kalau kalian berfikir ini adalah kisah cinta yang sama seperti Radha dan Krishna kalian salah, ini menceritakan tentang kejadian peperangan di masa lampau. Di dinasti kekaisaran Zhou ada seorang prajurit biasa yang bernama Fengying, dan ia memiliki kekasih bernama Jiang Li. Suatu ketika kekaisaran Zhou di serang oleh tentara pasukan musuh dan dengan berat hati Fengying sebagai prajurit harus meninggalkan sang kekasih pujaan hatinya Jiang Li, yang tak lain adalah putri dari panglima besar kekaisaran Zhou.
Sebelum ia pergi ia berpesan kepada Jiang Li kekasihnya untuk tetap menjaga hati untuk dirinya seorang, dan ia berjanji akan kembali dengan selamat. "Jiang Li kekasihku aku akan pergi ke medan pertempuran esok hari aku berharap kau menjaga hati mu untuk diriku, aku berjanji kepada mu akan kembali dengan selamat jadi tunggu aku" ucap Fengying kepada Jiang Li kekasihnya. "kau berjanji akan kembali dengan selamat kan🥺" ucap Jiang Li " kenapa engkau berkata demikian seakan kau mendapatkan firasat bahwa aku tidak akan kembali " ucap Fengying lagi.
" entahlah aku merasa akan kehilangan belahan jiwa ku yaitu kamu, jadi jangan berangkat yah kumohon, aku akan bilang pada ayah agar kau tidak ikut berperang aku takut. Terlebih lagi kita sebentar lagi akan menikah dengan ku aku hanya..." ucap Jiang Li terhenti karena di bibir kecilnya ada jari Fengying yang menahannya, " kau meragukan kemampuan ku untuk membela kekaisaran ini tenanglah aku akan kembali aku berjanji kepada mu calon istriku " ucap Fengying sambil menangkup wajah Jiang Li dengan kedua tangannya.
" Wah.... Wah.... Wah...... putri ku tenang saja ayah akan menjaga dia untuk dirimu tenang saja yah apakah kau tidak percaya pada ayah hemm....." ucap ayah Jiang Li kepada putri semata wayang nya iyh karena ibu Jiang Li meninggal setelah melahirkan dan ayahnya tidak ingin mencari pengganti. "baiklah aku percaya dengan ayah" ucap Jiang Li sambil mengusap wajahnya yang basah karena menangis tadi.
~~~~ 🏯 keesokan harinya 🏯~~~~
Semua sudah bersiap untuk pergi ke medan perang dan mengalahkan musuh, sedangkan Jiang Li masih khawatir dengan keadaan Fengying calon suaminya. Bagaimana tidak saat dia tertidur dia bermimpi berada di medan pertempuran, dan menyaksikan Fengying terkena panah yang tajam tepat di jantung nya dan ia tak dapat membantu apa-apa. Dengan berat hati ia melepas kepergian kekasihnya untuk berangkat ke medan pertempuran sambil berlinang air mata, " Fengying jangan pergi hiks... hiks.... kumohon " ucap Jiang Li sambil berlinang air mata.
" Maaf aku harus pergi karena ini kewajiban ku sebagai prajurit bila diperlukan oleh kerajaan maka aku harus siap siaga walau nyawa taruhannya, selamat tinggal " Ucap Fengying yang terdengar seperti ucapan perpisahan lalu, Fengying mengecup dahi kekasihnya itu dan pergi menuju ke medan pertempuran.
satu minggu berlalu Jiang li masih menunggu sang kekasih dengan perasaan gelisah dan gundah, tidak lama itu terdengar kabar bahwa mereka semua telah tiba dan membawa kemenangan. Jiang li pun dengan gembira menghampiri ayahnya, "ayah dimana Fengying, kenapa ayah murung jawab ayah?" ucap Jiang li sambil mengguncang tubuh ayahnya. "Seperti ini anak ku Fengying... " ucap ayah Jiang li menggantung ucapannya sambil berlinang air mata, "ada apa ayah tidak mungkin mimpi ku benar kan ayah TIDAK FENGYING KU TIDAK MATI ARKGHHH... " ucap jiang li berteriak sambil berlinang air mata.
Ada beberapa keranda dimana di atas salah satu keranda itu, ada tubuh Fengying yang sudah tidak bernyawa lagi. Jiang li mengguncang tubuh sang kekasih sambil berkata, "kau berjanji akan baik baik saja dan tidak akan meninggal kan diri ku, kau berbohong hiks..... hiks ...... " lalu setelah itu jasad Fengying dan mereka yang meninggal dalam perang di makamkan dengan layak dan upacara penghormatan terakhir. "kau harus mengikhlaskan dia nak" ucap ibu Fengying, sedangkan Jiang li masih memandang pusara kekasihnya dengan tatapan kosong.
8 tahun semenjak kepergian Fengying, tubuh Jiang li semakin hari semakin kurus dan tidak terawat. Tidak ada satupun yang dapat menggantikan Fengying dihati Jiang li, hari demi hari kesehatan Jiang li menurun maka di hari itu ajal pun menjemput. Semua yang menyayangi jiang li sedih atas kepergian nya, mereka memutuskan untuk memakamkan jasad jiang li di samping pusara Fengying.
Tolong berikan kritik dan saran
bijak berkomentar
tunggu aku di cerpen selanjutnya 😘
By: Nona.x