Sebagian besar orang berpikir bahwa masa remaja adalah masa yang menyenangkan. Sebuah periode saat seseorang bertemu cinta pertama, atau setidaknya menemukan sahabat terbaik mereka. Semua orang mengalami kesenangan yang sama saat muda. Anehnya aku tidak begitu.
Masa remajaku menyedihkan. Peter Lodge, ayahku bangkrut. Seluruh jerih payahnya berupa uang kertas kini tinggal kenangan. Ayahku harus membayar hutang demi hutang yang aku sendiri tidak paham kronologi awalnya. Apa dan mengapa ayahku mesti melunasi pinjaman tersebut.
Rumah mewah kami di kota Orlando digadaikan di bank. Ayahku tidak tahu harus melakukan apa. Dia nyaris bunuh diri seperti orang yang terlilit hutang pada umumnya. Untungnya ibuku memberi solusi. Dia berkata, "Kita harus pindah ke Indonesia. Di sana ada banyak pekerjaan untuk kita." Maria, ibuku lahir di Palembang. Dia bertemu ayahku waktu melanjutkan kuliah sastra di Orlando.
"Aku harus kerja apa di sana?" Ayahku hanya tahu bisnis. Dan semangatnya untuk membuka usaha baru sudah hilang--terpuruk berkat sebuah tragedi. Dia belum bisa menerima kehancuran usaha yang dia rintis dari awal. Kebakaran hebat di distrik kami menghancurkan gedung teater megah milik ayahku--tersapu rata dengan tanah. Aset itu hancur hanya dalam sekejap. Aku terluka melihat kepedihan orang tuaku.
"Kau adalah orang Amerika. Kau bisa jadi guru bahasa Inggris. Kita berdua akan jadi guru," jawab Ibuku. Ayahku bisa bahasa Indonesia dan sepertinya ide itu tidak buruk. Ayah tidak punya pilihan. Lalu pada akhirnya kami memutuskan pindah ke Indonesia.
Aku membiasakan makan nasi meskipun aku merasa ingin muntah. Memesan burger setiap hari di MC Donalds merupakan ide yang buruk. Selain rasa burger Indonesia aneh, kami pun tidak punya cukup uang. Aku tidak menghina perusahaan pengelola burger, aku tegaskan bahwa ini hanya perbedaan kultur. Mereka membuat burger dengan tepung terigu sementara burger yang sering aku makan terbuat dari tepung gandum.
Satu bulan berlalu dan ayahku menikmati menjadi seorang guru. Dia benar-benar lupa kehidupan mewah kami di Orlando. Sebaliknya aku tidak merasakan hal yang sama. Aku terkendala bahasa. Sulit bagiku berteman dengan gadis seusiaku. Saat temanku tertawa aku diam karena aku tidak memahami lelucon mereka. Aku malah berpikir mereka menjadikan diriku sebagai bahan candaan. Lalu kuputuskan untuk menyendiri.
Aku tidak dekat dengan siapa-siapa. Tidak ada sahabat satu pun. Aku selalu bersembunyi di perpustakaan saat jam istirahat. Beruntungnya, perpustakaan sekolah kami selalu sepi. Gadis remaja seusiaku memiliki sedikit minat dalam membaca. Bahkan seringkali hanya aku seorang dan pustakawan tua bernama Nur di dalam sana. "Sudah dapatkan teman, Jackie?" tanya Nur. Namaku Jacqueline, dipanggil Jackie.
"Tidak," kataku. Nur mengernyikan dahi dan aku punya firasat kalau aku salah dalam menggunakan kosakata. "Kau seharusnya bilang belum bukannya berkata tidak." Seseorang berseru di suatu tempat. Itu suara cowok. Aku mencari keberadaan orang itu sampai kulihat lelaki berbadan tegap duduk di pojok kursi. Dia meregangkan ototnya. Aku merasa kalau dia barusan tidur di tempat duduknya. Aku bisa lihat kelesuan dalam tatapan matanya.
"Terima kasih. Aku akan belajar lagi," balasku. Cowok itu bangkit dari tempat duduk. Rambutnya berantakan agak panjang. Jarang sekali ada anak lelaki yang rambutnya sebanyak itu sebab setahuku semua siswa cowok diharuskan berambut sangat pendek.
Kami saling bertatapan. Aku dan dia berada di kelas yang berbeda. Aku tidak tahu namanya dan baru kali ini aku melihat dia di sekolah kami. "Aku Jackie. Boleh aku tahu siapa namamu?" Aku berusaha ramah. Sebenarnya aku introvert. Aku tidak senang mengobrol dengan siapa pun. Aku bahagia berada dalam duniaku sendiri. "Antoni," jawabnya malas.
