Kisah Nyata...😙
Namaku Arsya. Aku berasal dari keluarga sederhana, keluargaku bukanlah keluarga yang fanatik tentang agama. Bahkan masalah aurat dianggap hal biasa yang tidak mengapa jika tidak menutupnya . Lingkunganku pun bukanlah lingkungan yang agamais.
Pemahamanku tentang ilmu agama sangatlah minim. SD sampai SMA aku selalu masuk ke sekolah umum. Aku pun acuh tentang itu. Agamaku adalah Islam, tapi diriku sama sekali tidak mencerminkan tentang agamaku sendiri.
Universitas X merupakan salah satu universitas yang masuk 10 universitas terbaik di indonesia. Sejak SMA aku sangat ingin kuliah disana dan qodarullah setelah mendaftar, aku dinyatakan sebagai salah satu pendaftar yang dinyatakan lulus.
Bahagia, itulah yang aku rasakan saat mendengar pengumuman kelulusanku. Dan lagi-lagi aku masuk ke lembaga pendidikan yang tidak berbau Islami. Aku bukanlah seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga yang berada. Karena itu aku menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat beasiswa yang diberikan kepada sebagian mahasiswa kurang mampu.
Lulus di fakultas teknik, jurusan teknik perkapalan, program studi teknik perkapalan. Jurusan dimana mata kuliah agama Islam hanya dipelajari satu semester saja. Tidak masalah bagiku karena aku memang bukanlah manusia yang peduli akan agama.
Semester awal berjalan sebagaimana mahasiswa pada umumnya. Status baru sebagai mahasiswa, lingkungan baru, teman baru, dan tentu saja tugas kuliah yang menumpuk. Di semester kedua, temanku yang bernama Aningsi mengajakku ikut kajian rutin bersamanya. Dia adalah teman seangkatan denganku yang memang sejak awal sudah berjilbab besar.
Fanatik, berlebihan, so Arab, so alim. Itulah yang ada dipikiranku jika melihat perempuan berjilbab besar apa lagi yang memakai cadar. Tapi entah mengapa, saat itu aku mengiyakannya.
Yah ! hanya sekedar ikut-ikutan.
Diakhir semester 2 kurasakan sebuah perubahan. Hatiku bergemuruh ingin berubah. Iya, merubah penampilanku. Bukan untuk terlihat stylish dan mengikuti tren masa kini, tapi berusaha menjadi muslimah yang sesungguhnya.
Aku tidak bisa merealisasikan keinginanku saat itu juga. Karena sudah kukatakan bahwa aku tidaklah berasal dari keluarga berada. Meminta uang kepada orang tuaku untuk membeli jilbab panjang adalah sebuah ide konyol yang tidak mungkin aku lakukan.
Dari beasiswa yang kudapatkan, kusisihkan sedekit untuk kutabung. Meski hanya sedikit karena selain untuk biaya kost, uang itu juga harus cukup untuk biaya hidupku sehari-hari. Tapi aku sudah sangat bersyukur, setidaknya aku sudah ada tabungan meski hanya sedikit.
Entahlah, aku pun tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan otakku. Aku yang sebelumnya selalu menghina muslimah-musliamah berjilbab panjang namun sekarang aku sangat ingin menjadi seperti mereka. Sungguh, Allah Maha membolak-balikkan hati.
Jilbab tipis yang selama ini aku pakai kini aku memakainya dengan men-double-nya menjadi dua lapis. Terlihat ribet dan sebenarnya memang ribet tapi hatiku telah bertekad untuk hijrah. Selama ini aku memakai jilbab tapi pada hakikatnya tidak, karena jilbab yang aku pakai tipis dan transparan.
Diakhir semester 3, akhirnya aku bisa membeli 4 helai kerudung panjang. Bahagia rasanya bisa mendapatkan apa yang telah lama kita dambakan. Sebelum pulang kampung dalam liburan semester 3, aku mulai memakai jilbab panjang.
Bahagia dan bimbang.
Itulah yang aku rasakan saat itu. Seperti ada ribuan bisikan yang menghasutku untuk tidak memakainya. Namun, dibalik ribuan godaan itu ada hati yang telah mantap untuk melangkah. Apa yang perlu aku takutkan, sementara Allah ada bersamaku. Allah ada dipihakku, Allah ada di sisiku.
Rasanya begitu lega. Tak ada penolakan yang berarti atas jilbab panjangku. Hanya sebuah nasehat dari ibu untuk tidak ikut-ikutan dalam aliran yang menyimpang. Ayahku sendiri no comment.
