"Sayang?"
Sayang? Siapa yang memanggilku seperti itu? Namaku bukan sayang dan juga aku jomblo akut saat ini. Lalu siapa yang memanggil 'Sayang' padaku?
Sebuah cahaya yang menyilaukan mengganggu tidur lelapku. Perlahan aku membuka mata untuk melihat cahaya apa itu. Apakah hari sudah pagi? Jika memang benar aku akan terlambat masuk kerja. Mataku sudah terbuka sempurna dan betapa kagetnya aku ketika wajah seseorang berada persis dihadapanku.
"Kamu siapa?" pekikku seraya memundurkan kepalaku.
"Kenapa mendadak amnesia? Aku suamimu. Ayo cepat bangun, aku sudah siapkan sarapan untukmu."
"Sejak kapan aku punya suami? Pacar saja tidak punya," gumamku masih dengan ekspresi bingung.
Apakah aku bermimpi? Diam-diam aku mencubit lenganku untuk memastikan apakah ini mimpi atau kenyataan. Tidak sakit, aku sama sekali tidak merasakan sakit. Masih belum percaya, aku kembali memastikannya. Kini dengan menampar pipiku sendiri.
PLAK!
Bunyi nyaring itu membuat seorang pria yang tadi mengaku sebagai suamiku spontan menoleh dan menatap aneh.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Ada nyamuk tadi."
"Ayo lekas sarapan. Hari sudah siang dan kita akan terlambat."
"Terlambat? Mau ke mana?"
"Kamu benar-benar lupa? Atau karena efek bangun tidur? Hari ini kita ada janji dengan dokter kandungan."
Aku bengong. Sudah kupastikan saat ini wajahku benar-benar jelek. Apa katanya tadi? Dokter kandungan? Apalagi ini Ya Tuhan? Lagi-lagi aku dibuat kaget saat pria yang mengaku suamiku ini menyibak selimut yang sedari tadi masih kupakai. Lalu dengan lembut dia menuntunku untuk bangkit dari tempat tidur. Tunggu! Perasaan tubuhku tidak seberat ini. Apa yang terjadi....
"Hah?" Mataku membulat sempurna saat melihat pantulan diriku di cermin.
Kenapa perutku membesar? Aku menyentuh perutku dengan tangan bergetar. Namun, tiba-tiba ada rasa mulas yang kurasakan.
Padahal saat aku mencubit dan menampar tadi tidak ada rasa sakit sedikit pun. Tanpa sadar aku meringis menahan rasa mulas sekaligus sakit.
"Kenapa? Sakit? Apa sudah waktunya?" tanya pria itu bertubi-tubi.
"Aku ingin bangun sekarang juga!" pekikku masih menahan rasa sakit yang makin menjadi.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku sudah berada di rumah sakit dengan beberapa orang mengelilingiku. Batinku menangis mendapat mimpi absurd seperti ini.
"Bagaimana bisa di dunia mimpi aku malah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan?"
"Tunggu! Jika ini mimpiku, bukankah aku bisa mengatur sesuka hatiku?"
Benar, aku baru ingat satu hal penting itu. Karena ini mimpiku, aku tentu bisa mengatur sesuka hati. Aku hanya ingin hal-hal bahagia yang terjadi. Kehidupan nyataku sudah sangat menderita.
"Ayo, dorong lebih kuat lagi."
Aku membuka mata yang dari tadi tanpa sadar terpejam. Kenapa tidak berhasil? Tadi aku sudah membayangkan hal-hal yang menyenangkan. Apa aku tidak bisa mengatur mimpiku sendiri?
Jika memang demikian, aku hanya bisa pasrah. Dengan air mata yang bercucuran aku berusaha mengeluarkan bayi itu. Entah bagaimana bisa ada bayi di dalam perutku saat ini. Walau mimpi, rasa lelahnya sangat terasa. Ingin segera bangun juga tidak bisa.
"Selamat, bayinya laki-laki dan lahir dengan sehat."
Aku hanya mengangguk seadanya. Ternyata seperti ini rasanya melahirkan, jika tahu rasanya sesakit ini aku merasa menyesal pada Mama. Teringat kembali kenakalan saat aku kecil dulu. Sering membuat Mama darah tinggi.
Seorang perawat yang wajahnya blur di mataku memberikan bayi yang sekarang menjadi anakku. Aku melihat rupa bayi itu dan seketika membuatku terpaku.
"Astaga, tampan sekali," gumamku melihat bayi yang sedang tidur dalam gendonganku.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sungguh hebat dan tangguh," ucap pria itu dan..., tunggu kenapa wajahnya makin dekat?
Astaga pikiranku sudah berkelana ke mana-mana. Tanpa pikir panjang, aku memejamkan mata. Walau pun belum tahu apa yang akan dilakukan pria itu.
"Bangun! Bangun! Bangun! Kamu Miskin Harus Kerja!"
Suara menjengkelkan itu memasuki gendang telingaku. Mataku terbuka otomatis dan tanganku segera meraih ponsel, lalu mematikan alarm dengan dering menjengkelkan itu. Walau begitu dering alarm itu yang selalu menyadarkanku pada kenyataan.
"Tadi aku mimpi apa, ya?"
🌌🌌🌌