"Euhh.."
Kedua mata Luwei terbuka perlahan. Terik matahari menyilaukan pandangannya. "Dimana aku? Apa aku sudah ada di akhirat??" batinnya menatap langit yang sangat cerah di atasnya itu.
"Tapi.. kenapa aku masih bisa merasakan sakit? Bukankah jika kita telah mati, kita tak akan lagi merasakan sakit?" Luwei melirik tempat sekitarnya.
"Kayu?" ia baru menyadari jika dirinya berada di atas tumpukan kayu.
Suara bising terdengar di telinganya.
Gongg...!
Suara gong yang dipukul.
"Apa ini?? Apakah akhirat memang seperti ini?!" batinnya lagi kebingungan. Ia masih terbaring di atas tumpukan kayu, hingga akhirnya ia merasakan hawa di sekitarnya semakin panas.
"A-api?! Apakah aku akan dibakar?!!" kedua matanya melotot saat melihat sekitarnya telah terbakar. Sekuat tenaga ia mencoba bangkit.
"Tolong!!" teriaknya sambil berdiri menjauh dari api yang siap membakarnya.
Sontak semua orang yang melihatnya langsung terbelalak. "Ha.. hantuu!!" teriak orang-orang dan lari terbirit-birit.
Membuat Luwei ikut kebingungan. "Tolong aku!!" teriaknya lagi.
Namun tak ada yang mendengarkannya, mereka malah sibuk berlarian ketakutan. Di tengah riuhnya orang-orang yang berlarian, ada satu pria yang menatap tak percaya pada Luwei.
"Padamkan apinya, CEPAT!!" titah pria tersebut pada pengawalnya.
Sontak para pengawal langsung berlarian memadamkan api yang hampir membakar Luwei.
Beberapa saat kemudian, api telah padam. "Fyuhh.." Luwei akhirnya bisa bernapas lega. Namun kini dirinya bingung, bagaimana caranya untuk turun dari tumpukan kayu yang cukup tinggi itu.
Pria tadi melangkah ke arahnya. Mengulurkan tangan kanannya kepada Luwei. Luwei pun menerima uluran tangan tersebut, dan berhasil turun dari tumpukan kayu.
"Terima ka-" belum selesai Luwei berterima kasih, tiba-tiba pria tadi langsung memeluk dirinya erat.
"Apa yang kau lakukan?!!" sontak Luwei langsung mendorong tubuh pria itu.
"Aku senang kau kembali.. Aku sangat merindukanmu.." ujar pria tersebut kembali memeluk Luwei.
Kali ini Luwei tak berkutik. "Apa maksud nya? Merindukanku? Aku bahkan tak mengenal pria ini?" pikir Luwei kembali bingung.
"Tunggu tunggu.." Luwei melihat sekelilingnya. Bangunan kuno, juga orang-orang yang berpakaian kuno. Ia beralih menatap pria di depannya itu. Pakaian kerajaan?
Begitupun dengan dirinya. Ia memakai pakaian yang bahkan belum pernah ia pakai sebelumnya. Kedua matanya seketika membulat.
"Tempat apa ini?!!" ucapnya penuh tanya pada pria di hadapannya.
Pria itu tampak terkejut. "Tentu saja ini adalah rumahmu.. Kerajaan Xing!" jawab pria itu.
"Apaa!?! Ke-rajaan Xing?!!" seru Luwei tak percaya.
Brukk...
Seketika Luwei jatuh pingsan. "Xia!!" seru sang pria menepuk pelan pipi Luwei.
"Panggil tabib sekarang juga!! Cepat!!" titah pria tadi, dan langsung membopong Xia ke kediamannya.
-----Kediaman Selir Xia-----
Beberapa jam kemudian, Luwei terbangun. Ia menatap pria tadi yang saat ini tertidur di tepi ranjang. Ditatapnya wajah pria itu.
"Jadi pria ini adalah seorang Raja? Dan saat ini aku berada dalam tubuh selirnya yang telah mati?" lirih nya menyimpulkan mimpi yang ia dapat tadi.
Dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita memakai pakaian kerajaan. Wanita itu sangat cantik, bahkan lebih cantik dari dirinya. Ya,, wanita itu adalah Selir Xia yang asli. Selir Xia bercerita, bahwa dirinya telah dibunuh oleh Permaisuri. Permaisuri merasa iri pada dirinya karena Raja lebih mencintainya ketimbang Permaisuri. Hingga akhirnya, Permaisuri memerintah beberapa pembunuh bayaran untuk membunuh Selir Xia. Selir Xia juga meminta tolong pada Luwei, agar ia mau menjaga Raja dan mengungkap kebusukan Permaisuri.
"Permaisuri telah datang..!!" seru seorang pengawal dari luar sana.
Mendengar itu, Luwei langsung berpura-pura tidur. Pintu pun terbuka. Menampilkan sosok wanita dengan pakaian mewahnya.
"Hamba menghadap Yang Mulia.." ucap Permaisuri berhasil membangunkan Raja Xing.
"Ada apa sampai kau datang kemari Permaisuri??" tanya Raja.
