Nissa Relania nama yang indah bukan tapi hanya nama sekedar nama ku yang indah tidak dengan kisah hidup ku. Aku terlahir dari keluarga yang cukup terpandang diluar namun hancur didalam ayah ku memiliki 2 orang istri, aku terlahir dari istri pertama, aku dan ibu ku di perlakukan seperti pembantu dirumah kami sendiri semenjak nenek sihir itu datang dan mengacaukan kehidupan bahagia keluarga kami.
Dia si tidak tau terimakasih dia merupakan adik kandung dari ibu ku sendiri dia mendekati ayah ku atas dasar harta. Dan bodoh nya ayah ku mau tertipu atas bujuk rayuan nya, kisah ini dimulai saat aku mulai memasuki sekolah menengah atas. Awlnya semua nya baik - baik saja tak ada yang salah namun setelah aku naik ke kelas XI, sikap ayah mulai berubah dia tak lagi peduli dengan kami. Sering marah - marah tak jelas.
Dan itu terbukti setelah seminggu dia membawa si tidak tahu terimakasih itu ke rumah kami, awalnya kami tak curi tapi lama kelamaan itu mulai terungkap, seperti kata orang " Sepandai-pandai nya tupai melompat pasti akan terjatuh juga " itu merupakan umpamaan yang tepat.
Sebulan berlalu aku dan ibu masih memaklumi sikap nya tapi lama kelamaan kami mulai jenuh, terlebih ibu saat mereka berdua bermesraan di depan ibu. Setahun berlalu kejiwaan ibu mulai tertekan, ibu mulai seperti orang tidak waras terkadang berteriak, terkadang tertawa, dan menangis.
Ayah cih, jangan tanya dia sedikit pun tidak peduli dengan keadaan ibu,Setelah lama akhirnya ibu di ponis sakit jiwa, dan dipindahkan ke rumah sakit jiwa.
Setalah aku lulus aku di terima bekerja di sebuah restoran, dan setiap gajihan gajih ku selalu di tarik oleh si tidak tahu terimakasih.Apa daya ku dia selalu mengancam akan mengeluarkan ibu dari rumahsakit jiwa dan membiarkan ibu pergi berkeliaran tak terurus.
Jumat, 02/10/2013, kejadian tak terlupakan bagi ku saat itu hujan mengguyur kota kami aku sedang bekerja, sekilas aku melihat seperti ibu tengah berlari di deras nya hujan tapi itu tidak mungkin pikir ku, kulanjutkan bekerja, saat asik bekerja aku menerima telepon dari pihak rumah sakit jiwa yang mengatakan ibu ku telah kabur dari rumah sakit jiwa, hati ku gundah dan langsung berlari mengejar wanita tadi, dan saat aku berlari aku melihat segerombolan orang aku datangi dan aku melihat sesosok mayat , saat di balik ternyata adalah ibu ku aku langsung berlari menuju mayat itu.
Aku menangis meratapi kebodohan ku kenapa aku tak mengejarnya, darah ibu hanyut terbawa air hujan, air hujan mencuci darah ibu, cuaca pun ikut berduka atas ke pergian ibu, mulai saat itu aku tak lagi suka hujan.