Suasana membosankan, tidak ada guru yang menerangkan. Siswa di kelas hanya diam dengan kegiatannya masing-masing. Satu sibuk menggosip, satu sibuk dengan gawainya.
Begitu membosankan. Kupandangi setiap detail kelas, masih tersisa kesan hari kemerdekaan dengan rumpai-rumpai merah putih di jendela.
Tiba-tiba pandanganku tertuju pada seseorang wanita, ia tengah terdiam, memperhatikan alam di sebuah taman sekolah melalui jendela. Tatapannya mengingatkanku akan orang terpenting dalam hidupku. Begitu sama.
"Ibu.."
~~
Bell istirahat berdering, semua siswa keluar dari sarang mereka dengan sebagian ada yang membawa bekal. Aku berjalan dengan santai sambil mengingat-ingat tatapan familiar tadi itu. Hati sedikit nyeri mengingat kenangan masa lalu. Senyumannya pada waktu itu selalu terngiang dalam angan yang tak pernah akan terwujud untuk bersama.
Sesampainya di kantin suasana hiruk pikuk menyelimuti. Pengap dengan bau yang cukup mengganggu penciuman. Aku segera membeli apa yang kubutuhkan dan pergi menuju taman sekolah.
Hawa yang sejuk, sinar mentari yang tidak terlalu terik. Sangat cocok.
Kududuk di sana, di sebuah bangku taman putih dekat pohon ceri yang teduh. Sesaat kutetapkan ini sebagai tempat terbaik.
Beberapa menit berlalu, tampak tenang. Tiba-tiba seorang wanita duduk di sebelah bangkuku tanpa melihat ada seseorang disebelahnya.
"Huft! Cape. Hahaha," ucap wanita itu tanpa tahu keberadaanku.
Wanita yang tadi? Apa yang dia lakukan? Sedikit membuatku geli. Biarlah sampai ia mengetahui keberadaanku.
Sesaat kemudian ia tampak terkejut. "Eh, Vino.. apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Ella. Raut wajahnya seperti menutupi rasa malu dalam hatinya.
"Tidak, tidak apa. Aku akan pergi," jawabku bangkit dari sana. Namun, segera dicegat olehnya.
"Umm, kamu boleh di sini."
Manik hitamku sedikit membola. " Baik."
Tanpa sadar kami berbincang dengan tema yang ringan. Hal yang tidakku sukai, tetapi entah mengapa terasa menyenangkan.
Hati yang haus akan dirinya kembali terisi. Sosok itu, seperti berada di hadapanku. Aku sempat berpikir, ini ibu.
Tiba-tiba suasana menjadi hening.
"Emm, Ella. Aku.." terhenti. Berpikir sejenak.
Aku merasa ingin selalu bersamanya. Namun, sekarang, belum saatnya.
"Kenapa? Vin?" tanya Ella.
"Tidak," aku tersenyum. Setidaknya percakapan tadi memulihkan rindu akan ibu. Aku akan berusaha untuknya, nanti ketika diriku sudah siap meminangnya.
Terima kasih