"Yang Mulia, bukankah sebaiknya Anda tidak berada disini?" tegur Permaisuri Fang to the point.
Mendengar pembicaraan mereka berdua, Luwei membuka matanya. Menatap Raja dan Permaisuri bergantian. "Pergilah Yang Mulia.. Hamba takut, jika ada yang melihat Yang Mulia berlama-lama disini, akan timbul rumor buruk tentang Anda.." ujar Luwei lembut.
Raja pun menuruti ucapan Luwei, ia pun keluar dari kediaman Selir Xia. Melihat sikap Raja yang menurut pada Selir Xia, membuat Permaisuri semakin geram.
"Tak kusangka kau akan hidup lagi! Seharusnya kau mati saja,, dasar jal*ng!!" sinis Permaisuri Fang.
Luwei langsung menatap sinis Permaisuri Fang. "Heh..! Apa kau iri kepadaku? Karena Raja lebih menyukai selirnya dibanding permaisurinya sendiri?" Luwei terkekeh.
"Apa kau bilang!!" tangan kanan Permaisuri Fang sudah terangkat, hendak menampar Luwei.
Namun Luwei tak tinggal diam, ia langsung mencekal tangan Permaisuri. Membuat Permaisuri merasa kesakitan sekaligus kesal.
"Kau pikir aku akan diam saja?! Mulai sekarang jangan pernah mengusikku!" Luwei menghempaskan tangan Permaisuri.
Dengan perasaan kesal Permaisuri pun keluar dari kediaman Selir Xia.
"Mau kuberi saran..?" ucapan Luwei berhasil menghentikan langkah Permaisuri. "Jangan pernah membangunkan kucing tidur," sinis Luwei membuat Permaisuri makin kesal.
.
.
Hari-hari Luwei lalui meski dirinya berada di dalam tubuh Selir Xia. Ia pun mulai terbiasa dengan panggilan barunya, yakni Selir Xia. Sikapnya yang memang jauh berbeda dengan sikap Selir Xia yang asli, membuat orang-orang merasa janggal.
Seperti hari ini. Selir Xia yang biasanya tak pernah memakai riasan, saat ini ia justru memakai riasan. Meskipun riasannya hanya natural, namun hal itu membuat perbedaan yang sangat luar biasa. Parasnya semakin mempesona. Ditambah dengan pakaian yang ia kenakan, membuatnya tampak seperti permaisuri yang sesungguhnya.
Hal ini tentu membuat Permaisuri Fang semakin geram. Ia pun kembali berniat untuk melenyapkan Selir Xia. Ia pun sengaja mengundang Selir Xia untuk minum teh bersama. Selir Xia pun menyetujui hal tersebut.
Hari mulai senja. Selir Xia segera menuju ke kediaman Permaisuri Fang.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk...!" seru Permaisuri Fang dari dalam sana.
Tanpa menunggu lama, Selir Xia langsung masuk. Tak lupa ia membungkukkan tubuhnya, memberikan penghormatan pada Permaisuri Fang.
"Duduklah.." titah Permaisuri Fang.
Selir Xia pun langsung duduk di hadapan Permaisuri Fang.
"Terima kasih karena kau mau datang ke jamuanku. Aku sengaja mengundangmu, agar kita bisa memperbaiki hubungan kita.." ucap Permaisuri Fang dengan wajah ramahnya.
Ia pun menuangkan teh ke dalam cangkir untuk dirinya dan Selir Xia.
Selir Xia tersenyum tipis. "Tentu.. Aku senang kau mengundangku. Tapi.. Apa kau menaruh sesuatu pada minumanku??"
Mendengar pertanyaan Selir Xia, seketika teh yang sedang Permaisuri tuangkan ke dalam cangkir tumpah. Wajahnya langsung berubah pias. "A-apa maksudmu?? Tentu saja tidak!!" bantah Permaisuri Fang.
"Benarkah?? Baiklah,, maafkan hamba karena telah berkata yang tidak-tidak, Yang Mulia.." Selir Xia langsung membungkuk meminta maaf.
"Lupakan saja.. Kalau begitu, mari minum tehnya.." ucap Permaisuri Fang. Baru saja ia hendak minum, tiba-tiba pintu kembali diketuk.
Tok.. tok.. tok..
"Yang Mulia Raja telah tiba..!!" teriak pengawal diluar sana. Hal ini membuat Permaisuri Fang kembali pias.
"Yang.. Mulia..??" lirihnya langsung menatap Selir Xia. Tampak senyuman sinis terbit di wajah Selir Xia.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Raja yang sangat mereka junjungi itu. Selir Xia langsung menunduk hormat.
"Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia.." ucapnya.
Melihat itu, Permaisuri Fang pun melakukan hal yang sama. "Hormat Permaisuri kepada Yang Mulia.." ucapnya berusaha tetap tenang.
Raja pun langsung duduk di antara Permaisuri Fang dan Selir Xia. "Kudengar kau mengadakan acara minum teh, jadi aku datang kemari.." ucapnya.
