Malam yang cerah diterangi lampu hias disepanjang jalan, pria yang berjalan didepanku sambil menggenggam tanganku, terasa hangat namun terasa jauh...
Aku tahu perasaan ini begitu menjijikkan, menyukai orang yang sama dengan temanku, walau tidak ada yang salah dengan perasaan cinta, tapi menjaganya tetap dalam hatiku bukan hal yang baik pula.
Aku merasa begitu buruk, jika saja kak Alex tidak begitu mencintai Stella mungkin aku bisa masuk diantaranya. Perasaan campur aduk antara marah, kecewa, dan sedih, aku tidak dapat merusak hubungan pertemanan kita hanya karna laki-laki yang kita cintai sama.
Kak Alex, senior musikku dan Stella, teman dari temanku Risya. Karena Risya sering mengajakku bermain ke tempat Stella bekerja di caffee Abbyss, aku dan Stella otomatis berteman. Walau tidak begitu dekat dengannya, aku tahu Stella orang yang ramah, baik, dan periang. Tidak heran Kak Alex menyukainya. Dia juga cantik.
Sekitar setengah tahun lalu Stella mengenalkanku kepada seseorang yang tergabung dalam sebuah band bernama Scorpions dengan alasan ketertarikan yang sama terhadap alat musik gitar. Dia cukup baik dimataku dengan kesan pertama yang romantis.
"Kita terhubung oleh takdir, dan takdir datang kepada kita melalui aliran musik..."
Begitu kata Kak Alex saat pertama kali kita bertemu... Tanpa sadar mataku terpana tak bisa berpaling darinya saat dia memetik gitarnya dan menyanyikan beberapa kalimat yang membuat hatiku bergetar. Aku cukup kaget dengan kenyataan bahwa aku jatuh cinta dengan seseorang semudah ini. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, dan kali ini aku menyerah pada seorang pria dalam sekali lihat.
Setelah pertemuan kala itu, aku dan Kak Alex sering menghabiskan waktu bermain gitar bersama, bahkan sempat diundang ke pertunjukkan band nya, lalu kita juga melakukan banyak duet di caffee dan di live house. Aku merasa jarak diantara kita berkurang sampai suatu waktu ketika aku dan Risya pulang dari sekolah menengah kami, aku melihat Kak Alex dan Stella di Caffee Abbyss,,, mereka begitu dekat sampai sulit dikatakan hanya sekedar teman. Ketika aku dan Risya datang menyapa mereka, aku melihat ekspresi kak Alex yang sedikit terganggu. Walaupun dia berusaha menutupinya, aku bisa melihatnya...
Malam harinya aku dan kak Alex bertemu lagi di live house. Aku benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. Aku lalu memberanikan diri bertanya mengenai perasaan pribadinya terhadap Stella. Aku terus berdo'a dalam hati berharap agar dugaanku salah. Tapi dia mengatakannya dengan wajah bahagia sambil memegang gelas wine, "Aku menyukainya!"
Itu.... benar-benar telah mematahkan hatiku didalam sana. Aku sangat berusaha dalam menahan rasa sakitnya hingga sampai batas, aku... tidak bisa menahannya lagi lalu ditengah perbincangan kita, aku pergi begitu saja mengambil tasku yang berisi gitar lalu pulang dalam keadaan wajahku basah kuyup karena air mata.
Malam yang sungguh mengerikkan, tapi aku jadi tersadar, kita tak sama. Aku dan mereka yang kurasa memang lebih dewasa dariku, baik usia, dan pemikirannya tentang cinta yang tak sesederhana yang kukira.
Aku akan menyerah!!! Tidak, Aku memang harus menyerah demi kebahagiaan mereka dan demi diriku sendiri.
Esoknya sepulang sekola, aku meminta maaf kepada kak Alex karena pergi tanpa mengatakan apapun. Dia lalu tersenyum ramah sambil mengusap rambutku, dia bilang tidak masalah.
Rasa sakitnya memang masih begitu terasa, tapi sedikit demi sedikit aku belajar mengenai apa pentingnya cinta dan pertemanan. Aku juga akan terus melangkah maju dan suatu saat, aku pasti akan bertemu takdirku yang dituntun oleh aliran musik ini!