Aldo terlentang dengan mata tertutup. Bahunya bergetak ke kanan ke kiri. Ia hendak bangun tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak lebih dari itu. Ia mendesah berulang kali.
Aakh..aaahh. Uuuhh.
Aldo berusaha bangkit namun kekuatan lain menghimpit tubuhnya. Ia ditekan oleh sesuatu yang terlihat seperti bayangan hitam besar dan berbulu.
Hhhhk. Hhhhkk.
Aaakh..Aaakh. Dia terus berusaha. Meronta sembari mulutnya bergerak mengucapkan sesuatu. Matanya terbuka. Ia mengucap beberapa kali. Kiranya hanya mimipi. Tidak. Ini nyata. Makhluk berbadan besar, berbulu dan hitam itu menekan tubuh Aldo. Seluruh tubuhnya hitam. Aldo mengusap wajahnya. Masih hening. Ia tidak melanjutkan tidur. Hari menjelang pagi.
"Gimana mungkin dia berdiri di depanku waktu kubuka pintu kamar mandi. Aku gemetaran dan duduk menutup muka. Hiiiii...Darah! Tatapan membunuh!" Cerita Sena.
"Kenalan Sen." Aldo menimpali.
"Aku belum melihatnya. Gimana?" Andi bertanya.
"Dijamin kau pingsan di tempat." Sena menjawab. Ia tahu Andi lebih penakut dari dirinya.
"Kau melihat apa?" Giliran Aldo ingin tahu.
"Kemarin lusa saat mandi jendela kaca kamar mandi di ketuk dan tadi malam perempuan baju putih itu menampakkan diri di depan pintu. Sebagian wajahnya berdarah."
Mereka saling bercerita.
"Lumayan kenalan cewek malam hari, belum lihat tubuh besar hitam berbulu hadir di depan kalian?"
"Aku tidak." Kata Andi.
"Belum. Jangan sampai." Tambah Sena.
"Tunggu saja giliran kalian." Aldo membuat kedua temannya cemas.
Tok. Tok.. tok.
"Hhhh siapa??" Aldo menjawab terkejut. Hari masih pagi sekali sudah ada yang datang bertamu. Mereka duduk bercerita di ruang tamu dengan secangkir minuman buatan masing-masing.
"Saya."
Sena membukakan pintu.
"Oh Bapak. Ya pak RT ada apa?"
"Pagi dek. Maaf mengingatkan sampah di dekat pohon pisang tolong dibersihkan. Baunya sudah mengganggu orang yang lewat di situ."
"Baik Pak. Baik. Nanti kami urus."
"Ya terima kasih."
Pak RT pergi. Pintu dibiarkan terbuka.
"Nah siapa yang paling banyak buang sampah di situ, dia yang membersihkan. Pak RT minta dibersihkan." Ujar Sena.
"Semua buang sampah di situ. Siapa yang off kerja, dia bersihkan duluan"
"Tidak bisa. Gotong royong." Andi keberatan.
"Gini saja. Kita upah orang untuk membersihkan. Nggak banyak sekali sampahnya." Aldo menengahi.
"Boleh juga karena kita semua jarang di rumah."
Kerja dan kerja. Di usia mereka sekarang tiada hari tanpa bekerja. Dua Minggu kerja pagi dan dua Minggu kerja malam untuk Sena. Off sesekali digunakan untuk tidur sepanjang hari atau menghabiskan waktu berjalan-jalan seharian. Maklum masih lajang. Aldo selalu berangkat apgi dan lebih sering pulang malam. Sama seperti Sena hari libur digunakan untuk bersenang-senang atau sekedar kongkow-kongkow dengan teman.
Lalu Andi pun sama. Jika hari libur lebih memilih tidur dan makan-makan.
"Kau bocah ingusan! Hhhh.. apa kau lakukan di sini heh heh heh."
Aldo memegang lengannya. Ujung tongkat itu dipukulkan kepadanya. Nenek tua dengan keriput di seluruh tubuh dan membungkuk menatap tajam. Sorot mata penuh kebencian. Seakan ingin menelan Aldo hidup-hidup.
"Si..nenek??"
"Kau bocah. Kalian semua menggangguku hhh." Nenek membelalakkan mata. Berjalan maju mendekati Aldo. Terus mendekati Aldo. Inikah nenek sihir seperti yang pernah dilihatnya di film-film?
Aldo bangkit dan berlari sekuat tenaga. Sekeliling tidak tampak terlalu jelas. Sinar lampu temaram. Tawa si nenek terdengar menggema. Dia berlari memutar dari samping rumah.
Buuuukkk.
"Hhhhhhhh!"
Desahan nafas itu membuat Aldo terkejut dan bergidik. Ini sosok besar yang pernah menekan tubuhnya. Hitam dan berbulu halus. Tingginya melebihi makhluk normal lainnya. Makhluk itu menghalangi jalan Aldo.
"Awas! Awas kau! Aku mau lewat!" Teriak Aldo.
"Hhhhhh...hhhhhhh."
"Tolong! Tolong!"
Si makhluk tak mengenal ampun. Aldo adalah santapan lezat.. Lengan Aldo dicengkeram erat. Aldo kembali teriak. Aaakkkh.
"Al..Aldo! Bangun Al."
"Uuuuhhh.." Mata Aldo mengerjap berkali-kali. Nafasnya tidak beraturan. Dia mengumpulkan nyawa.
"Dimana kita Ndi?"
"Di kamarmu. Kau berteriak-teriak. Mengganggu orang tidur saja."
"Maafkan aku. Tidur di sini saja Ndi."
"Apa?? Kau takut?" Tanya Andi heran.
"Aku mimpi buruk."
"Yook tidur lagi. Ngantuk ahh."
Pemilik rumah datang melihat rumah yang mereka tempati. Dia membawa seorang lelaki untuk membersihkan sekitar rumah.
"Tolong jaga kebersihan rumah ini. Bapak yang membuat rumah ini berpesan begitu kepada saya. Penghuni-penghuni lain di sini tidak menyukai tempat tinggalnya kotor."
"Maksud bapak..??" Aldo memotong pembicaraan.
"Nenek tidak suka rumah tempat tinggalnya kotor."
"Nenek??" Aldo bertanya lagi. Mereka bertiga bergantian berpandangan.
"Nenek berusia ratusan tahun penjaga rumah ini tidak suka kalian membuang sampah sembarangan dan tidak menjaga kebersiha rumah ini." Penjelasan pemilik rumah.
"Nenek itu di mana sekarang pak?" Sena bertanya lugu.
Ada di bawah meja ini. Mata mereka mengarah ke bawah meja ruang tamu. Hanya ada lantai.
"Di bawah ini ada kuburan sang nenek." Kata pemilik rumah.
"Apa???"
Mereka terlonjak dan mata mereka membelalak. Antara percaya dan tidak pada ucapan pemilik rumah.
**tamat***
Love..love all.❤️