Seorang gadis berambut coklat sebahu sedang duduk sendirian di bawah pohon bunga sakura yang sedang bermekaran. Air matanya tak henti mengalir dari mata indahnya. Dialah Ara, gadis penderita kanker otak tengah berjuang agar tetap hidup di dunia.
"Hei, apa kau baik baik saja? Mengapa kau menangis?" tanya seorang pemuda dihadapannya yang tengah duduk di kursi roda. Tangan kirinya pun terpasang selang infus, juga ada selang bantu pernapasan di hidungnya.
Ara tak menjawab pertanyaannya. Dia malah semakin menangis.
Namaku Reza, umurku empat belas tahun, aku penderita lumpuh, asma, dan sekarang aku sedang terkena penyakit typus, aku juga penderita kanker otak.
"Aku kabur dari rumah sakit sekedar berjalan jalan saja, aku ingin melihat pemandangan luar, aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup atau tidak," ucap Reza dengan senyum tulusnya.
Ara menatap sendu pria pemuda di hadapannya itu, "Na-namaku Ara, a-aku juga penderita kanker otak. Umurku tiga belas tahun," Ara mengusap air matanya.
"Salam kenal Ara, bolehkah aku menjadi temanmu? Ayo kita berjuang bersama melawan penyakit ini," ucap Reza dengan mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Ara membalasnya.
"I-iya salam kenal juga, Reza." Balas Ara.
Semenjak hari itu Reza dan Ara berteman. Mereka menjadi teman baik, Reza selalu menguatkan Ara ketika ia sedang terpuruk dan merasa putus asa akan penyakit kankernya.
Reza adalah anak sebatang kara, orangtuanya meninggal saat ia berumur tiga tahun. Selama bertahun tahun pula rumahnya adalah rumah sakit. Nasib baik berpihak kepada Reza tatkala seorang dokter baik hati menanggung seluruh biaya pengobatannya bertahun tahun.
"Reza, ternyata kau disini," Kata Dokter Dokter, dokter yang membantu Reza selama ini.
"Aku hanya bicara pada temanku, dokter. Namanya Ara dia sama sepertiku, dia penderita kanker otak," kata Reza.
Dokter Erika memandang Ara, "Hai manis, kau sendiri disini? Rumahmu dimana?" tanya Dokter Erika lembut.
"Aku tinggal di dekat panti asuhan dekat sini, dokter," jawab Ana.
Reza dan Dokter Erika mengerti dengan keadaan Ara yang juga ditinggal pergi oleh orang tuanya.
"Reza, kau harus melakukan kemo terapi hari ini. Ayo kita kembali ke rumah sakit," ajak Dokter Erika. Reza hanya menurut.
"Boleh aku ikut?" tanya Ara.
"Tentu saja, sayang," jawab Dokter Erika.
Saat berdiri, tiba-tiba kepala Ara terasa sangat pusing. Rasanya berat sekali, kepalanya seperti mau pecah. Perlahan-lahan kesadaran Ara menghilang.
Ara membuka matanya perlahan. Yang ia lihat hanyalah ruang serba putih dengan bau obat yang sangat menyengat.
"Kau sudah sadar?" tanya Reza.
"Apa yang terjadi, Reza?"
"Kau pingsan, dokter Ana bilang..." Reza menghentikan ucapannya.
"Bilang apa Reza? Katakan padaku!" desak Ara.
"K-kanker mu, sudah masuk stadium tiga. Maka dari itu kau harus melakukan kemo terapi, dokter Ana akan menanggung biaya pengobatanmu,"ucap Reza sambil menatap sendu temannya.
Air mata Ara perlahan menetes. Kankernya semakin menggerogoti tubuhnya. Ara takut kalau besok ia sudah tidak ada di dunia ini lagi.
____
Pukul sepuluh malam, Reza terbangun dari tidurnya karena merasa haus. Tetapi, tidak ada air minum di nakas sebelah kasurnya. Ia harus mengambil air minum di meja kecil sebelah nakas. Sedangkan kursi rodanya terletak jauh dari kasur.
Perlahan Reza menurunkan kakinya dan berharap ia bisa meraih kursi rodanya. Tetapi naas, Reza malah terjatuh sehingga kepalanya membentur lantai.
"AAAKKHHH... SAKIT..!!" teriak Reza kesakitan. Reza mencoba merangkak untuk meraih kursi rodanya. Namun apa dayanya ketika tangan kirinya sakit dan berdarah karena infusnya terlepas dan tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa mau pecah.
"Hikss... Dokter Erika..!! Dokter Ana..!!" Reza menangis menahan sakit yang berlipat ganda itu. Namun, dokter yang dari tadi dipanggilnya tidak akan datang kepadanya karena Dokter Erika dan Dokter Ana sudah pulang. Lama- kelamaan kesadaran Reza pun hilang.
_____
Reza pun membuka matanya perlahan, di sebelahnya sudah terlihat Ara yang menunggunya.
