Sepenggal kisah tentang Aku, Naya Almira Putri. Seorang siswi di salah satu sekolah negeri yang berada di sebuah desa yang ditinggalinya. Cerita ini mungkin akan membuat kalian yang sering insecure dan iri terhadap kehidupan orang lain akan lebih bersyukur dalam menjalani hidup.
Aku seperti hidup diantara orang orang yang munafik, dia yang terlihat sangat suka dengan diriku ternyata dibelakang sangat membenciku. Entah karena aku hanya orang yang sederhana atau karena aku yang cukup dibilang mandiri.
Naya yang sejak kecil tidak pernah merasakan apa itu bahagia ketika dewasa pun harus merasakan kepahitan dalam hidupnya.
Ia yang dipaksa untuk berpikir dewasa disaat umurnya masih remaja. Dipaksa untuk memahami sesuatu yang seharusnya belum ia pahami.
Kasarnya sosok Ayah yang berniat membunuhnya saat masih duduk di bangku sd itu membuat Naya menjadi pribadi yang lebih kuat dari anak seumuran dirinya lainnya.
*****
Naya mendudukan dirinyalah didepan meja belajarnya. Seperti hari hari biasanya gadis itu akan melaksanakan daring karena pandemi covid 19 yang tak kunjung berakhir.
ting
sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponsel gadis sederhana itu. Diraihnya benda berbentuk pipih itu, terlihat sebuah pesan masuk dari salah satu temannya yang bernama Chika.
"Jalan yuk Nay" Isi pesan itu.
"Kemana Chik?" Balas Naya.
"Cafe, sekalian kita belajar disana"
"Boleh"
Setelah membalas pesan dari Chika, Naya segera merapikan buku bukunya dan juga laptop milikinya. Perempuan itu memasukan barang barang yang dibutuhkannya kedalam sebuah tas agar lebih mudah untuk membawanya.
******
Star Cafe
"Terimakasih" Ujar Naya dah Chika secara bersamaan tatkala seorang pelayan mengantarkan pesanan keduannya.
"Gue lagi sedih banget Chik" Ujar Naya. Wajah gadis itu terlihat sendu.
"Kenapa?" Tanya Chika.
"Ibu gue sakit Nay, harus dioperasi" Ujar Naya.
"Separah itu?" Tanya Chika.
"Iya" Ujar Naya.
Ponsel Naya tiba tiba berdering hingga membuat Naya yang sedang melamun sembari menyangga dagunya itu terpaksa menurunkan tangannya. Diliriknya benda pipih yang diletakan diatas meja itu. Nama Fikri tertera dengan jelas di layar ponselnya.
"Siapa?" Tanya Chika.
"Biasa" Ujar Naya. Tangan gadis itu tergerak untuk meraih benda pipih yang berada didepannya. Digesernya icon berwarna hijau kemudian didekatkan ke daun telinganya.
"Hallo Yang, kamu dimana?" Tanya Fikri disebrang telfon.
"Star Cafe Yang" Ujar Naya.
"Aku susul ya" Ujar Fikri.
"Iya, aku tunggu ya" Ujar Naya. Setelah itu sambungan telfon pun terputus. Naya meletakan kembali ponselnya di tempat semula.
"Mau nyusul?" Tanya Chika.
"Iya"
Beberapa menit kemudian.
Seorang laki laki terlihat berjalan kearah pintu menuju meja yang diduduki Naya dan Chika.
"Lama banget sih" Ujar Naya.
"Maaf yang" Ujar Fikri sembari mendudukan dirinya disebelah Naya.
"Gue jadi obat nyamuk nih?" Seru
Chika meledek.
"Cari pacar makannya Chik" Ujar Naya sembari tertawa.
Sore harinya, Naya terlihat baru saja pulang dengan diantar Chika.
"Makasih ya Chik" Ujar Naya sembari melepaskan seatbeltnya.
"Eh Nay, ini gue ada uang sedikit buat bantu bantu lo" Ujar Chika sembari memberikan beberapa lembar uang seratusan ribu kepada Naya.
"Eh Nay nggak usah, gue masih ada bonus kok hasil dari nulis bulan lalu" Tolak Naya dengan halus.
