Kepada Tuan yang saat ini sudah pergi...
Aku tak tahu lagi bagaimana kabarmu saat ini. Sungguh, menahan diri dari bertegur sapa denganmu tak kukira akan seberat ini. Namun demi diriku sendiri, aku harus kuat menahan ingin apapun yang berhubungan denganmu. Mungkin kau tak pernah merasakannya. Aku tak peduli. Bukan waktuku lagi untuk berpikir sejauh itu saat ini. Tapi dalam tulisan kali ini, biarlah aku singkirkan semua pertahananku untuk tak menulis lain tentangmu. Karena kali ini semoga benar yang terakhir kali, aku ingin merasa lega karena berhasil menulis apa yang hatiku rasa.
Tuan, bagaimana kabarmu? Dengan atau tanpa adanya aku. Aku yakin kau akan baik-baik saja, karena di sana mungkin telah ada dia. Tuan, bagaiman dengan kebiasaan-kebiasaan burukmu. Aku mungkin begitu bodoh karena sampai detik ini, aku masih mengkhawatirkanmu. Hal yang seharusnya tak perlu lagi aku lakukan. Ya, semuanya sudah berganti dengan doa saja pada Tuhan.
Tuan, aku mungkin bukan yang terbaik untukmu; kau pun mungkin bukan yang terbaik untukku; dan kita sudah pasti bukan yang dijodohkan, ya? Betapa sakit menulis sebuah kalimat ini. Karena dalam mimpi pun, masih selalu kau yang kuharapkan menjadi pendampingku, juga menjadi ayah dari anak-anakku. Tuan, mungkin ini benar akan menjadi surat terakhir untukmu. Karena hatiku butuh jeda, untuk sembuh dan hidup lagi seperti sedia kala. Sedihku, sedihmu, biarlah disembuhkan waktu. Karena sebelum ini, kita pernah sama-sama bahagia sebelum Tuhan mempertemukan kita.
Aku tahu, sebuah kalimat “Aku akan bahagia bila kau bahagia” adalah klise. Karena nyatanya, mungkin bahagiaku adalah bahagia berbalur sedikit nyeri dalam hati saat kutahu kau sudah bersama yang lain. Namun percayalah, aku tetap ingin kau bahagia. Tapi kali ini, menghilanglah sejenak dari hidupku. Sejenak saja. Lalu berbahagialah nanti dengan caramu. Ingatlah aku sebagai perempuan yang pernah begitu dalam mencintaimu. Walau saat ini aku sudah tak ada dalam pelukmu.
Karya TIA SETIAWATI
Source: https://www.youtube.com/c/rhialestari