Aku seorang gadis biasa, tidak memiliki bakat yang bisa dipamerkan, tidak memiliki paras yang cantik, dan tidak memiliki banyak teman.
Pendiam, sudah menjadi sifat yang melekat dalam diriku. Tapi dibalik semua itu aku menyimpan perasaan yang tak wajar. Perasaan yang tidak seharusnya ada. Perasaan suka kepada sepupu sendiri.
Terkadang aku berpikir, perasaan yang aku pendam ini. Sekedar suka atau benar-benar cinta. Jika suka, rasanya tidak mungkin selama ini. 6 tahun aku menyimpan perasaan terlarang ini sendirian.
Agra Prafza, seorang lelaki yang sudah menarik perhatianku. Dia lelaki penyuka kopi susu. Mau itu minuman ataupun permen. Lelaki yang sangat terkenal dikalangan warga sekolah, karena gelarnya sebagai Kapten Basket, dan juga sifatnya yang dingin kepada semua orang.
Dia tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan, bukan berarti dia penyuka sesama jenis. Ia normal, hanya saja dengan kriterianya membuat ia menjadi lelaki yang begitu pemilih.
------------------------------------
Di depan cermin panjang yang menggantung pada tembok kamar. Aku tersenyum dengan hati yang berdebar. Lagi-lagi ku pegang bandana pemberian Agra kemarin malam. Ia membelinya saat kami pergi ke pasar malam. Begitu manis bukan, tapi jangan salah. Aku memaksanya, bukan karena ia yang ingin membelikanku bandana pink polos ini.
"Agra, aku mau bandana ini. Kamu yang belikan ya?" ucapku dengan sedikit paksaan.
Ia memandang bandana dan aku bergantian, membuat jantung ku kembali berdetak dengan cepat. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk. Spontan aku memeluk Agra. Tapi hanya bertahan beberapa detik, Agra langsung melepas pelukan ku.
Setelah ia membayar bandana tadi, Agra mengajakku untuk pulang. "Pulang, udah malam, besok sekolah," ucapnya dengan suara datar kepadaku. Aku sudah terbiasa dengan suara datarnya itu. Biarpun nada yang ia ucapkan datar, tapi tersirat perhatian di sana.
Tidak berhenti aku tersenyum, saat mengingat peristiwa kemarin malam. Jika ada yang orang memperhatikan ku. Mungkin mereka berpikir aku sudah tidak waras, bagaimana tidak. Aku memakai bandana dengan rambut yang masih awut-awutan. Faktor belum mandi pagi.
Setelah selesai, dengan banda dan cermin. Aku masuk ke dalam kamar mandi bersiap untuk berangkat sekolah.
------------------------------------
Jam pelajaran biologi berlangsung dengan cepat, pergantian mata pelajaran selanjutnya. Tapi sudah 1 jam aku menunggu guru pemilik mata pelajaran kimia. Rasanya tidak mungkin jika Ibu Meli tidak mengajar kimia kali ini. Pasalnya beliau terkenal dengan sifat yang disiplin pada mata pelajaran.
"Pengumuman untuk kelas X IPA 1. Bahwa Ibu Meli tidak dapat mengajar, karena anak beliau sedang sakit." Suara cepreng
ketua kelas menyadarkan
lamunanku, dan sesaat kemudian terdengan riuh suara teman-temanku.
" Diam! Belum kelar wahai penghuni kelas. Ketua kelas akan kembali menyampaikan berita kedua. Beritanya adalah, setelah pelajaran Bu Meli ini berakhir. Akan ada pertandingan dadakan dari kelompok Basket Cakrae dan kelompok Basket Ahai."
Mataku membesar, saat mendengar ada pertandingan basket. Bukan karena pertandingan yang dadakan. Melainkan ketua dari kelompok Cakrae adalah Agra. Berarti ia akan bertanding kembali, setelah kekalahannya beberapa minggu yang lalu.
------------------------------------
Tidak seperti minggu yang lalu, aku duduk di belakang. Kali ini aku duduk di depan untuk menyaksikan Agra tanding.
