"Sedang apa bu." Seorang anak masuk kedalam sebuah dapur, ketika ia melihat ibunya didalam sana.
"Ibu sedang memperbaiki blender ini Collin, ayahmu tak memperbaikinya walaupun ibu sudah memberitahunya berulang kali."
"Memang apa kerusakannya bu?"
"Entahlah, ibu rasa mata pisaunya tersumbat."
Seorang ibu itu sudah membongkar habis blender yang ia punya, kini hanya bagian mesin dan mata pisaunya yang ia coba perbaiki. Saklar dari blender itu sengaja ia cabut, agar tak ada listrik yang mengalir ke blender yang tengah ia perbaiki. Tangannya lihai mengobrak-abrik bagian mesin dan mata pisau blender itu, dari kilatan cahaya yang terpancar sepertinya mata pisau itu blender sangat tajam. Dapat memotong apapun dengan cepat.
"Collin, dapatkah kau membantu ibu?"
"Membantu apa bu?"
"Tolong kau lihat adikmu, ia sedang bermain di halaman belakang tadi. Ibu belum selesai dengan ini."
"Tapikan dia sudah besar bu, biarkan dia mengurus dirinya sendiri."
"Collin adikmu baru berumur 5 tahun. Bagaimana kau dapat berbicara seperti itu."
"Ya, ya baiklah."
Anak lelaki itu pergi walaupun sambil menggerutu, sang ibu meneruskan kembali pekerjaannya. Ketika Collin mencari di halaman belakang, ternyata ia tidak dapat menemukan adiknya. "Kemana perginya bocah itu." Sekitar 10 menit ia mencari, tetapi tidak juga menemukan adiknya. Disisi lain, sang ibu masih dengan pekerjaannya, ia belum menemukan masalah apa yang menyebabkan blender nya tidak bekerja. Ia hati hati sekali, karena tangannya sangat dekat dengan mata pisau yang tajam. Sekali saja ia lalai, tangannya akan sangat mudah tergores.
Sang ibu sangat serius dengan pekerjaannya, tanpa ia sadari anak lelakinya yang berumur 5 tahun masuk ke dalam dapur. Ia berjalan sangat pelan, hingga tak menimbulkan suara sama sekali. Sedangkan Collin masih berada di halaman belakang, ia baru saja memutuskan untuk kembali ke dapur dan memberitahukan kepada ibunya bahwa ia tidak menemukan adiknya.
Anak lelaki berumur 5 tahun itu tersenyum melihat ibunya yang sedang sibuk, tetapi kemudian beberapa ruas kabel di lantai menarik perhatiannya. Ia menghampiri kabel-kabel itu, dan duduk diantaranya. Sepertinya ia sangat tertarik dengan gulungan kabel itu, tepat di hadapannya ada sebuah saklar tergeletak. Anak itu menggenggam sebuah kabel, dan terus saja menatap saklarnya. Lalu anak itu tersenyum seraya mencondongkan tubuhnya ke arah saklar, ia mengangkat tangannya dan mulai memasukkan pangkal kabel yang ia pegang ke dalam saklar. Ketika itu juga Collin masuk ke dalam dapur dan melihatnya, ia berteriak. Tetapi terlambat, anak laki-laki itu sudah memasukkan pangkal kabel itu ke dalam saklar.
Seketika listrik mengalir dari saklar menuju kabel blender yang sedang diperbaiki oleh sang ibu. Tangan si ibu pun langsung tergiling oleh mata pisau yang tajam. Si ibu berteriak sangat keras, darah terciprat ke seluruh ruangan. Darah segar pun mengalir dari pergelangan tangannya, lalu blender itu pun jatuh jatuh ke lantai dan mata pisau pada blender itu tidak terpasang dengan kuat sehingga mata pisau itu melayang dengan kecepatan tinggi. Hingga akhirnya mata pisau itu mendarat tepat di pertengahan leher si ibu, mata pisau itu menancap hingga menembus leher sang ibu. Berputar putar di rongga leher, menghancurkan batang tenggorokan. Si ibu pun terkulai lemas dan akhirnya tak bernyawa dengan tenggorokan yang terkoyak oleh mata pisau blender tersebut. Collin pun menangis histeris melihat ibunya yang meninggal dengan luka menganga di lehernya dan darah yang terus mengucur deras. Dari balik meja itu terlihat adik Collin mengintip sambil tersenyum ceria melihat kematian ibunya.