"Udah nggak apa apa, anggap aja kamu pinjem nanti kalau sudah punya uang bisa lo ganti" Ujar Chika. Gadis itu terlihat sangat tulus mengatakan itu kepada Naya.
"Ya ampun Nay, makasih ya lo baik banget sih sama gue" Ujar Naya sembari menerima uang dari Chika.
"Iya santai aja sih" Ujar Chika.
"Ya udah Chik, gue turun dulu ya sekali lagi makasih gue selalu repotin lo" Ujar Naya, gadis itu benar benar merasa terharu dengan Chika sahabat yang selalu ada untuk dirinya saat susah maupun senang. Sebarnya Chika itu masih bisa dikatakan saudara Nara karena mereka satu canggah.
"Iya, ya udah gue balik dulu" Pamit Chika setelah Naya keluar dari dalam mobilnya.
*********
Beberapa minggu kemudian, Semua masih terlihat baik baik saja ibu Nara juga sudah selesai operasi. Naya terlihat sedang asik bermain di depan laptopnya. Jari jemarinya itu dengan lihai mengetik satu persatu huruf alphabet yang tertera di keyboard laptopnya.
Alma, ibu Naya terlihat masuk kedalam kamar Naya dengan muka paniknya.
"Nay" Panggil Bu Alma.
"Iya kenapa buk?" Tanya
"Nay, kamu kemarin kasih ibu uang buat tambahan oeprasi dari mana?" Tanya Ibu Alma.
"Dari hasil aku nulis buk, sama dikasih pinjem Chika" Ujar Nara.
"Nay lebih baik kamu kembalikan uang Chika, jangan pinjem uang sama dia lagi" Ujar Ibu Alma.
"Kenapa Buk?" Tanya Naya.
"Ibu tadi dengar dari tetangga, katanya Chika posting status di WhatsAppnya" Terang Ibu Alma.
"Status apa buk?" Tanya Naya.
"Coba kamu cek di hp kamu!" Pinta ibu Alma.
Naya menurut. Perempuan itu mengambil ponselnya yang diletakkan di atas meja, dibukanya aplikasi WhatsAppnya dan dicarinya status Chika sahabatnya.
"Katanya penulis tapi kok ga punya duit wkwk" Naya membaca status Chika.
Setelah membaca tulisan itu, tubuh Chika seketika lemas. Gadis itu benar benar tidak menyangka kalau ternyata Chika sahabatnya itu setega itu terhadapnya.
"Nay" Panggil Ibu Alma.
"Iya Buk" Ujar Naya.
"Maaf ya gara gara ibu kamu harus sampai meminjam uang sama Chika" Ujar sang ibu.
"Nggak kok buk, ibu nggak usah mikirin masalah itu ya, nanti biar aku balikin" Ujar Naya menangkan.
Air mata menetes seketika selepas kepergian ibunya. Hatinya benar benar merasa sakit sekarang. Dadanya benar benar sesak.
Naya meraih ponselnya yang sebelumnya sudah diletakkan diatas tempat tidurnya. Perempuan itu mencari kontak Chika kemudian mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya itu.
"Chik, bisa kita ketemu sebentar? ada yang mau gue omongin" ~ Naya.
"Oke Beb, dimana?" ~ Chika.
"Lapangan basket" ~ Naya.
******
Lapangan Basket.
Naya terlihat sedang mendudukan dirinya di kursi penonton menunggu kedatangan Chika. Tak lama suara seseorang yang sangat sangat familiar di telinganya itu menyapa dirinya.
"Sudah lama?" Tanya Chika berbosa basi dengan senyum manis diwajahnya.
"Tuhan, rasanya aku hidup diantara orang orang yang munafik" Gumam Naya dalam hati melihat Chika tersenyum kearahnya.
"Lumayan" Jawab Naya. Gadis itu beranjak dari duduknya, mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Dibukanya aplikasi galeri dan diperlihatkan kepada Chika.
"Ini aku kan Chik?" Tanya Naya to the point.
Chika mengambil alih ponsel milik Naya, dilihatnya gambar yang tertera disana.
"Nggak kok Nay, lo salah paham" Ujar Chika.
