Unsur Interinsik Cerpen
Judul : Anak Kembar
Tema : Sifat Anak Kembar Yang Berbeda
Latar : Di Kampung Manggis
Alur : Alur Maju
Penokohan dan Watak :
1. Lena: Baik,Pekerjakeras,Ramah,Tidak Sombong,dan Penyabar
2. Leni : Manja,Sombong,Pemboros,dan Licik
3. Ibu Halimah : Baik,Penyabar,dan Ceroboh
4. Pak Abdullah : Pemboros
Sudut pandang : Pengarang berada di luar cerita (orang ke tiga)
" Anak Kembar "
Lena terkenal sangat baik dan ramah pada setiap orang,ia juga selalu tersenyum kepada siapa pun bahkan senyumanya itu bagaikan hujan yang mengguyur tanah kering,beda dengan kakaknya Leni ia sangat manja dan sombong hingga banyak warga Kampung Manggis tidak suka kepadanya.Orang tua si kembar adalah Bapak Abdullah dan Ibu Halimah,mereka sering disebut sebagai “Juragan Tanah” karena hampir seperempat tanah Kampung Manggis adalah miliknya.
Walaupun Lena terlahir dari anak pengusaha kaya,tapi dalam hidupnya ia tidak pernah merepotkan orangtuanya.Saat mulai sekolah SD sampai SMA ia selalu mandiri,uang jajannya di sisihkan untuk modal berjualan berbagai macam keripik dan gorengan,sedangkan sisa uangnya di tabungkan.Berkat semangat nya yang luar biasa seperti baja,telah membuatnya kini menjadi pribadi yang sukses,karena itu lah ia juga mampu melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, hingga sampai sudah kuliah pun Lena masih tetap saja berjualan berbagai macam keripik dan gorengan,hal itu membuat Leni sangat marah kepadanya.“kamu budek atau tuli?bertelinga ko tidak mendengar, sudah di bilangin kamu itu anak orang kaya,ngapain udah kuliah masih tetap saja berjualan,memalukan saja !” (tanya Leni kepada Lena sambil melotot)
“Yang kayakan orang tua kita kak!Sudah lah aku tidak merasa keberatan bila harus mencari uang sendiri.” (jawab Lena sambil membungkus keripik-keripiknya yang akan di jual besok di Kampus).
Saat matahari merangkak perlahan menuju langit dan menghangatkan seluruh bumi,anak kembar itu pergi kuliah ,mereka tidak mengetahui kalau orang tuanya mendapat musibah.Pak Abdullah yang mempunyai banyak cicilan kepada Bank ia tidak mampu membayar lagi,karena uangnya habis di hambur-hamburkan untuk pesta di diskotik dan hal yang tidak penting lainnya,hingga Ibu Halimah berkata “Gara-gara bapak yang selalu menghambur-hamburkan uang ,jadinya kita repot begini membayar cicilan kepada bank ! Uang simpanan,perhiasan Ibu juga habis di jual !”
“Ibu jangan menyalahkan Bapa saja,yang menghambur-hamburkan uang bukan hanya bapak tapi anak kita Leni,dia hampir tiap hari pesta di diskotik dan belanja dengan teman-temanya”.(jawab Bapak Abdullah dengan santai, karena ia berpikir ia masih mempunyai banyak tanah).
“Itu semua salah Bapak yang selalu sering memanjakan Leni,coba bandingkan dengan Lena ia di didik Ibu tidak seperti begitu ! (jawab Ibu Halimah dengan sangat kecewa)
“Iya bu berarti itu salah Leni nya saja yang tidak selalu mendengar pepatah Ibu” (jawab Pak Abdullah sambil pergi ke luar rumah )
Pak Abdullah yang tidak mampu membayar cicilan kepada Bank ,akhirnya ia membayar dengan menjual tanah-tanahnya.Lama kelamaan tanah itu habis ludes terjual .Satu persatu cicilan kepada Bank itu lunas,tetapi tetap saja Pak Abdullah pergi ke diskotik untuk pesta dengan teman-temannya ,karena masih mempunyai sisa uang dari tanahnya yang di jual .
Sedangkan Ibu Halimah yang hanya berdiam sendiri di rumah menanti anak kembarnya dan suaminya pulang
Sambil menunggu mereka pulang,Ibu Halimah memasak di dapur,ia selalu masak-masakan kesukaan anak-anaknya.Pada saat memasak masakannya di tinggal dulu,karena ada yang menelepon ,Ibu Halimah keasyikan mengobrol sebab yang meneleponnya itu adalah temannya yang sudah lama tidak bertemu. Lalu Ibu Halimah lupa kalau dia sedang masak di dapur ,ia tidak merasa dan mencium masakan nya yang gosong ,hingga kompor nya meledak dan rumah itu hangus di lalap si jago merah.
Ibu Halimah lari terpontang panting ke luar mencari bantuan kepada warga “Tolooooong……tolooooooong……toloooooooooong……………..rumah saya kebakaran !!” ( teriak Ibu Halimah )
Pada sore itu kebetulan Lena dan Leni pulang ke rumahnya mereka kaget dan panik saat melihat rumahnya kebakaran, mereka juga meminta bantuan kemana-mana dan menelepon pemadam kebakaran ,lalu pemadam kebakaran pun datang dan berusaha mematikan kobaran api yang berkobar di rumahnya itu
Setelah api itu padam akhirnya Ibu Halimah dan Anak kembarnya hidup sebatang kara,mereka tidak mempunyai tempat tinggal lagi ,sedangkan Pak Abdullah sepulang dari diskotik ia meninggal di jalan karena di tabrak oleh mobil.
“Bu gimana ini, kita tidak punya tempat tinggal lagi uang dan semua nya habis ,sedangkan aku tidak bisa lagi merawat tubuhku dan aku tidak mau muka ku jelek gara-gara kurang perawatan” (Tanya Leni pada Ibunya sambil marah-marah)
“miskin,kaya,cantik,buruk sama saja di mata Tuhan ! yang sabar aja nak !kita masih bisa cari rumah kontrakan”(jawab Ibu Halimah Kepada Leni).
Lalu Lena menyanggah percakapan mereka “Iya bu,kebetulan ini ada uang sedikit ,hasil jualan keripik tadi di kampus,kita gunakan saja untuk membayar rumah kontrakan”
Akhirnya Ibu Halimah dan Anak kembarnya itu tinggal di rumah kontrakan sambil berjualan berbagai macam makanan untuk memenuhi kebutuhannya.