Suatu hari, wanita bernama Anya itu sedang sibuk berdandan, bersiap-siap untuk pergi shopping dengan temannya di mall.
Tok...tok..tok...
"Nya...Anya, buka pintunya donk!" teriak seseorang dari luar rumah Anya.
Anya pun bergegas memakai sepatu heels nya dan membuka pintu rumahnya.
"Vira, Lo cepet banget datangnya!" ujar Anya.
"Iya donk, gue gak pernah telat kalau masalah shopping gitu..hihi" sahut Savira tertawa kecil.
"Ya udah yuk!" ajak Anya.
"Boncengan ya pakai motor Lo" ucap Savira.
"Ok" jawab Anya.
Mereka berdua pun bergi ke mall dengan berbahagia.
"Mbak, jangan pakai lift ya nanti" ucap salah seorang pegawai pada Savira dan Anya.
Savira mengangguk, tapi Anya mengabaikan pegawai itu dan langsung masuk ke dalam mall.
"Nya, kata pegawai tadi--" belum selesai berbicara, Anya memotong omongan Savira.
"Vir, liat deh...ada kebab, beli yuk aku belum sarapan tadi" sela Anya.
Savira yang melihat makanan kesukaannya pun langsung membeli kebab tersebut.
"Mbak, pesan kebabnya dua ya" ucap Anya tersenyum.
"Baik kak, rasanya yang mana? Boleh di pilih..." sahut pegawai wanita yang melayani sambil menyerahkan menu.
"Original aja aku mbak, isiannya pakai daging" ucap Anya.
"Aku juga sama, mbak" sahut Savira
"Baik kak, tunggu sebentar ya..boleh kakak-kakaknya duduk disini dulu" ucap pegawai wanita itu.
Tak berlangsung lama, dua kebab itu pun jadi. Anya dan Savira langsung memakannya di tempat, karena memang mereka sama-sama belum sarapan dari rumah.
Setelah makan, mereka berdua melanjutkan keliling mall untuk berbelanja.
Mulai dari tas branded, sepatu, dan baju. Mereka membeli banyak barang karena besok sudah saatnya gajian di tempat kerja mereka yang sama.
"Ke atas yuk" ajak Anya.
"Ya udah yuk" sahut Savira.
"Nya, pakai eskalator yah..soalnya tadi sama pegawai gak boleh pakai lift" jelas Savira.
"Ah repot, belanjaan ku banyak, aku pakai lift aja" bantah Anya.
"Tapi Anya..." Sela Savira.
"Kamu kalau mau pakai eskalator naik aja sendiri, barang bawaan ku banyak" Anya berjalan ke lift dan meninggalkan Savira.
Belum sempat Savira masuk, pintu lift tertutup. Savira menggedor-gedor pintu itu terus menerus.
"Mbak, pintu lift nya bisa rusak kalau anda pukul-pukul!" ujar wanita dekat sana.
Savira tersenyum kikuk, ia juga cemas pada temannya. Tapi mau bagaimana lagi? Akhirnya, Savira pergi menaiki tangga berjalan ( eskalator ).
Sementara, di lift tempat Anya..
Shhhtt shttt.... Lampu lift nyala mati, bahkan, sesekali mengeluarkan suara listrik. Karena Anya sendiri, jadi tidak ada seorangpun yang tahu hal itu.
"Ish berisik" Anya mengeluh.
Psttt......listrik itu berbunyi lebih cepat, dan..
Bummm...lampu padam, liftnya pun berhenti di tengah-tengah.
"Ke...kenapa bisa padam? Dan sepertinya, liftnya juga tidak bergerak...! Seseorang... cepat tolong aku...tolong..." teriak Anya histeris.
Anya mencoba menghidupkan ponselnya, dan menghubungi Savira. Tapi nihil, baterai ponselnya lupa ia isi saat pergi ke mall.
"Hiks....sialan!!" Keluh Anya.
Bunyi listrik semakin kencang, bahkan percikan api muncul di tombol lift.
"A...apa itu? Api?" Anya terkejut dan terus mencoba mendobrak pintu lift.
Setangah jam berlalu, ia bertahan dan kehabisan nafas. Akhirnya ia pingsan di tempat.
"Vir... Savira, maaf...maafkan aku yang tidak mendengarkan mu" tangis Anya sebelum dirinya pingsan.
Satu jam kemudian, lift berhasil terbuka dan Anya yang berada di dalamnya langsung diselamatkan oleh petugas medis dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Savira yang melihat temannya pingsan, menangis tiada henti. Ia menyesal tidak bisa menjaga temannya dengan baik.
The end....