Aku ingat pernah satu kali aku pergi kerumah teman SMPku. Itu berada didekat sekolah, kelompok belajarku berkumpul disana sehabis pulang untuk membuat kerajinan tangan. Rumah sederhana, temboknya tak dicat dan lantainya masih mester.
Disana aku melihat seorang wanita tua, nenek temanku. Keriput, putih, tatapan matanya yang berkabut menatap kosong pada tayangan FTV di televisi. Nenek itu menengok ke arah cucunya yang baru datang.
"Bapakmu isik neng kantor?"
(Bapakmu masih di kantor?)
Kelompokku terdiam, setahu kami temanku itu anak yatim. Aku menoleh kesekitar ruangan itu, menemukan bingkai-bingkai foto dengan mangkuk didepannya. Didalam mangkuk itu penuh nasi dan ada sepasang sumpit tertancap diatasnya.
Mendadak aku mengigil, mungkinkah yang dimaksud si nenek adalah barang tak kasat mata?
Tak lama kemudian temanku itu menghela nafas, menjelaskan kesalah pahaman yang disebabkan oleh perkataan neneknya. Dari sana pula kami tau jika si nenek ini sudah tak lagi memiliki ingatan yang baik.
"Nyang ngendi Kakungmu? Nyang ngendi Buyutmu? Iki maeng wes tak masakne kok rung mulih-mulih."
(Kemana Kakekmu? Dimana Buyutmu? Ini sudah kumasakin kok ngak pulang-pulang.)
Temanku tersenyum lemah untuk menanggapi pertanyaan itu. Mungkin dia tak bisa memilih kata-kata yang tepat, mungkin saja takut perkataannya nanti bisa menyakiti.
Dan tanpa temanku harus menjawab pun aku juga sudah tau. Orang-orang yang ditanyai si nenek ini sudah tiada. Potret-potret dengan mangkuk di ruang tamu yang kulihat tadi adalah buktinya.
Aku memandang rumit nenek dengan tatapan bingung itu. Paranoid ku sejenak membuat gambaran wanita itu berganti jadi aku di masa tua nanti. Tak berdaya, ringkih, mulai melupakan segala sesuatu yang penting bagiku.
Aku menggigil ketakutan lagi diam-diam.