Dan salah satu alasanku hijrah selain karena memang sebuah kewajiban, hadits yang mengatakan bahwa “selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka”, (H.R. Tirmidzi & Hakim).
Hadits yang membuat hatiku bergetar. Bagaimana mungkin seorang anak perempuan begitu tega menjerumuskan ayahnya sendiri ke dalam neraka ? Seorang ayah yang telah membanting tulang demi mencari rezeki, demi menghidupi dan memenuhi kebutuhan anaknya tapi anaknya malah membalasnya dengan neraka ?
Aku memiliki 3 sahabat, Aningsi yang memang sudah hijrah sejak awal kuliah. Annita, dia hijrah di semester 2. Dan Yuni, yang hijrah bersamaan denganku. Kami saling mensupport dalam hijrah.
Awalnya semua baik-baik saja, sampai di minggu kedua semester 4 hatiku tiba-tiba ingin memakai sehelain kain kecil yang bernama cadar. Malam Sabtu, keinginan itu tiba-tiba muncul. Aku bingung tak karuan. Keluargaku pasti tidak menerima cadarku. Di hari Ahad, aku dan sahabatku Yuni menghadiri sebuah Tabligh Akbar di salah satu mesjid di kota kami.
Kuceritakan keinginanku kepadanya,
“Masya Allah walhamdulillah, niat baik harus disegerakan ukhti !" katanya memberi semangat.
Saat itu juga kutelfon ibuku, dengan suara yang bergetar serta sekujur tubuh yang terasa panas dingin. Kusampaikan niatku, kujelaskan dengan nada yang selembut mungkin, berharap bisa membuat ibu menerimanya. Atau setidaknya mendapatkan secercah harapan bisa diterima olehnya.
Penolakan.
Hal yang sudah kuduga sejak awal. Keluargaku 99% tidak setuju dengan niatku, hanya adik bungsuku yang tidak berkomentar. Ahh, haruskah kukatakan bahwa dia bukannya setuju denganku hanya saja dia masih terlalu kecil untuk memahami hal ini.
“Ingat jurusanmu ! Bagaimana bisa dengan penampilan seperti itu ?”
"Aliran sesat”
“Teroris”
“So alim”
Hatiku kacau tidak karuan. Akhirnya kata-kata itu terlontar dari mulut keluargaku. Kata-kata yang dulu sering kuucapkan saat melihat Muslimah berpakaian syar'i atau memakai cadar.
Itukah hukum karma ?
Secepat itukah aku mendapatkannya ?
Aku bagaikan seseorang yang kalah sebelum berperang. Namun hati kecil pun berbisik,
“Hanya segitukah kekuatanmu ? Ini baru awal dan kau sudah menyerah ?”
Sepulang dari Tabligh Akbar, kuminta sahabatku untuk singgah di toko perlengkapan muslimah. Kubeli beberapa helain cadar meski aku belum tahu kapan akan memakainya.
“Cadar kan sunnah, tidak mengapa di sini kamu pakai, nanti di kampung kamu lepas. Terkadang kita memang terasingkan diatas sunnah” jelas sahabatku.
Malam itu hatiku dipenuhi kebimbangan. Memakainya sekarang, nanti, atau tidak sama sekali. Air matapun membasahi wajah kusutku. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang.
Kupandangi pantulan diriku di balik cermin di depanku. Kuyakinkan diriku sekali lagi sebelum benar-benar melangkahkan kakiku keluar.
“Terlihat anggun, tapi mengapa orang-orang dan aku yang dulu sering memanggil mereka teroris, hantu, menyeramkan dan sejenisnya ? Seperinya ada yang salah dengan mata kita. Ahh, atau sebenarnya bukan mata ini yang salah, tapi karena ada noda di hati kita ?" batinku.
Tanggal 3 April 2017. Tanggal yang mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Tepatnya hari ini, kuputuskan untuk memakai cadar meski belum mendapatkan izin.
Hampir setiap hari aku terus mencoba menjelaskan kepada keluargaku tentang cadar. Mencoba merayu untuk mendapatkan sebuah izin. Namun, masih sama seperti hari kemarin. Hanya penolakan yang kudapat. Dan hampir setiap hari pula aku selalu menangis karena hanya mendapat tuduhan yang begitu menyayat hati.
IS*S, syi’*h, teroris, dll.
