Aku Nadia Maitari, seorang pengidap penyakit kanker stadium akhir.
Keseharianku, ku habis kan dengan menulis lagu, dan menghibur anak-anak pengidap kanker lainnya di rumah sakit yang biasa aku datangi untuk berobat.
Biasanya aku sering bermain gitar sambil bernyanyi diruang anak-anak.
*Perjumpaan pertama.
Saat itu, ada acara kecil-kecilan yang di adakan oleh dokter dan suster dirumah sakit untuk anak-anak kanker.
Aku bernyanyi di sana. Sedangkan dia, sebagai fotografernya.
Entah mengapa, pandangan kami terus saja beradu tanpa di sengaja. Dan dia terlihat selalu mengarahkan kameranya ke arah ku.
Aku bernyanyi sambil membalas senyumnya, dan mengerutkan kening ketika kudapati dia lagi dan lagi sedang mengambil gambar ku.
Saat acara selesai, dia datang menyapaku. Dan menolongku saat aku akan memasukkan gitar ke dalam tempat nya.
"Sini aku bantu." Ucapnya ramah.
Aku hanya membalas dengan senyum.
Dan saat aku hendak pergi, untuk kesekian kalinya dia menolongku lagi, mendorong kursi rodaku.
Yaa, sebagai pengidap kanker stadium akhir membuat aku harus selalu berada di atas kursi roda, karena tubuh ku sudah semakin lemah.
"Terimakasih." Ucap ku saat lelaki itu mulai mendorong kursi rodaku.
"Boleh aku tau nama mu ?" Ucapnya sopan.
"Nadia Maitari." ucap ku tanpa bertanya kembali namanya, karena menurut itu tidak penting, toh belum tentu kami akan berjumpa lagi.
*Keesokan harinya.
Jadwal ku untuk cek up.
Dan saat itu aku sedang meminta bantuan suster untuk membawaku ke kamar mandi, dan saat aku kembali keruanganku.
betapa kagetnya aku melihat sosok laki-laki itu berada di sana, dan dia datang mencariku.
Entah apa yang membuat dia menjadi tertarik padaku yang seorang penderita kanker yang bahkan hidup ku sudah tak lama lagi.
Aku sudah di fonis oleh dokter, aku hanya punya waktu 4 bulan untuk hidup. Dan selebihnya tergantung Kuasa Allah, akan tetap memberiku kesempatan untuk menghirup udara ciptaannya, atau justru memanggilku kembali ke sisinya.
Entahlah....
*Kami semakin dekat.
Akhirnya aku tau namanya, Fahmi Syahputra.
Kami semakin dekat, Dengan sopan dia selalu membantuku.
Dia mengerti bagaimana cara memperlakukan aku yang seorang wanita muslimah, yang selalu menjaga aurat ku di hadapannya..
Tidak lama, dia melamarku.
"Tapi aku cuma punya waktu kurang dari 4 bulan."
"Tentu saja aku sudah tahu tentang itu, dan aku tidak mempermasalahkannya, aku dengan tulus dan berniat baik ingin menjadikanmu sebagai istriku, dengan begitu aku bisa lebih leluasa untuk menjagamu."
Aku terharu.
Ada bahagia dan juga khawatir di hatiku.
Dalam waktu singkat, kami sudah sah menjadi suami istri.
Dia memperlakukan aku bak seorang putri.
"Mas, kenapa kita tidak tidur di kamar bawah saja." Ucapku saat dia mulai menggendongku untuk membawaku ke kamar tidur kami yang berada di lantai dua.
"Gak apa-apa, biar romantis." begitu ucapnya.
Dan selalu seperti itu.
Dia yang menggendong ku untuk turun dan naik tangga.
Semakin hari, tubuhku semakin lemah.
Dan aku yang dulu sudah mengiklaskan hidupku.
Menyerahkan semua pada Kuasa Allah SWT.
Namun kini, setelah menikah dan mengenal cinta. Aku takut untuk menghadapi kematian, aku tidak ingin meninggalkan suami ku seorang diri.
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari seorang istri untuk nya, istri yang akan menggantikan posisi ku, seseorang yang lebih baik dari ku tentunya.
Dalam sujudku di sepertiga malam.
Aku berdoa dan memohon. Agar Allah mengirimkan seseorang yang dapat mencintainya seperti dia mencintaiku. Dengan ketulusan yang sama seperti yang dia tunjukan selama ini. Agar dia juga merasa kan cinta yang sempurna bukan hanya memberi.
*Aku teringat pada seorang gadis perawat yang juga aku kenal di hari aku mengenal mas Fahmi.
Saat aku melakukan cek up, aku memberanikan diri untuk mendekatinya.
