jika tidak bertemu dalam satu hari, rumahnya yang berdekatan kerap kali membuat kedua orang tua mereka pusing setiap kali mendengar perdebatan tidak berfaedah mereka. Walau begitu jika salah satunya sakit mereka akan merasa sedih dan cemas, Rijal dituntut untuk selalu menjaga Nia dimanapun Nia dan Rijal berada di satu tempat.
Dan itu pula yang membuat Rijal sering kesal karenanya, bukan apa - apa Nia orang yang sangat susah diatur apa lagi dengannya yang memang sering bertengkar, sangat sulit untuk diatur, dan bila terjadi sesuatu pada Nia pasti dia yang terkena sasaran oleh orang tuanya, walaupun tidak pernah kena omel orang tua Nia tapi tetap saja dia merasa kalau dirinya tidak becus menjaga Nia dan tidak bisa mempertanggung jawabkan ucapannya itu membuatnya kesal.
Walau demikian Rijal tidak bisa protes untuk tidak menjaga anak itu, jika diprotes maka orang tuanya akan mengamuk "Entah sebenarnya disini siapa yang anak mama dan papa" kesal Rijal, karna lagi - lagi terkena semprotan oleh kedua orang tuanya.
"Dengar Rijal, Nia itu perempuan jadi dia harus dijaga ekstra, karna perempuan -,",
"Yayaya .. perempuan itu tidak setangguh laki - laki, sudah hafal Rijal mah perkataan mamah" kesal Rijal menjawab.
"Nah itu kamu tahu nak"tanpa rasa bersalahnya mamah bicara demikian, membuat hati Rijal semakin kesal saja, dan papanya hanya menanggapinya dengan anggukan.
'ahhhhh entah siapa yang akan bela gue' kesal batinnya.
"Perempuan mahluk lemah" gumamnya kesal.
"Rijal" peringat papa
"Yaya.. maaf pah" ucap Rijal.
****
Setiap hari ada aja kelakuan Nia yang bikin kesal atau malah sebaliknya yang membuat mereka terus ribut bila bersama tapi malah kangen bila jauh bahkan pernah sampai keduanya sakit karna tidak bisa bertemu, saat itu Rijal tengah berlibur kerumah neneknya dikampung, dan biasanya Nia selalu ikut keluarga Rijal jika pergi ketempat sang nenek.
Namun saat itu papah Nia sedang sakit alhasil Nia tidak bisa ikut kesana, karena kalau dia ikut tidak ada yang akan menjaga Rijal, karena dirumah itu hanya ada dirinya, dan mbak Tina, mana mungkin dia menitipkan papanya ke asisten rumah tangganya.
setelah tiga hari papanya sembuh malah gantian dirinya yang sakit tiba - tiba saja badannya demam tinggi dan itu juga yang dirasakan oleh Rijal, hingga kedua orang tua Rijal memutuskan untuk membawa Rijal kerumah sakit, untunglah hanya demam biasa dan itu pula terjadi dikeluarga Nia.
papanya hampir saja stres melihat anak gadisnya yang jarang sekali sakit bahkan bisa dibilang tidak pernah sakit selain batuk pilek tapi sekarang ini putrinya terkapar tak berdaya ditempat tidur karena demam tingginya.
Itu aneh bukan?, Tapi ya itulah yang terjadi pada mereka, hubungan kedua keluarga begitu baik walau Nia dan Rijal seperti tom dan jery, tapi tak membuat hubungan kedua keluarga itu renggang.
"Loe itu bisa ga sih jaga diri loe, loe tahu kaga gara - gara loe gue diomelin sama mama" kesal Rijal saat berhasil menemukan Nia didalam kelasnya.
"Loe kesambet setan apa hah? datang -, datang main nyerocos kaya petasan tau ga" tak kalah kesal Nia membalas cerocosan Rijal.
"Ngapain loe kemarin pake acara bilang segala macem ke mama kalau loe jatuh" kesal Rijal
"Lah tente Risma nanya, ya gue jawab lah" santai Nia menjawab.
"Iya gara - gara jawaban loe, gue diomelin habis - habisan Ama mama tau ga, katanya gue ga bisa jagain loe, padahal loenya yang petakilan ga bisa dibilangin susah diaturnya. cewe barbar" dikeluarkan semua yang ada diotaknya oleh Rijal karna kesal.
"Apa loe bilang tadi" kesal Nia.
"Kenapa ga suka gue bilang barbar?" tantang Rijal.
"Wah ngajak perang" gumam Nia, Nia menjambak rambut Rijal serta memukul - mukul Rijal, Rijal tidak tinggal diam dia ikut juga apa yang dilakukan Nia walaupun tidak mengerahkan semua tenaganya.
"Wey... weyy... stop loe beruda apa - apaan sih" nah kalau ini Rifka sahabat keduanya yang selalu memisahkan mereka jika sedang bertengkar, Rifka, Rijal dan Nia memang berteman sejak mereka duduk di bangku TK, maka tak heran jika Rifka sering jadi penengah untuk mereka, karna yang didengar oleh mereka hanya Rifka seorang jika sedang bertengkar, yang lainnya akan menyerah bahkan para guru pun angkat tangan jika sudah melihat keduanya bertengkar, mereka malah akan membiarkan saja dua anak remaja itu berkelahi dengan cara mereka, sampai Rifka datang melerai.