Di luar aku mungkin terlihat tegar, aku mungkin terlihat baik-baik saja. Namun sebenarnya, dibalik sehelai kain yang menutupi wajahku ada jutaan tetesan air mata yang telah berjatuhan.
Kurang lebih sebulan setelah kuputuskan bercadar, ibu memberi kabar bahwa ayahku akan datang di kost karena ada acara keluarga yang tempatnya tak jauh dari kostku. Bahagia namun juga takut. Merasakan dua hal berbeda dalam waktu bersamaan.
Bahagia, karena akan bertemu ayah yang aku rindukan. Namun takut, karena sebentar lagi ayah akan tahu bahwa selama ini aku telah lancang memakai cadar tanpa izin darinya.
Seumur hidupku, aku belum pernah sekali pun melihat ayah meneteskan air matanya. Dan aku berharap tidak akan pernah melihat hal itu.
Namun kini, semuanya telah berakhir. Kini, aku melihat air matanya menetes karena ulahku. Aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin aku setega itu melukai hati ayahku. Apa aku pantas disebut anak ? Aku telah menggores luka yang begitu dalam di hati ayahku sendiri.
“Ayah, maafkan gadis kecilmu ini. Sungguh, aku tidak pernah berniat melukai hatimu apa lagi sampai membuatmu menangis. Maafkan aku ayah, sungguh semua kulakukan karena aku menyayangi ayah meski mungkin caraku salah. Tapi sungguh, semua karena aku menyayangimu ayah !”
Aku tidak mengerti bagaimana berita itu menjelma menjadi fitnah yang tiba-tiba bertebaran bak debu yang menyebar ke segala arah hanya dalam sekali tiupan angin. Di kampung, aku menjadi trending topic. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa yang menyebarkan fitnah itu adalah keluargaku sendiri.
Hampir setiap hari kedua kakakku selalu marah kepadaku. Dan juga adik laki-lakiku yang sebelumnya selalu berpihak kepadaku kini dia menentangku. Hinaan, kutukan, kata-kata kasar, seperti sebuah sarapan wajibku setiap hari.
Aku seperti sedang tersesat di tengah gurun pasir, berjalan seorang diri tanpa bekal apapun. Tapi sungguh, semangat itu masih membara sehingga kedua kaki ini masih bisa melangkah meski tertatih dan susah payah. Satu hal yang kuyakini bahwa di depan sana pasti ada pelangi yang tengah menantiku selepas badai yang sedang menimpaku sekarang.
Hatiku bimbang, langkah apa yang selanjutnya harus kupilih. Aku bersyukur ketiga sahabatku selalu menyemangatiku.
“Hati itu milik Allah, Dia Yang Maha membolak-balikkan hati. Mintalah kepada-Nya agar membuat hati kedua orang tuamu menerima hijrahrmu” kata sahabatku Aningsi.
“Seperti yang aku sudah katakan sebelumnya, cadar itu sunnah. Di sini tak mengapa kamu pakai namun nanti jika kamu pulang kampung kamu melepasnya” kata sahabatku Yuni.
“Hijrah itu berat, mau tahu kenapa ?, karena hadiahnya Syurga. Kalau ringan dan mudah paling hadiahnya piring” kata sahabatku Annita mencoba menghibur namun yang dia katakan 100% benar.
Semester 4 hampir kuhabiskan dengan terus berusaha meyakinkan kedua orang tuaku. Meminta dan memohon kepada Allah dalam setiap sujudku. Kusampaikan seluruh keluh kesahku kepada-Nya. Mengadu atas sesak di dadaku. Memohon agar diberi jalan keluar.
Hari ini, tepatnya dua hari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Teman-temanku sibuk mengurus rencana pulang kampung untuk menyambut bulan suci Ramadhan bersama keluarga mereka. Namun tidak denganku, selama ini aku selalu memulai bulan Ramadhan bersama keluarga. Tapi tidak untuk tahun ini.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena aku belum siap bertemu dengan keluargaku dengan penampilanku saat ini. Sedih rasanya akan sahur pertama tanpa ayah, ibu, kakak, dan adik-adikku.
Kami libur di minggu ketiga bulan Ramadhan. Perjalanan pulang ke kampung halamanku memakan waktu 7-8 jam dengan mobil. Dalam perjalanan, hatiku tidak pernah tenang. Sesekali air mata memaksa untuk keluar dari kelopak mataku. Ada rasa takut yang begitu menyiksa, tapi aku sudah berusaha. Aku sudah melakukan yang aku bisa. Kini biarlah menjadi urusan Allah. Dia yang memiliki hati keluargaku, kuserahkan sepenuhnya kepada Allah.