Dia begitu ramah sehingga dengan mudah kami bisa menjadi teman, aku sering mengundangnya kerumah.
dengan maksud agar dia bisa mengenal mas fahmi juga.
sampai pada akhirnya, aku mengutarakan niatku pada nya tentang niat ku yang sedang mencari istri untuk suami ku.
tentu saja dia terkejut dengan pengakuanku itu, namun setelah dia mendengar penjelasanku dengan tulus memohon padanya, akhirnya dia setuju untuk mendekati mas fahmi agar mereka semakin dekat.
Semua berjalan sesuai rencanaku.
Namun entah mengapa, melihat mereka semakin dekat justru membuat hati ku terasa sakit sekali.
Aku diam-diam menangis sendirian setiap kali harus menyaksikan kedekatan mereka.
*Mas fahmi berubah.
Dia membawa semua barang-barangku yang ada di kamar atas untuk diletakkan di kamar bawah.
"Mas ada apa ini, kenapa barang-barang ku dipindahkan ?" Tanyaku penasaran dengan sifat nya yang tiba-tiba berubah.
"Aku capek harus gendong kamu tiap hari. Kita tidur di bawah saja." Ucapnya jutek.
Hatiku menjerit.
Tuhan, ini begitu sakit.
Dan malam itu, mas fahmi tak pulang.
Aku begitu khawatir.
Aku memberanikan diri untuk menghubungi Mia. gadis yang aku jodohkan dengan suamiku.
"Hallo Mia. Maaf nelfon malam-malam, apa mas fahmi ada?"
"Oh ada Nad, mas fahmi lagi sama aku." ucapnya.
Aku langsung mematikan telfonnya.
Air mataku mengalir seketika, Aku menangis sejadi-jadinya.
Ya Allah apa yang harus aku lakukan. aku ingin kuat menghadapi semua ini, namun apa yang harus aku lakukan pada hati ini, aku sangat mencintai suami ku, berikan lah aku keikhlasan untuk melepaskan nya Ya Allah.
Jerit ku sendirian.
*Keadaanku semakin memburuk. Aku tak sadarkan diri.
Saat aku tersadar, aku sudah berada didalam ruang operasi. Dalam keadaan yang sangat lemah tanpa daya, aku melihat sekeliling, melihat dokter begitu sibuk mempersiapkan operasiku.
Namun obat bius sudah sepenuhnya menguasai tubuhku, sehingga membuat aku tak sadarkan diri untuk kesekian kalinya.
***
Aku mencoba membuka mataku.
Ya Allah, terimakasih masih memberiku kesempatan untuk hidup.
tak henti-hentinya aku berucap syukur pada Allah yang Maha Kuasa.
Dan aku baru menyadari ada Mia di sampingku.
Untuk beberapa hari Mia dengan begitu tulus menjaga ku.
"Mas fahmi lagi sibuk banget yaa Mia?" tanyaku setelah beberapa hari tak melihat mas fahmi datang walau hanya untuk menjenguk ku.
Mia hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa, matanya berkaca-kaca.
setelah aku semakin pulih dan diizinkan pulang. Mia mengantar ku kerumah.
setelah itu dia memberikan aku sebuah Album besar dan sebuah Surat.
Aku membuka surat itu dengan penuh tanda tanya, dan membacanya dengan hati was-was.
"Sayang."
Maaf jika aku lebih dulu yang harus meninggalkanmu.
dan maaf selama ini tidak jujur pada mu.
Aku mengidap penyakit kanker darah, dan sama sepertimu, aku juga tidak memiliki waktu untuk hidup lebih lama.
Maaf saat itu aku memintamu untuk tidur dikamar bawah, karena saat itu tubuhku sudah semakin lemah.
aku tidak ingin memaksakan diri dan akhirnya akan membahayakanmu.
Dann tentang kedekatanku dengan Mia.
Aku sudah tau tentang niatmu yang mencari istri untukku.
Dan aku dekat dengan Mia sebenar untuk menutupi penyakitku darimu, di saat penyakitku kambuh. Mia yang merawatku karena dia mengerti banyak hal tentang penyakit kanker.
dan setelah kepergianku, aku memohon pada nya agar dapat menemanimu agar tidak kesepian tanpa aku.
Aku mendonor kan hatiku padamu, agar kamu bisa tetap hidup dan menikmati hari-hari mu yang indah.
didalam album itu, aku menyimpan semua foto keseharian kita.
untuk bisa sedikit mengobati rasa rindumu padaku.
Aku sangat mencintaimu. I Love you Istriku. Kekasih Surga ku."
Dan begitu akhir dari kisah cintaku.
pertemuan yang singkat namun meninggalkan rasa yang begitu dalam dan bertahan begitu lama.
Aku juga mencintaimu suamiku. Kekasih Surga ku.