Dia mengambil posisi duduk di sampingku. Tanpa melihatku, dia bergumam, "Jadi kau adalah bule kampung yang dibicarakan orang-orang itu." Aku meringis. Beberapa orang di Indonesia masih membenarkan sikap rasis. Meski aku tidak pernah mendukung hal itu, aku berusaha memaklumi tindakan tersebut. Menurutku beberapa orang belum memahami betul kalau mengatakan orang lain hitam jelek, dan menyebut yang gendut sebagai kategori orang yang tidak menarik adalah sebuah pemikiran keliru. Semua manusia punya paras menawan seandainya mereka mencintai diri mereka sendiri.
"Kau bebas menilai aku," ujarku. Aku melihat sekelilingku. Hanya ada Nur, aku dan Antoni di dalam perpustakaan. Rasanya seolah aku dan Antoni merupakan sepasag kekasih yang tengah berkencan. Aku cukup gugup sehingga kuputuskan untuk mencari topik pembicaraan baru.
"Rambutmu tidak dipotong? Kau adalah satu-satunya cowok yang punya rambut di atas 20 sentimeter. Kau berhasil memecahkan rekor sekolah sebagai lelaki dengan rambut terpanjang." Aku bercanda. Dan kulihat ada senyuman indah terukir di wajahnya. Aku tidak pernah berpikir kalau dia sungguh rupawan saat tersenyum.
"Sebetulnya, aku anak kepala sekolah. Aku bebas melakukan apa saja." Dia cengingiran. Mendadak aku lancar berbahasa Indonesia dengan dia. Aku mengingat semua kosakata yang diajarkan ayah hanya karena menyaksikan Antoni sumringah. "Benarkah? Apa kau sungguh anak dari kepala sekolah?" Jika itu benar maka hirarki di sekolah ini amat luar biasa.
Dia mengangguk sehingga aku menunjukkan tatapan kagum terhadap cowok itu. "Kau meyakini perkataanku tadi? Padahal aku sebenarnya berbohong." Dia menipuku. Lihatlah betapa mudah aku memercayai seseorang. "Tadinya aku sudah percaya."
Aku tersenyum bahagia. Ini pertama kali aku berpikir bahwa mengobrol bukanlah sesuatu yang membosankan. Antoni sangat asyik diajak berbincang. Aku memahami leluconnya tidak seperti waktu teman sekelasku bergurau. Antoni menggunakan bahasa yang simpel.
Bel sekolah berdering dan aku mesti masuk ke dalam kelasku. Kami berpisah meskipun kami masih ingin bicara. Aku tidak tahu kalau saat itu merupakan perpisahan kami. Keesokan harinya aku kembali ke perpustakaan tetapi tidak menemukan Antoni lagi. Dia menghilang seakan diterbangkan oleh sebuah badai besar.
Aku menunggu Antoni selama dua minggu dan dia tidak pernah muncul di sekolah. Kutanya beberapa temanku dan mereka bilang Antoni memang anak nakal. Dia tidak pernah menganggap belajar sebagai sesuatu yang serius. Aku pikir kenakalan remaja memang cukup wajar. Antoni mungkin tidak suka hidupnya di kekang oleh peraturan sekolah.
Akhir pekan saat orang tuaku merayakan ulang tahun pernikahan mereka, kami berlibur di Raja Ampat selama tiga hari. Aku benar-benar terpukau akan pemandangan bawah laut milik Indonesia. Aku bahagia memiliki setengah darah dari negeri ini. Kami menyewa vila murah di pingginr pantai. Kemewahan kami di Orlando tidak ada apa-apanya. Alam Indonesia menciptakan kesenangan sejati.
"Bagaimana liburan ini, Jackie? Apa kau senang?" Aku mengangguk atas pertanyaan ayahku. Aku menambahkan, "Di Orlando hanya ada bangunan pencakar langit. Kurasa kekayaan hakiki adalah alam Indonesia.
Ayah sumringah. Dia menepuk bahuku dan berbisik, "Tidakkah pemandangan pantainya bagus? Kau tidak mau menikmatinya." Aku melihat ke arah pantai seraya berujar, "Aku sangat suka pantai." Aku berlari ke pantai, berenang di bibir pantai itu dengan perasaan hangat menjalar di sekujur tubuhku.
Pantai Raja Ampat sangat indah. Pasirnya putih bersih, air pantai itu benar-benar biru. Aku seperti berada di negeri dongeng. Langit dan air seolah merupakan kombinasi yang bagus. Seandainya kota tempatku tinggal secantik ini, aku akan dengan senang hati setiap hari pergi ke pantai.