Dengan langkah kaki berat, kudekati pintu rumah,
“Assalaamu’alaikum...”, aku memberi salam.
“Wa’alaikumussalaam” adikku menyambutku hangat.
Tak lama kemudian ibu dan ayah datang. Aku sudah menyiapkan mental untuk menerima apa pun yang akan mereka katakan atas cadarku. Bahkan jika akan mendapat perlakuan kasar dari mereka, aku sudah menyiapkan mentalku.
“Ehh sudah pulang ? Bukannya masih ada tugas yang belum selesai nak ?” tanya ibu.
Aku terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut ibu. Mengapa bukan tentang cadarku ? Mengapa tidak mengomentari cadarku ? Mengapa tidak marah ? Mengapa tidak memintaku melepas cadarku ?
Mengapa mengapa mengapa ?
Aku menangis dalam diam. Tapi kini, menangis karena bahagia. Sungguh, janji Allah itu pasti. Hati itu milik Allah. Allah yang berkuasa atas hati hamba-Nya. Sungguh, Allah telah mengabulkan doaku selama ini. Sungguh, Allah telah menggantikan setiap tetesan air mata yang telah jatuh dengan sebuah “restu dari orang tuaku".
Saat sedang duduk bersama ayah dan ibu. Ibu bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya juga kutakutkan sejak awal berniat untuk hijrah. Aku merasa bersalah atas hal ini, tapi pantaskah aku meragukan Kebesaran Allah ?
“Nak ! Ala penampilanmu tidak akan mempengaruhi peluang kerjamu nanti ?” pertanyaan yang sungguh tidak pernah ingin aku dengar kini terlontar dari bibi ibuku.
“Jujur bu, kemungkinan besar penampilanku akan sangat berpengaruh atas peluang kerjaku kelak. Apa lagi jurusanku jurusan teknik. Maafkan anakmu ini bu, yah. Tapi aku janji, nanti aku akan bekerja, meski bukan di tempat dimana teman-teman sejurusanku bekerja. Meski bukan di tempat seharusnya lulusan sarjana perkapalan bekerja. Tapi aku janji aku akan mencari pekerjaan yang bisa menerimaku dengan penampilanku yang seperti ini. Selama itu halal” batinku.
“Bu, Allah yang telah mengatur rezeki hamba-Nya. Kita hanya perlu berusaha, yang menentukannya itu Allah. Bahkan meskipun aku tidak memakai jilbab jika itu bukan rezekiku maka aku tidak akan mendapatkannya” jawabku mencoba tegar meski hatiku sakit.
Ibu diam tak menjawab, begitu pun ayah yang hanya diam dari tadi. Aku merasa semakin bersalah. Meski mendapat beasiswa tapi tetap saja aku sering meminta uang kepada mereka untuk keperluan seperti praktek dan kunjungan lapangan yang sering membutuhkan uang lebih.
Selama berada di kampung, orang-orang yang sebelumnya ramah, kini berubah seperti orang yang tak pernah mengenalku. Aku seperti orang asing di kampungku sendiri. Sakit rasanya saat melihat mereka memandangku sebelah mata.
Namun, lagi-lagi hati berbisik,
“Allah menilai seseorang dari ketakwaannya, bukan dari seberapa banyak orang yang suka padanya”
Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah telah berkehendak. Kutemukan hidayah di kampusku tercita. Kampus yang kukatakan tidak berbau Islami tapi disanalah kutemukan hidayah-Nya. Keluargaku yang awalnya menentang keras cadarku, kini telah menerimanya.
Semester 5 menjadi awal baru bagiku. Bukan tanpa hinaan dan cacian orang lain, tapi karena restu telah kudapatkan dari kedua orang tuaku.
“Karena ujian datang bersamaan dengan niatmu untuk HIJRAH. Bukan karena Allah tidak suka dengan niat HIJRAHMU, tapi karena ada KADO ISTIMEWAH yang sedang Allah bungkus dengan sebuah UJIAN. Percayalah, akan selalu ada PELANGI setelah BADAI”😊
(Haru No Yuugure)
Semoga kalian suka dan semoga menginspirasi kalian ! Untuk yang sedang berjuang di jalan Hijrah, jangan pernah menyerah ! Karena Allah selalu bersamamu !🤗😙