Namaku adalah Arsi, usiaku 19 tahun satu bulan yang lalu dan aku telah menikah satu minggu yang lalu juga. Aku menikah dengan seorang pria yang begitu sangat lembut dan juga sangat humoris kala awal pertemuan ku dengannya.
Pernikahan kami begitu cepat, bahkan jarak dari awal pertemuan kami pun tak sampai satu bulan, Sebut saja namanya Adi.
Awal rumah tangga yang kami jalani biasa saja, tak ada apapun yang mengganjal dari nya dari pandangan ku. Adi terlihat sangat sayang padaku dan juga sangat menghargai ku hingga kebahagiaan dan rasa cinta di hatiku mulai tumbuh untuk nya.
Namun semua itu tak berlangsung lama. Adi yang aku kenal sebelum nya berubah begitu saja kelembutan nya telah hilang kasih sayang nya telah musnah.
Hingga suatu saat dia marah hanya karena aku terlambat menyajikan makan siang untuk nya, itulah awal aku mengetahui seorang Adi yang sesungguhnya, Adi yang memiliki watak keras dan tempramental berbanding terbalik dengan Adi yang lembut dan penuh kasih.
Brakk.....
Aku terjengkit kaget saat Adi menggebrak meja dan menatap ku dengan mata tajam.
" aku sudah sangat lapar! apakah kamu tidak bisa melakukan pekerjaan mu dengan baik, Hahh!! " ucapnya kasar.
Aku yang tak terbiasa mendapatkan kata-kata kasar dari siapapun langsung ketakutan, tubuhku gemeteran dan mataku mulai berkaca-kaca dan wajahku menunduk tak berani menatapnya.
" kenapa diam, apa kamu juga tak bisa bicara! " ucapnya semakin tinggi.
" A-aku..." jawab ku dengan sangat takut namun Adi tak membiarkan ku berkata lebih panjang lagi karena dia sudah kembali berkata kasar padaku.
" aku aku!! aku apa?! kamu mau bilang kalau kamu tidak bisa melakukan nya dengan baik, iya kan! " ucap Adi lagi.
Air mata ku tak dapat aku tahan, semua keluar dari pinggir mataku dengan sangat deras.
Aku cepat menoleh saat ada sebuah tangan yang merangkul ku, mengelus bahuku dan berusaha menguatkan ku.
" Bu.. " air mata ku semakin deras saat melihat ibu mertuaku yang telah merangkul ku dengan hangat selayaknya seorang ibu kandung ku.
" Adi! kamu jangan keterlaluan seperti itu, Arsi adalah istrimu! tak sepantasnya kamu melakukan itu padanya!! " sarkas Ibu mertuaku memarahi Adi anaknya sendiri dan lebih memilih ku.
Hatiku menghangat dengan apa yang Ibu mertuaku katakan, aku jauh dari Ibu kandung ku dan mendapatkan Ibu mertua yang sangat menyayangi ku selayaknya Ibuku sendiri.
Namun kehangatan itu tak berlangsung lama di hatiku. Buat apa aku mempunyai mertua yang begitu baik dan sayang padaku sedangkan suamiku sendiri tidak ada rasa empati terhadap ku.
Aku pun kembali menangis tersedu-sedu.
" sudahlah, Arsi. " ucapnya lagi menenangkan ku.
Ibu mertua ku menatap Adi dengan memelas berharap anaknya bisa memperlakukan ku dengan baik sesuai dengan janji nya yang dulu dia ucapkan sebelum menikahi ku, dan kembali penuh kasih sayang seperti dulu.
" Jangan lagi, Adi. Kamu salah jika seperti ini. dia istri mu yang harus kamu beri kasih sayang, dan kamu juga harus menghargai nya selayaknya kamu menghargai orang tuamu. Jangan buat kesalahan Adi" tegur mertua ku.
Namun kata-kata dari mertuaku tak berpengaruh sama sekali bagi Adi, dia tetap saja keras kepala.
" Ini bukan salah ku, Bu! tapi salah takdir yang telah menyatukan ku dengannya! " teriak Adi keras.
Nafas ku seakan mau berhenti kala itu, Adi ku telah berubah menghancurkan ku dan kepercayaan ku.
Hatiku yang penuh dengan kebahagiaan yang ia berikan saat awal bertemu hingga pernikahan kini telah dia hancurkan lagi dengan kata-kata nya yang kasar.
" Adi" gumam ku lirih hingga tak mampu di dengar oleh mertuaku yang ada di sisiku.
Tubuhku luruh Perlahan-lahan sehingga membuat ku terduduk lemas di lantai yang hanya beralaskan tikar berwarna merah di ruang tengah.
Mataku semakin tak bisa menguasai air bening yang terus memaksa keluar hingga akhirnya terus merembes dan membasahi semua pipiku yang polos tanpa alas make up sama sekali.
Hatiku sakit, hatiku terluka begitu dalam namun tak mengeluarkan sedikitpun darah dari sana.
" ini bukan salah takdir " ricau ku.
Ingin rasanya aku berlari dan pergi dari sana meninggalkan Adi dan mengakhiri semua hubungan yang awalnya manis ini.
Tapi itu bukanlah prinsip ku...
Aku bertahan dan mencoba menerima Adi yang sesungguhnya, meskipun berat tapi itulah takdir ku. Aku tak bisa menyalahkan Adi, Aku, siapapun ataupun takdir yang seperti Adi katakan.
Sejak awal penyatuan ku dengan Adi itulah yang menjadikan ku miliknya seutuhnya begitu juga sebaliknya.
" Adi... berubah lah seperti dulu lagi. Jadilah Adi ku yang pertama kali aku kenal dan aku lihat dari kedua bola mataku.. " Harap ku...
_____________________🙏🙏🙏______________________
🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧🤧