Seorang perempuan tengah duduk di bawah sebuah pohon beringin yang tertutupi salju, dia duduk sambil merenungi sesuatu. Rambutnya yang berwarna putih terlihat sama seperti warna salju yang turun dari helai daun pohon di atasnya, tampaknya perempuan ini sedang tidak dalam keadaan sadar, dia terisak-isak kecil.
"Kenapa aku memikirkan mereka lagi?"
Wanita ini menangis karena berhalusinasi lagi, mengira kekasih dan sepupunya masih hidup...
Beberapa saat lalu...
"Saljunya indah sekali,"
Suara itu, suara kekasihnya. Seorang laki-laki pirang tinggi yang menatap salju yang menutupi jalan dan pepohonan sekitar.
"Indah sepertimu."
Wanita itu, Iris menanggapi ucapan kekasihnya dengan senyuman lebar.
"Memang indah sekali, ash-"
Kyut!
Iris ingin menoleh, tapi tidak sempat karena kekasihnya memeluknya dari belakang lalu menaruh dagunya di leher Iris.
"Kebiasaan sekali, ini di tempat umum." Peringat iris sambil terkekeh.
Kekasihnya tidak merespon, dia malah membisikkan sesuatu.
"Kau terlalu sibuk, aku di lupakan beberapa hari ini."
"Benarkah? Kurasa aku bertemu denganmu beberapa hari-ah!"
Iris di balikkan tubuhnya, mereka jadi saling berhadapan. Ash dengan wajah kesalnya pura-pura tidak mendengar segala alasan dari kekasihnya.
"Tapi kemarin kau berjanji akan pulang, tapi ternyata baru hari ini pulang."
"Ah, ayolah sayang. Kau bukan anak kecil," iris yang gemas menarik tengkuk Ash agar tunggu mereka sejajar lalu memegang pipi kekasihnya yang sedang merajuk.
Ash menghela nafas, kekanakan juga dia jika merajuk tidak jelas begini. Akhirnya dia balas memegangi pipi kekasihnya dengan lembut.
Iris yang di pegangi pipinya merasa heran, apalagi pipinya di cubit dan dimainkan.
"Janghan cubyit pippiku!"
Ash tertawa melihat kesal tunangannya, tapi dia tidak berhenti. Iris sendiri lelah memberitahu Ash yang suka bermain dengan pipinya, tapi kemudian Ash menghentikan perbuatannya.
"Kenapha?"
Ash mendekati wajahnya, "Kau cantik iris begitu juga rambut merahmu ini."
Semburat merah tipis muncul di wajah wanita muda itu, "T-terimakasih."
"Aku jadi penasaran lelaki seperti apa yang beruntung bisa menikahi wanita secantik dirimu, ya?"
"Apa maksudmu-"
Tapi tepat saat selesai mengucapkan itu, Ash menghilang. Iris keheranan kemana dia?
"Ash..?"
Ash menghilang begitu saja, menyadarkannya bahwa tadi hanya halusinasinya belaka. Ash sudah mati 12 tahun yang lalu, Ash tadi hanya buatan alam bawah sadarnya.
Mata iris langsung berkaca-kaca, dia langsung jatuh di jalan begitu saja. Mendekap kedua lututnya dan menangisi semuanya, kenapa dia harus mengingat hal itu lagi? Kenapa dia harus mengingat kekasihnya yang sudah mati?
Sudah dua belas tahun, dan Iris masih saja tidak bisa mengikhlaskan kepergiannya? Dia benar-benar payah, konyol sekali tidak bisa move on dari laki-laki yang sudah mati.
"Ini semuanya salahku."
"Lagi-lagi menyalahkan dirimu sendiri, hm?"
Iris mengangkat kepalanya, di hadapannya ada seseorang yang di kenalnya memberikan tangannya untuk membantu Iris bangun.
"Louis...kenapa bisa disini?"
Laki-laki itu Louis, sepupunya. Kenapa dia ada disini?
"Ayo bangun, sudah berapa kali kukatakan jangan menyalahkan dirimu lagi!"
"Tapi aku tidak bisa," balas iris.
"Cobalah untuk memaafkan dirimu sendiri, iris. Menyalahkan segalanya pada dirimu hanya membuat batinmu tertekan."
Iris terdiam, dia tidak ingin merespon. Dia terlalu lelah, apa dia tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak?
Puk!
Louis akhirnya ikut duduk di samping iris, sepertinya dia tidak bisa menunggu Iris untuk berdiri jadi ikut duduk di sampingnya.
"Aku senang, kau mau membubarkan geng kriminalmu itu."
"Daridulu kau yang menginginkan itu, kan?" Iris berusaha untuk mengikuti arus pembicaraan Louis.
"Maafkan aku karena pergi tiba-tiba."
Iris langsung berdiri, "Kau siapa? Kau sudah tidak ada di dunia ini dari dua bulan lalu, jangan kembali seenaknya begini!"
Iris benar-benar lelah, haruskah dia percaya jika dia berhalusinasi lagi?
Louis tersenyum lalu bangun dan nepuk bahu Iris, "Entahlah aku ini siapa, tapi tolong bahagia untuk dirimu sendiri."
Setelah mengatakan itu Louis menghilang, Iris benar-benar kembali ke dunia nyata. Dia hampir gila, dua orang yang sudah mati di bayangkan masih hidup olehnya, ini tidak boleh.
"Hiks..."
Iris terisak, dua orang yang penting di hidupnya sudah pergi. Apa yang harus dia lakukan?
"Bodoh, aku masih harus hidup." Iris terbangun dari tempat duduknya, dan berjalan menjauh dari tempat itu.
Tapi di langkah ke tiga dia menoleh, melihat bayangan Louis dan Ash yang seperti menyampaikan salam perpisahan padanya. Lalu Iris hanya bisa tersenyum tipis menanggapi salam aneh itu, menahan tangisannya.
"Dasar orang-orang yang mati penasaran, aku tidak akan menyalahkan diriku lagi mulai sekarang jadi jangan menghantuiku terus."
Setelah mengatakan itu, iris pergi. sebelumnya menatap langit dan tersenyum, dia harus bersiap. Bersiap untuk besok hari, dia akan menjadi Iris yang lebih baik dari hari ini, untuk membuat dua arwah orang itu tenang.