Bendera kuning terpasang di depan rumah Bu Arina. Wanita janda itu hanya memiliki anak satu-satunya yang ia miliki. Suaminya meninggalkan serta menceraikan dirinya dan menikah dengan wanita lain.
Deraian air mata terus mengalir di pipi Arina. Ia menangis tiada henti. Para warga yang merasa iba dan kasihan lalu mendekati Arina dan menghibur nya.
Sudah lima bulan berlalu, semenjak kelihangan putranya, Arina terus berdoa pada Allah SWT agar menempatkan putranya di surga-Nya.
Arina yang merasa kurang mampu, melakukan usaha toko kelontong kecil di depan rumahnya. Terkadang, ia masih mengingat bayang-bayang anaknya yang suka jajan semasa anaknya masih hidup dulu. Ibu mana yang tidak sedih kehilangan anaknya?
Suatu hari, selepas sholat subuh, Arina berdzikir dan membaca Yasin untuk anak tercinta. Ia ingin, anaknya hidup bahagia di syurga. Ia terus berdoa kepada Yang Maha Esa.
Arina mengambil sebungkus mie rebus dan memasak dan memakannya.
Sama seperti biasanya, ia mengingat semasa dulu. Pertama kali melihat mie, putranya sangat takut akan hal itu. Putranya menganggap, mie itu adalah ular. Tapi, setelah lumayan besar putranya baru menyukai mie.
"Ibu...ibu.." samar-samar, terdengar suara lelaki dari belakang Arina.
"Hum?" tanya Arina.
Arina menoleh ke belakang..
"Sa...sayang... Putraku!" panggil Arina sambil menangis.
"Iya Bu, ini aku!" ucap putra Ariana, ia bernama Fabyan.
"Anakku, Fabyan..hiks" tangis Arina.
"Bu, aku merindukanmu, Bu!" Ucap Fabyan samar-samar.
Air mata Arina mengalir deras. Ia tidak bisa berhenti menangis setelah mendengar suara anaknya itu.
Fabyan terus tersenyum di hadapan ibunya.
Arina tidak bisa berkata-kata, dirinya ingin sekali memeluk anak tunggal nya itu.
Arina berdiri hendak memeluk anaknya. Tapi..
Tok...tok...tok... "Assalamu'alaikum Bu Arina, permisi" panggil seseorang dari luar rumah.
"Auhh.." Arina terjatuh.
Ternyata, tadi itu bukan anaknya. Ia hanya berilusi. Saking rindunya, ia sampai hampir terlena oleh suasana.
"Ya Allah, lindungi dan kuatkan hamba-Mu ini Ya Allah. Tempatkan putra hamba di surga-Mu Ya Allah" ucap Arina di sela tangisnya.
Arina keluar dan menghampiri seseorang yang memanggil nya. Ternyata, itu adalah tetangga Arina yang hendak membeli barang di toko kelontong nya...
"Sayangi mereka yang masih hidup, karena, setiap makhluk hidup tidak ada yang hidup abadi! Semua akan menemui ajalnya masing-masing. Perbanyak ibadah, kumpulkan amal baik agar bisa masuk surga-Nya nanti. Aamiin!"
~The End~