"Ya ampun, Nia, Rijal bisa ga sih sehari aja kaga ribut kalau ketemu" pinta Rifka.
"Engga" jawab keduanya serempak dengan nada ngegas.
"Ok.. ok kali ini apa lagi?" tanya Rifka
"Tanya tuh ama sahabat loe ngapai ngadu yang engga - engga kenyokap gue" kesal Rijal, Rifka melirik Nia meminta jawaban
"lah, Nia ga salah Tante Riska hanya nanya, itu tangan Nia kenapa ya Nia jawab seadanya Rif, terus kenapa si monyet satu ini malah marah - marah kegue" kesal Nia bersungut - sungut.
"Ya loe harusnya ga ngomong gitu" kesal Rijal
"Jadi loe suruh Nia bohong, ga, bohong itu ga baik Rijal loe ko ngajarin ga baik ke gue", kesal Nia melotot matanya seperti ingin keluar saat memelototi Rijal.
"Pokonya gue ga mau tahu, loe harus tanggung jawab" tukas Rijal
"Gue ga ngapa - ngapain loe kenapa gue mesti tanggung jawab, makanya jadi orang tanggung jawab biar ga diomelin terus sama tante Risma" cerocos Nia.
"elo yang salah kenap loe yang lebih nyolot" kesal Rijal.
"loe masih aja nyalahin gue" teriak Nia sambil menjambak Rijal.
"Ok . Ok... ga usah debat lagi, loe berdua tu damanya ga ada yang mau ngalah" kesal Rifka.
"dia duluan yang mulai,", tunjuk Nia
"loe duluan yang mulai"
"elo lah"
"elolah"
"Terserah siapa yang mulai tapi gue mau kalian baikan" tegas Rifka melerai.
"tapi Rif kandia duluan yang mulai" keluh Nia
",gue ga mau tau, pokonya baikan ayo cepat salaman", titah Rifka, mau tidak mau kedua anak TK jumbo itu salaman.
"Nah gitukan enak" ...
****
Keseharian Rijal selalu berisik dan tak pernah damai kalau sudah ada Nia, walau begitu dia tak bisa mengusir anak itu, karena setelahnya bisa saja dia digantung sang mama, padahal Nia yang salah selalu dia yang kena marah oleh sang mama, terkadang dia berfikir jika anak mamanya itu Nia bukanlah dirinya, ahhhh sudah lah Rijal selalu bingung memikirkan hal itu, jika ditanya jawabannya hanya satu "Karna mama menjalankan amanah dari almarhumah ibu Nia", selalu itu yang ucapkan mama padanya.
Seiring berjalannya waktu tingkah Rijal dan Nia semakin membaik, mereka sudah jarang bertengkar walau sesekali Masi ada cekcok tapi tidak seperti dulu yang jika bertemu akan membuat pusing seluruh orang.
"Loe kenapa?" tanya Rijal saat menyadari ada yang janggal pada Nia, hari itu sekolah mereka tengah mengadakan stady tur ke Yogyakarta, banyak tempat bersejarah yang mereka kunjungi disana, dan salah satunya adalah candi Prambanan.
Nia tak menjawab ucapan dari Rijal, dia berusaha menetralkan rasa sakit diuluhatinya, beberapa hari ini dia merasa ada yang aneh diare perut dan diuluhatinya, namun dia tak pernah berbicara kepada sang ayah, tidak ingin merepotkan papanya itu yang sudah bekerja keras untuknya.
"Nia jawab gue, loe kenapa?" kali ini Rijal sudah memegang pundaknya, meminta jawab gadis dihadapannya itu, Nia menggeleng lemah tanda menjawab pertanyaan dari Rijal, "Gu-e ga apa - apa ko" gadis itu memaksakan bibirnya tersenyum untuk tidak membuat Rijal khawatir dengan kondisinya.
jawaban dari Nia tidak sesuai dengan wajahnya yang nampak pucat, dan terdengar ringisan beberapa kali dari mulutnya walau lirih.
Tanpa diduga Rijal membopong Nia, membuat Nia mengalungkan lengannya dileher Rijal takut jatuh rupanya anak itu. "Loe apaan sih, turunin gue ga" pinta Nia sedikit kesal.
"Loe bilang ga apa - apa tapi wajah loe pucat banget gitu" kesal Rijal karna Nia tidak jujur padanya.
Tanpa banyak bicara lagi Rijal membawa Nia kembali ke bis untuk beristirahat, banyak pasang mata yang melihat Rijal menggendong Nia, "Nia kenapa?" tanya pak Toha guru mereka.
"Sepertinya kecapean pak, boleh kami tunggu di bis saja?" Pinta Rijal.
"ya sudah, tapi benar Nia tidak apa - apa?" tanya Bu Ayla.
