Hana memasuki lift. Ia menekan tombol angka 10, lantai yang akan ia tuju. Lift menuju ke lantai 2, 3, 4. Sesampainya di lantai 5, lift mulai bergetar lalu berhenti bergerak.
Eh?
Kenapa ini?
Liftnya mati?
Hana mencoba memencet tombol angka 10 tapi lift tetap saja diam. Hana lalu memencet tombol emergency.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap petugas di sana.
"Liftnya mati."
"Baiklah. Teknisi kami akan segera ke sana."
Hana menunggu.
"Klik ... Klik ..."
Hana menoleh ke belakang. Ia baru sadar bukan hanya dia di dalam lift tapi ada satu orang lagi, seorang pria.
Hana jadi takut karena hanya ada mereka berdua.
Ia tak akan macam-macam, kan?
Hana melihat ke dinding atas lift.
Untung ada camera CCTV.
Tapi itu apa itu menyala?
"Klik ... Klik ..."
Pria itu kok nggak kawatir?
Ia malah asyik ber-selfie ria.
Apa ia bakal posting fotonya dengan tagar #Terjebak?
Dasar pria aneh.
Hana menunggu dan menunggu tapi teknisi tak kunjung selesai memperbaiki lift.
Hana memencet tombol emergency lagi. Tapi tidak ada tanggapan.
Bagaimana ini aku sudah kebelet.
Hana tadi rencananya akan ke toilet di lantai 10 sebelum bertemu klien di sana.
"Kau kebelet?" Pria itu menyadari Hana sedang menahan sesuatu.
Hana menganggukkan kepalanya. Keringat dingin sudah membasahi badannya.
"Pakai ini." Pria itu menyodorkan sebuah kotak. Sepertinya kotak bekas bekalnya.
"Tapi kalau aku pakai, kau nggak bisa memakainya lagi."
"Belikan aku yang baru. Sepuluh kotak beserta isinya.."
"Hei ... Aku kan cuma pakai satu. Kenapa harus ganti sepuluh kotak?"
"Pertama ... Aku harus menutupi kamera CCTV. Kedua ... Kau mau mengompol di sini?" Pria itu melihat lantai tempat Hana berdiri.
"Baiklah ... Aku akan ganti sepuluh kotak. Hadap sana. Jangan lihat. Tutupi CCTV-nya."
Hana lalu menyelesaikan panggilan alamnya.
Lift bisa menyala lagi. Hana dengan cepat memasuki ruangan yang hendak ia tuju ia sudah sangat terlambat.
"Saya ingin bertemu bapak Joshua," ucap Hana ke resepsionis.
"Bapak Joshua belum datang. Silahkan menunggu."
Syukurlah aku tidak terlambat.
"Bapak Joshua ... Ada yang ingin bertemu Bapak."
Hana melihat pria yang bernama Joshua itu. Pria yang tadi terjebak bersamanya di dalam lift.
Hana merasa sangat malu. Ia ingin segera pergi dari tempat itu.