"Reza, kau tidak apa?" tanya Ara lembut.
"Kepalaku pusing, Ara," tangan Reza sudah dipasang infus lagi tetapi kepalanya masih teramat pusing.
"Reza, ada apa dengan rambutmu?" tanya Ara.
"Semua ini karena kemo terapi yang Reza jalani, Ara. Perlahan-lahan rambut Reza akan rontok dan akhirnya akan habis," jelas Dokter Ana.
"K-kalau begitu, rambutku juga akan habis?" tanya Ara. Dokter Ana hanya mengangguk.
"Dokter, bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin bicara dengan Ara berdua," Dokter Ana mengiyakan perintah Reza. Ia pun keluar dari ruangan.
"Ara, apa kau tahu saat pertama kali aku bertemu denganmu, kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri," kata Reza lirih. Bahkan suaranya hampir tidak terdengar.
"Hidupku mungkin tidak akan lama lagi, Ara," dan benar saja. Seketika air mata Ara menetes. Dia tak percaya kalau orang seceria Reza yang selalu membangkitkannya dari putus asa, kini terbaring lemah dan mengatakan hal seperti itu.
"Apa yang kau katakan, Reza?! Kau tidak boleh berkata seperti itu. Hiks... kau akan sembuh, aku janji. Hiks... kau tidak boleh pergi meninggalkanku! Tidak boleh! Aku tidak mau hal itu terjadi Reza. Hiks... tolong mengerti perasaanku," Ara menangis histeris seraya memeluk tubuh rapuh Reza.
Reza mengusap lembut puncak kepala Ara. "Hei, berjanjilah padaku untuk sembuh Ara, aku tau kalau kondisimu sekarang ini sudah lebih baik karena kemo yang kau jalani. Dan aku akan sangat bahagia kalau kau sembuh. Maaf kalau aku mengingkari janjiku untuk mengajakmu ke Paris. Karena aku tidak akan mungkin hidup sampai hari itu," ucap Reza sambil berusaha untuk tersenyum.
Tangis Ara semakin menjadi-jadi. Dokter Ana yang mendengar Ara menangis pun segera masuk ke ruangan tempat Reza dirawat dan berusaha menenangkan Ara.
Semenjak hari itu, baik Ara maupun Reza tetap menjalani kemo terapi. Kondisi Ara semakin hari semakin membaik. Tetapi berbanding dengan kondisi Reza yang semakin memburuk.
Di kemudian hari, Dokter Erika, Dokter Ana, dan juga Ara berkumpul di ruangan Reza dengan Reza yang masih terbaring lemah. Hari ini adalah hari ulang tahun Reza yang ke 15. Dokter Erika membawa sebuah kue tart coklat kesukaan Reza dengan lilin angka 15 yang belum dinyalakan. Sayangnya Reza terlalu lemah untuk bangun dan merayakan ulang tahunnya.
"Reza..." Ara berusaha menahan air matanya yang ingin menetes. Tak bisa dipungkiri bahwa Ara sangat merindukan Reza.
"Ara... kau... datang," ujar Reza senang.
Araa tak mampu lagi membendung air matanya, "S-selamat... hiks... ulang tahun, kak," ucap Ara sesenggukan.
"Terimakasih... Ara," kini Reza memandang ke arah Dokter Erika.
"Dokter... maaf jika selama ini aku selalu merepotkan dan aku berterimakasih kepada dokter karena telah menanggung semua biaya pengobatanku. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan dokter," ucap Reza dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
"Maaf karena aku tidak bisa membalas... perbuatan baik dokter," lanjutnya.
"Tidak sayang... hiks kamu jangan berkata seperti itu. Hiks kamu sudah membalas semua perbuatan kamu dengan sebuah senyuman manis, nak," Dokter Erika mencium kening Reza lama.
"Dokter Ana..." lirih Reza.
"Iya, sayang..."
"Tolong berjanjilah kepadaku... bahwa dokter akan selalu menyayangi Ara," ujar Reza.
"Itu pasti, nak," balas Dokter Ana.
"Dan Ara..."
Yang dipanggil hanya membuang muka.
"Berjanjilah padaku untuk terus bahagia, Ara," Ara mengusap air matanya lalu mengangguk.
Tiba-tiba garis naik turun digantikan dengan garis mendatar. Baik Ara, Dokter Erika, Dokter Ana berlinangan air mata. Mereka masih belum merelakan apa yang terjadi. Tetapi, kematian seseorang bukanlah hal yang bisa ditunda.
Memang sulit untuk melepas kepergian orang yang kita sayangi. Namun ingat dia akan selalu berada bersama kita jika kita terus mengingatnya.
Begitu juga dengan Reza dia akan selalu ada dihati Ara, Dokter Erika, dan Dokter Ana. Kini Reza telah bebas dari rasa sakit maupun penyakit yang selama ini menggerogoti tubuhnya.
Selamat jalan Reza.
END.