"Ya, Yang Mulia.. Hamba mengundang Selir Xia untuk jamuan teh.. Tapi hamba tak menyangka, jika Yang Mulia Raja akan datang.." balas Permaisuri Fang tersenyum. "Sial! Dia pasti yang telah memberitahu Raja..!" batin Permaisuri Fang, melirik Selir Xia.
"Ya.. Karena aku ingin melihat istri-istriku jika sedang akur.. Kalau begitu, tunggu apa lagi??" ujar Raja.
Dengan anggun, Selir Xia menuangkan teh untuk Raja.
Mereka bertiga pun meminum teh mereka masing-masing dengan tenang.
Wajah Permaisuri Fang tampak cemas sejak kedatangan Raja. Ia terus memperhatikan Selir Xia yang tengah meminum tehnya.
Prangg!!
Cangkir yang ada di tangan Selir Xia terjatuh. Seketika Selir Xia terbatuk-batuk. Dari sudut bibirnya, keluar cairan berwarna merah pekat.
"Xia!!" teriak Raja langsung memangku kepala Selir Xia. "Apa yang terjadi?!" sambungnya menatap Permaisuri Fang. Tatapannya pun beralih pada cangkir yang tadi digunakan oleh Selir Xia.
"Cuih! Racun??!" Raja langsung meludahkan teh yang ia cicipi dari cangkir Selir Xia.
"Ham-hamba tidak tahu, Yang Mulia!! Bukan hamba yang meracuninya!!!" dengan bodohnya, Permaisuri malah mengakui kejahatannya. Seketika matanya membulat saat menyadari apa yang barusan ia katakan.
"KAU MERACUNINYA?! Beraninya KAU!!" marah Raja.
Permaisuri langsung berlutut di hadapan Raja. "Tidak Yang Mulia! Bukan saya yang meracuninya!!" elak Permaisuri ketakutan.
"PENGAWAL!!" seru Raja memanggil para pengawal. Dalam sekejap para pengawal kini sudah ada disana.
"Tangkap Permaisuri!! Dan panggilkan tabib kerajaan!! CEPAT!!" titahnya tegas.
"Baik Yang Mulia..!" para pengawal itupun langsung menangkap Permaisuri Fang, meskipun Permaisuri Fang terus memberontak.
.
.
"Bagaimana keadaannya? Apa dia akan baik-baik saja??" tanya Raja kepada tabib yang baru saja memeriksa Selir Xia.
"Beliau baik-baik saja Yang Mulia.. Tapi..." tabib itu terdiam, bingung apakah harus jujur atau tidak.
"Tapi apa? Katakan padaku!" tegas Raja.
"Emm.. Di dalam tubuh Selir Xia tidak terdapat racun sedikit pun! Dan sepertinya, darah yang tadi keluar dari mulutnya adalah karena ia menggigit bibirnya sendiri.." jawab sang tabib ragu.
"Apa maksudmu?! Jelas-jelas tadi aku melihat ia meminum teh dengan cangkir beracun itu!!" seru Raja membuat tabib ketakutan.
"HENTIKAN!" tiba-tiba saja Selir Xia terbangun dari pingsannya. Membuat tabib dan Raja terkejut. "Kau keluarlah..!" perintahnya kepada tabib itu.
Tinggallah Selir Xia dan Raja dalam ruangan itu.
"Xia.. Kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Raja cemas.
"Kau mengetahuinya bukan??" Selir Xia menatap curiga pada Raja.
Seketika Raja terdiam. Menatap kedua mata Selir Xia. "Ya.. aku mengetahuinya. Xia tak pernah berbohong kepadaku, apalagi sampai berpura-pura meminum racun.. Lalu siapa kau sebenarnya..?" wajah Raja berubah serius.
"Waw.. Bagaimana kau bisa tau jika aku tak meminum racun itu?" balas Selir Xia tersenyum.
"Kau lihat, pakaianmu basah.. Bukankah itu karena kau menuangkan teh itu pada pakaianmu, alih-alih meminum teh itu??" tebak Raja.
"Ternyata kau sangat pandai Yang Mulia.. Lalu, apa kau juga tahu aku ini bukanlah selirmu itu?" Selir Xia kembali bertanya.
Raja mengangguk. "Jika kau bukan Xia, lalu dimana dia sekarang??"
"Tentu saja dia telah mati karena ulah Permaisuri mu itu..!" sinis Selir Xia.
Raja terdiam. Tentu saja selama ini ia tahu tentang kebusukan Permaisuri Fang. Namun ia hanya diam, mengingat keluarga Fang sangat berpengaruh pada kerajaannya ini.
Raja langsung memeluk Selir Xia. Saat Selir Xia ingin mendorong Raja, namun hal itu ia urungkan saat mendengar penuturan Raja.
"Bisakah kau tetap menemaniku?? Aku tau kau bukanlah Xia yang dulu,, tapi aku terlanjur mencintaimu..
Walau di dalam tubuhmu ini terdapat jiwa yang berbeda, tetapi aku tetap akan menjadikanmu milikku seutuhnya.."
*
*
*
***The End***
(Halo guyss.. jangan lupa untuk like juga beri komen yahh... Ayo dukung author agar bisa jadi lebih baik lagi dan tambah semangatt🤗🤗)
Love You😘