Aya membuka matanya saat merasakan silau sinar mentari yang masuk melalui celah jendela. Hal pertama yang dilihatnya begitu membuka mata adalah sebuah ruangan yang bisa dibilang sebuah kamar tidur. Aya memperhatikan sekitar, ruangan ini terlihat sangat asing baginya.
"Gue ada di mana?" gumam Aya, matanya masih menatap sekitar.
Aya memutuskan untuk memeriksa sekitar, ada sebuah pintu yang membuatnya tertarik. Dia membuka pintu itu untuk melihat apa yang ada di dalam sana. Ternyata hanya sebuah kamar mandi, lalu Aya kembali berkeliling di ruang kamar ini. Dia kembali menemukan sebuah pintu, dibukanya kembali pintu itu. Ternyata pintu itu menghubungkannya ke balkon kamar.
Aya berjalan menuju balkon itu untuk melihat seperti apa rumah ini dan sebenarnya dia ada di mana. Namun, tetap saja Aya tidak bisa mengenali tempat ini. Aya melihat ada taman di bawah sana. Taman yang sangat indah dan tentu saja terawat dengan baik. Dia terpesona dengan pemandangan di depannya.
Cklek!
Suara pintu dibuka membuat Aya terkejut. Spontan dia menoleh dan berjalan perlahan menuju pintu.
"Siapa?" tanya Aya.
"Nona, anda sudah ditunggu Tuan di bawah," ucap seorang pria paruh baya dengan setelan jasnya.
Ucapan pria itu membuat dahi Aya berkerut. Tuan siapa yang dimaksud dan sebenarnya berada di mana dia sekarang? Namun, Aya hanya bisa menurut karena mendapat tatapan menusuk dari pria paruh baya itu. Walau perkataannya sopan, tetapi pria itu memiliki guratan wajah yang menyeramkan.
Aya pun berjalan mengikuti pria paruh baya itu. Menuruni anak-anak tangga yang lebar. Sembari melihat kanan dan kiri. Rumah ini tidak layak jika disebut rumah. Lebuh cocok jika menyebut rumah ini sebagai istana, karena terlihat sangat megah. Aya berhenti di depan sebuah pintu besar, entah ada siapa yang berada dibalik pintu itu. Aya menahan napasnya saat pintu terbuka.
Dengan perlahan Aya berjalan memasuki sebuah ruangan yang sedikit gelap. Mata Aya menyipit saat melihat sosok tinggi berdiri membelakanginya. Betapa terkejutnya Aya saat sosok itu membalikkan tubuhnya. Aya mengernyit, merasa tidak mengenal sosok itu. Tunggu! Apakah ini penculikan?
Aya membulatkan matanya, bagaimana dia tidak terpikirkan hal itu? Benar, pasti ini sebuah penculikan.
"Maaf, aku terpaksa menculikmu. Ada seseorang yang harus menampakkan batang hidungnya dihadapanku," ucap sosok itu.
Aya membulatkan matanya, ternyata dugaannya benar. Dia sedang diculik saat ini. Hanya ada satu kata dalam benak Aya saat ini.
'Kabur!'
Hanya kata itu yang terlintas, jadi saat ini Aya sedang berancang-ancang untuk mengambil langkah seribu.
Aya tidak terlalu mendengarkan sesosok pria didepannya yang sedang berbicara itu. Dia sibuk mencari celah untuknya kabur dari tempat ini. Merasa mendapat kesempatan, Aya mulai mundur menjauh. Namun baru saja hendak meraih pintu yang terbuka lebar, langkahnya harus terhenti saat tiba-tiba tubuhnya melayang dan seketika mendarat di atas sofa.
"Sabarlah, tunggu sampai dia datang menemuiku. Setelah itu aku akan melepaskanmu."
"A... anda siapa?" tanya Aya memberanikan diri.
Pria itu berjalan mendekati Aya, hingga wajah pria itu dapat terlihat dengan jelas oleh netra bening milik Aya. Wajah pria itu membuat Aya terpana sebentar. Hanya sebentar, karena hal selanjutnya yang terjadi adalah pria itu tersenyum hingga memperlihatkan dua gigi runcingnya. Aya menelan ludahnya susah payah.
'Ganteng-ganteng vampir,' batin Aya.
Mungkin jika pria itu manusia biasa, Aya akan dengan sukarela diculik seperti ini. Walau tidak jelas untuk apa dirinya diculik. Padahal Aya bukan siapa-siapa, uang pun tidak punya. Dia hanya pemagang yang hingga kini belum berhasil bergabung dengan perusahaan.
"Ah, dia sudah datang," ucap pria itu memamerkan sekali lagi senyum menakutkannya.
"Hah? Siapa yang datang?" tanya Aya dengan ekspresi bingung, pasalnya dia tidak mendengar apapun saat ini.
🌱🌱🌱