Aku termenung melihat lantai dengan pandangan kosong. Aku sadar bahwa selama ini aku tidak memiliki ayah, ibu, kakak, atau adik. Sebelumnya, aku tidak menyadari bahwa aku hidup bersama bayang-bayang atau sekedar imajinasiku.
—
“Hai!” Sapaku.
“Ada apa?” Jawab Rian.
“Klinik di dekat lapangan masih buka?”
“Ada urusan apa ke sana?”
“Muka Adikku pucat, aku takut dia sakit parah.”
“Di mana Adikmu?”
“Ini… di sampingku.”
“Lebih baik kau ke rumah sakit Jiwa saja…”
Dia lalu pergi meninggalkanku sendirian. Aku melihat di sampingku tidak ada apa pun dan saat itulah aku mulai menyadarinya, walaupun sebelumnya aku sudah hampir sadar namun penyakit halusinasiku kembali lagi.
"Kring!” Bel tanda masuk sekolah berbunyi, aku segera masuk kelas karena aku bangun kesiangan.
“Maaf Pak, saya terlambat.” Maaf ku
“Tidak apa-apa, jangan ulangi lagi kesalahanmu.” Jawab Pak Guru.
Lalu aku duduk di sebelah si Akmal dan Edo yang sedang membicarakan tentang kelainan ku, yaitu halusinasi.
“Hei, kau tahu… si Hamzah sering berhalusinasi loh!” Kata Akmal.
“Hah?! apa iya?” Jawab Rian.
“Iya, aku sering lihat dia berbicara sendiri di jalanan, seakan-akan dia bersama orangtuanya.”
"Kasihan banget dia…”
“Padahal aku merasa dia anak yang baik dan pintar.”
“Iya…”
Aku berpikir sejenak untuk mengingat kejadian yang diceritakan temanku tadi, tetapi aku tidak mengingat kejadian tersebut dan wajah orangtua mereka. Aku merasa seakan-akan pikiranku teracuni oleh masa-masa bersama keluargaku yang meninggal karena kecelakaan di Jalan Tol sebulan yang lalu.
—
Sekarang, aku sedang ada di klinik untuk menanyakan penyakitku, tetapi dokter hanya berkata:
“Kau hanya trauma akibat kecelakaan tersebut, istirahatlah dan jangan bebani pikiranmu, itu akan memperburuk keadaanmu.”
“Baiklah.” Jawabku.
Aku segera pulang dan berusaha untuk tidur, namun aku melihat bayangan keluargaku tersenyum padaku. Aku tidak menghiraukan mereka dan tidur.
Sekarang, aku beranjak untuk pergi ke rumah pamanku yang jauh dari rumahku sekarang menaiki kereta api tujuan Surabaya. Aku bercerita banyak tentang penyakitku dengan paman dan bibiku, mereka mencoba untuk menenangkanku dan menawariku untuk tinggal bersama mereka selamanya.