"Iya bu, Nia ok ko Bu cuman kecapean" jawab Nia.
"Baiklah kalau begitu, anak - anak yang lain lanjutkan tugas kalian" pinta pak Toha, saat ada beberapa teman Nia yang mulai mendekat ingin tahu keadaan Nia.
****
Semenjak kejadian diPrambanan kondisi Nia semakin menurun, hingga akhirnya harus dibawa kerumah sakit karna Nia mengeluhkan sakit diuluhatinya yang tak kunjung membaik.
"Sebenarnya putri saya sakit apa pak dokter?" tanya Heru papa Nia, saat papa Heru berada di ruangan dokter.
"Saya belum bisa menyimpulkannya pak, karna hasil lab belum keluar, ini hanya sebuah diagnosa saya saja" ucap dokter Martin.
"Apa penyakit putri saya parah dok?" tanya papah Heru.
"Mudah mudahan saja tidak pak, berdoa saja jika hasil labnya baik - baik saja dan putri bapak hanya sakit biasa saja" ucap dokter Martin memberi semangat.
Dua jam berselang papa Heru kembali dipanggil keruangan dokter Martin, suster mengatakan jika hasil lab Nia sudah keluar, dan papa Heru diminta untuk keruangan dokter Martin, agar bisa membahas hasil labnya.
"Bagai mana dok hasilnya?" tanya papa Heru
"anak saya baik - baik saja bukan" kembali papa Heru bertanya.
"Kita lihat sama - sama ya pak" ucap dokter Martin.
"Dari hasil labnya, anak bapak didiagnosa mengalami Pancreatic adenocarsinoma" ucap dokter Martin.
"Penyakit apa itu?" tanya papa Heru
"Salah satu kanker pak, yang berada dipangkreas pak" dokter Martin.
"Apa bagai mana mungkin?" tanya papa Heru tak percaya dengan sakit yang diderita anaknya itu.
"Penyakit itu biasanya menyerang usia lanjut bukan dok, bagai mana mungkin anak saya mengalami penyakit itu?" papa Heru tak percaya dengan hasil yang diberikan dokter Martin
"Banyak kasus seperti ini pak, faktornya bukan hanya dari umur saja pak, banyak faktor lainnya yang bisa mengakibatkan anak bapak terserang penyakit ini, salah satunya adalah Hepatitis C dan golongan darah, untuk kasus anak bapak sendiri dia bermasalah dengan golongan darahnya yang mengakibatkan dirinya memiliki penyakit ini" jelas dokter Martin.
"Apa bisa disembuhkan?" tanya papa Heru lirih.
"Kami tidak bisa menjanjikan sesuatu yang tidak pasti pak, tapi kami akan lakukan yang terbaik untuk anak bapak, karena kangker itu sudah menyebar kearea syaraf dan pembulu darah serta kelenjar getah bening, kangker itu sudah stadium tiga" jawab dokter Martin.
"Apapun dokter, lakukan apapun untuk anak saya dok agar anak saya bisa sembuh, orasi atau apaun itu dok" pinta papa Heru.
"Operasi bukan satu - satunya jalan untuk menyembuhkan putri bapak, kita akan coba membunuh sel kanker dengan kemoterapi dan radiotrapi untu anak bapak" jawab dokter Martin.
"Apapun itu tolong lakukan dengan baik dok, saya mohon, hanya Nia satu - satunya yang saya miliki"
"Bapak tenanglah, saya akan menyerahkan pengobatan putri bapak kepada dokter Dika, dia adalah dokter spesialis kangker terbaik yang rumah sakit ini punya, saya yakin dokter Dika akan TT melakukan yang terbaik untuk putri bapak" ucap dokter Martin.
"Terimakasih dok"
"Sama - sama pak"
*****
Heru benar - benar terpukul mendengar apa yang disampaikan dokter Martin barusan, sungguh dia tak sanggup jika dia harus kembali kehilangan. "Mitha apa yang harus aku lakukan?" gumam papa Heru.
"Tolong - tolong katakan apa yang harus aku lakukan Mitha?" papa Heru benar - benar tergugu menangisi putri sematawayangnya itu.
Sunggu ini sesuatu yang sangat berat yang harus ia hadapi seorang diri tanpa ada teman untuk bersandar.
****
Beberapa bulan berlalu Nia menjalani kemoterapi dan radiotrpi secara bersamaan, dari awal Nia mengetahui keadaannya tak sekalipun dia mengeluhkan rasa sakitnya, hanya satu yang dipintanya kepada sang ayah, ya itu satu jangan ada yang tahu tentang sakitnya, cukup dia dan sang papa saja. Kemauan gadis kecilnya itu tentu saja dikabulkan olehnya.
Nia menjalani hidupnya seperti biasa, selalu tampak cerah, ceria dengan senyum manis yang selalu mengembang, gadis pecinta hujan itu tetap seperti dirinya sendiri.
'Tuhan tolong beri aku waktu sedikit lebih lama, hanya untuk papa' batin Nia, tak terasa matanya menetes akan air, setelah sekian lama tak menangis kini dirinya kembali menangis.
TBC..