Aku sedang bermain bersama ombak ketika seorang cowok mendekat ke arahku. Cowok itu familiar, aku seperti mengenalnya sudah lama sekali. "Boleh aku bergabung?" Dia bertanya seiring aku mengamatinya. "Apa kau Antoni?" Aku bertanya karena dia tidak seputih saat aku bertemu dengan dia. Kulitnya berubah menjadi coklat, agak hitam tetapi aku menyukai lelaki seperti itu. Dia kelihatan lebih maskulin dan dewasa.
"Kau adalah Jackie? Beruntung sekali kita bertemu di tempat ini," katanya. Dia tersenyum-senyum seperti yang sebelumnya dia lakukan. "Iya. Aku Jacqueline. Orang tuaku mengajak aku liburan di tempat ini. Bagaimana denganmu? Kau menghilang dari sekolah."
Aku memerhatikan Antoni. Dia memakai kupluk di kepalanya. Kurasa itu adalah gaya lelaki itu. Aku percaya semua cowok punya ciri khas masing-masing. "Ceritanya panjang. Intinya adalah aku pun liburan di tempat ini. Aku tidak mengerti mengapa dunia begitu sanagt sempit." Aku dan dia tergelak pelan. Kami bermain ombak bersama, saling menyirami air satu sama lain.
Butuh setengah jam kami main di pantai. Ini benar-benar liburan yang kuinginkan. Aku mengharapkan Antoni dan dia sungguh hadir dalam kehidupanku. "Ada tempat bagus di sekitar sini. Mau kuajak ke sana?" Antoni mengundangku pergi kencan untuk pertama kali. "Aku selalu menyambut tempat bagus."
Sebelum berangkat ke tempat istimewa yang direkomendasikan Antoni. Aku minta izin ke ayahku. Beruntungnya ayahku bukan tipe orang tua yang suka mengekang putrinya. Aku ikut Antoni ke sebuah jembatan panjang indah, terbuat dari kayu kemudian di-cat berwarna coklat emas. Jembatan itu mengagumkan sebab ada banyak pepohonan di sekelilingnya.
"Kurasa kita semakin akrab," bisikku. Antoni sumringah, dia menuntun aku duduk di tengah jembatan tempat kami berada. "Kita dekat karena takdir menyatukan kita. Apakah kita bisa menjadi pasangan?" Dia mungkin cuma bercanda, akan tetapi aku menanggapi dengan serius.
Aku menyahut, "Mengapa tidak?" Kami saling melihat. Hening, mata kami saling bercerita dan kurasa kami sudah resmi sebagai sepasang kekasih. "Mau aku nyanyikan sebuah lagu?" Kebetulan Antoni bawa gitar. Dia tidak hanya memesona berkat kupluk yang menempel di atas kepalanya melainkan juga dengan gitar di tangannya. Aku suka cowok bermain gitar.
"Tentu." Antoni menyanyikan lagu berbahasa Inggris milik Jeremy Camp berjudul "I Still Believe", pengucapan bahasa Inggrisnya kaku tetapi suara yang dia keluarkan benar-benar murni. Suara itu lembut dan aku merasakan rasa sakit dalam lagu itu.
Setelah Antoni selesai bernyanyi, dia menganariku cara bermain gitar. Aku tidak mengerti semua tekniknya namun ada sebagian ilmu menempel di kepalaku seperti cara menekan chord seperti chord c dan e. Aku senang bermain gitar bersama dia. Kami mengakhiri sesi kencan kami waktu Antoni batuk-batuk. Dia bilang itu efek angin kencang. Aku menertawai cara dia melucu. Dia sangat garing.
Hari terakhirku di pulau Raja Ampat, Antoni dan aku memutuskan naik ayunan raksasa yang terkenal. Kami berfoto bersama di sana. Semua hal manis yang kami lakukan sungguh nyata. Aku tidak bisa melupakan masa-masa indah kami. "Jadi, kita akan segera berpisah?" kataku merujuk pada waktu yang kini menghalangi hubungan kami.
"Pada akhirnya semua orang akan berpisah, Jackie." Aku tidak mengerti maksud Antoni bicara begitu. Aku merasa bahwa dia sedang mempermainkan aku. Ingat rekor kemalasan dia masuk sekolah? Dua minggu absen? Luar biasa sekali, bukan? Cara dia meremehkan sesuatu. Antoni menganggap sepele pelajaran di sekolah. Tentu dia bakal menganggap enteng cinta di antara kami.
"Apa kau sedang mengatakan kalau kita tidak pernah bersama? Maksudku tiga hari ini amat berharga bagiku. Dan kukira kita adalah sepasang remaja yang saling cinta?" Aku memastikan semuanya. Hubungan kami. Aku merasakan kecocokan dengan Antoni, dan berharap dia memikirkan hal yang sama.