Setengah jam kemudian Agra muncul bersama anggota kelompoknya. Dengan pakain baju yang mengkilap tanpa lengan, membuat ia menjadi sorotan perhatian kaum wanita yang memandangnya.
Pertandingan dimulai, semua orang begitu serius memandang para pemain. Berbagai sorakan yang riuh, ikut adil dalam meramaikan pertandingan kali ini.
Aku hanya diam menyaksikan, tidak ada kata-kata yang bisa aku ucapkan. Diam sudah mewakili semua perasaan antusias ku melihat Arga dalam pertandingan siang ini.
----------------------------------------
Buliran keringat yang jatuh pada bagian pelipis Arga, menjadi bukti nyata perjuangan ia pada pertandingan kali ini tidak sia-sia. Benar kata orang, kunci kesuksesan terletak pada seberapa keras usaha kita. Dan Arga membuktikan kata tersebut, dengan menjadi pemenang dalam pertandingan basket kali ini.
Setelah pertandingan selesai dan semua orang sudah banyak ingin meninggalkan tempat duduknya masing-masing, para perempuan berjalan dengan tergesa-gesa membawa sebotol minuman dingin, untuk diberikan kepada pemain basket, atau mungkin orang yang mereka sayang.
Aku masih duduk dengan sebotol minuman kopi susu ditangan ku. Sebenarnya aku ingin melangkah menuju Arga. Tapi aku juga tidak ingin berdesakan dengan para perempuan yang lain. Jika aku memaksa, mungkin badanku akan terpental atau jatuh. Beginilah nasib
Memiliki badan kecil dan pendek sepertiku.
Arga memecah kerumunan dan berjalan menuju ke arah ku. Seketika jantungku berdegum kencang, tanganku kebas memegang botol kopi susu. Senyuman kembali terbit pada wajahku yang sudah memerah. Aku berdiri menghapiri Arga.
Saat Arga hampir sampai dihadapanku. Aku mengulurkan tangan yang memegang boto kopi susu, kesukaannya. Saat ia sudah berdiri dihadapanku, Arga tidak mengambil botol itu. Melainkan ia tepis badanku. Dan Arga kembali berjalan ke arah kursi yang sebelumnya tempat aku duduk.
Aku membalikkan badan. Dan Saat itu netraku menangkap Arga berdiri dihadapan gadis yang sebelumnya duduk bersampingan denganku.
"Aku ingin memberikan pengumuman!" ucap Arga dengan suara tegasnya, memecah riuh suara semua orang di lapangan.
"Aku dan Lindya resmi menjalin hubungan pada hari ini." Sebait kalimat yang membutku mati rasa. Botol kopi susu yang sebelumnya aku pegang, saat ini bergelinding entah kemana.
Mataku memanas menyaksikan Arga dan Lindya berpelukan di hadapanku. Tanganku memeras baju sekolah, untuk meredam gejolak sakit dibagian dada.
"Eh, si Chika kenapa diem gitu. Seharusnya senangkan, akhirnya pacaran. Berarti Arga Normal, ya nggak sih?"
"Tau, nggak usah dipeduliin dia. Chika mah emang gitu, pendiem. Masa nih yah, pas gue tanya barang kesukaan Arga itu apa, lah Chika jawab nggak tau. Kan mereka sepupu. Nggak mungkin nggak tau kan."
Perbincangan teman sekelasku menyadarkan aku. Bahwa memang perasaanku ini salah, tidak sepantasnya aku menyukai sepupuku sendiri. Ada tembok batas yang tercipta antara kami. Tembol batas yang tidak akan runtuh walau diterjang badai.
Aku berjalan menjauh dari lapangan basket, berjalan tanpa arah. Beberapa detik kemudian hujan datang mewakili perasaanku saat ini.
Aku terus menerobos hujan, walaupun saat ini badanku sudah basah kuyup. Aku seperti mati rasa. Aku hancur karena perasaan sendiri. Air mata yang sudah aku keluarkan menjadi bukti aku telah jatuh dilubang sakit yang bernama patah hati.