"Masa sih gue salah paham?" Tanya Naya.
"Tentu saja, lo kan tahu gue itu kalau nggak suka ya bilang nggak suka nggak bakal main belakang" Ujar Chika.
"Oh ya" Naya masih tidak percaya.
"Terus penulis itu maksudnya apa? bukankah dari semua teman kamu hanya aku seorang penulis?" Seru Naya.
Chika diam. Gadis itu sekarang merasa terpojokkan.
"Kenapa diam?" Tanya Naya.
" Ya itu kamu" Ujar Chika akhinya.
"Kenapa?" Tanya Naya.
Mendengar pertanyaan Naya, Chika seketika tertawa. "Lo bodoh atau bego, jelas karena gue iri sama kehidupan lo yang lebih bahagian lah" Terang Chika.
Jelas Naya terkejut mendengar jawaban dari Chika. Ia tidak pernah menyangka kalau sahabatnya itu selama ini iri terhadap dirinya.
"Apa yang membuat lo iri terhadap gue?" Tanya Naya.
"Gue iri sama lo, disaat Lo masih sangat muda dan duduk di bangku SMA lo udah bisa segalanya, Lo udah bisa memberikan uang kepada orang tua lo, Lo juga punya pacar yang sayang sama lo tanpa memandang fisik ataupun keadaan lo" Terang Chika.
"Lo dengerin gue Chika, Nggak ada yang bisa lo Irikan dari kehidupan gue. Dari pada iri lo itu seharusnya bersyukur. Lo itu cantik, lo juga kaya, hidup lo enak, orang tua lo sehat, Lo bisa mendapatkan apapun yang lo inginkan tanpa harus bekerja keras. Sedangkan gue? Sejak kecil gue nggak pernah mendapat kasih sayang dari ayah gue, bahkan hampir setiap hari disiksa, bahkan dicekik. Hidup gue itu nggak enak, mungkin lo melihat gue udah bisa menghasilkan uang sendiri itu udah sukses, tapi lo salah. Justru gue itu sedang bekerja keras untuk menuju sukses" Naya menjeda kalimatn.
"Lo nggak tahu seberapa sulitnya hidup gue, setiap cibiran demi cibiran gue terima. Semua orang seakan terlihat seperti suka dengan gue tapi kenyataannya gue hidup diantara orang orang yang munafik tak terkecuali lo. Lo orang yang gue kira tulis berteman sama gue tapi ternyata-" Naya tidak melanjutkan kalimatnya. Air matanya itu lolos dari pelupuk matanya.
"Nay"
Naya mengusap kasar air matanya kemudian berkata "Gue nggak pernah mau hubungan kita itu renggang Chik, tapi kalau emang lo nggak mau berteman lagi sama gue karena menurut lo gue ngerepotin lo maka gue terima keputusan lo, gue bakal ganti setiap uang yang sudah lo keluarkan untuk membantu gue" Terang Naya.
"Nay maaf" Sesal Chika.
"Gue minta maaf, lo benar nggak seharusnya gue iri sama lo, gue emang bodoh seharusnya gue bersyukur karena gue nggak harus bekerja keras seperti lo" Ujar Chika. Air mata gadis itu ikut lolos membasahi pipinya.
"Bukan lo yang nggak pantas jadi teman gue Nay, tapi gue yang nggak pantas jadi taman Lo" Imbuh Chika lagi.
Naya tersenyum mendengar perkataan Chika. Perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati kearah Chika lalu memeluk tubuh sahabatnya itu.
"Lo pantes kok jadi teman gue, gue harap setelah kejadian ini lo bisa lebih bersyukur dalam menjalani hidup lo" Ujar Naya.
"Iya Nay, gue akan lebih bersyukur" Ujarnya. Kedua orang kemudian saling melepaskan pelukannya dan salin pandang satu sama lain.
"Nay, Lo masih mau kan jadi sahabat gue?" Tanya Chika.
"Sampa kapanpun kita adalah sahabat Chika" Ujar Naya.
TAMAT
Ini hanya sekilas ya guys, nggak semuanya karena perjalanan hidup lengkapnya terlalu menyitkan untuk dituliskan wkwkkk