"Kita tidak mungkin bersama, Jackie." Ucapan itu menampar harga diriku. Aku kehabisan kata-kata. Aku begeming tetapi masih fokus melihat intens ke dalam bola matanya. "Wow. Ini sungguh akhir yang indah." Aku marah atas perkataan Antoni. Aku meninggalkan dia begitu saja. Dan hubungan kami berakhir seperti tak pernah terjadi sebelumnya.
Aku terluka. Aku dan orang tuaku kembali ke Palembang. Aku memulai rutinitas lamaku. Belajar saat jam pelajaran berlangsung lalu bersembunyi di dalam perpustakaan setiap kali jam istirahat tiba. Aku tidak niat memulai pertemanan. Aku cukup senang karena Nur, pustakawan sekolah tidak banyak tanya mengenai pribadiku.
Keadaan mentalku perlahan menjadi lebih baik setelah dua bulan berlalu, aku daftar kegiatan ekstrakurikuler basket. Aku menemukan cukup banyak teman dan menyadari arti dari mengenal orang. Aku tidak pernah dengar kabar Antoni lagi. Dia pun tidak pernah muncul di sekolah. Aku tidak lagi memperdulikan keberadaan cowok itu.
Aku sedang latihan basket ketika aku mendapat panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Aku mengangkat panggilan itu. Dan orang yang tidak mau aku temui mau bicara denganku. "Ini aku, Jackie." Aku termenung menyimak suara lemah Antoni.
"Setelah dua bulan kau menelepon? Wow, ini luar biasa!" seruku sembari meringis. Aku duduk di bawah pohon, pinggir lapangan basket. Pohon itu biasanya menyejukkan namun kini rasanya terasa begitu panas saat Antoni bicara lewat ponsel.
"Kau boleh membenciku, Jackie. Aku hanya ingin menjelaskan sesuatu." Aku mau mengomel tetapi aku mencoba menahan amarahku. Apa yang akan Antoni jelaskan? Dia hanya bajingan yang suka mempermainkan anak perempuan. Dia sadar kalau dia memang pantas mendapatkan rasa benci dari orang lain.
"Katakan. Kau lelaki yang suka didengarkan, bukan?" Aku menyeringai. Tak ada suara yang menunjukkan reaksi Antoni atas pertanyaanku. Aku mengambil napas sebelum dia berkata, "Aku terkena kanker paru-paru, Jackie." Seketika aku merinding. Tanganku bergetar, aku benar-benar tidak pernah tahu semua rasa sakit yang dia sembunyikan selama ini.
"Dokter mendiagnosis umurku tidak lama lagi. Ini sudah lama, Jackie. Itulah alasan aku tidak pernah ke sekolah." Aku masih tidak merespon perkataan Antoni. Aku terlalu terkejut. "Orang tuaku mengajakku ke Raja Ampat sebagai permintaan terakhirku. Aku mau bertemu dirimu di sana. Aku sengaja menciptakan momen seolah-olah kita berdua dipertemukan takdir."
Setetes air mata membasahi pipiku. "Mengapa kau baru bilang sekarang? Apakah batuk itu merupakan efek samping kanker-mu?" Aku mengatakan itu sekuat tenaga. Semua kemarahanku terhadap Antoni hilang seketika berganti menjadi perasaan kagum atas perjuangan cintanya. Itulah sebabnya Antoni menyebut pada akhirnya semua orang akan berpisah.
"Di satu sisi, aku tidak ingin kau terluka. Namun di sisi lain, aku juga tidak ingin dibenci olehmu sampai akhir hayatku." Aku merasa bersalah kepada Antoni. Kuyakinkan lelaki itu kalau aku tak pernah berniat membencinya. Antoni berada di luar kota, dia sudah menyerah akan pengobatannya.
Dengan izin orang tuaku, aku menyusul Antoni. Aku menghabiskan hari-hari terakhir lelaki itu dengan hal-hal menyenangkan. Kehadiran Antoni menyumbangkan perasaan bahagia dalam kehidupan remajaku. Aku mau dia senang di penghujung usianya.
Seminggu kemudian setelah aku berada di kota Palembang. Aku mendapat kabar Antoni telah menghadap sang Ilahi. Masa remaja yang kusebut menyedihkan semakin membekas dalam diriku. Kepergian Antoni menggoreskan luka di hatiku. Waktu ayahku bangkrut, aku tidak terisak namun saat Antoni meninggal, aku tersedu-sedu.
Anna Frank benar saat dia berkata, "Orang mati lebih banyak mendapatkan bunga ketimbang orang hidup sebab penyesalan jauh lebih kuat dari rasa syukur." Ini kisahku dan aku akan mengenang betapa memilukan masa remajaku.